Setiap kita pasti mempunyai orang tua. Baik yang masih hidup maupun yang telah berada di alam baka. Melalui perantara mereka, Allah SWT menghadirkan kita ke dunia. Keduanya merupakan orang yang paling berjasa membesarkan, merawat dan mendidik kita. Maka tak heran jika Allah menempatkan orang tua dalam posisi yang mulia. Banyak ayat Al Qur’an yang berisi tentang perintah untuk berbakti pada orang tua. Bahkan berkata ”ah” (membentak) saja sudah di kecam oleh Al Qur’an.Begitu juga dengan Rasulullah SAW. Dalam beberapa haditsnya beliau juga memerintahkan umatnya agar berbakti kepada orang tua, sampai-sampai Allah menggantungkan ridha dan murka-Nya pada mereka. Bila orang tua ridha, Allah pun ridha, sebaliknya bila orang tua murka, Allah juga murka.Kisah-kisah tentang ridha dan murka orang tua juga sering kita dengarkan. Mulai dari cerita rakyat Malin Kundang, kedurhakaan Kan’an putra Nabi Nuh AS, pemuda taat di masa Nabi Sulaiman AS, sampai kisah Alqamah di masa Rasulullah SAW. Semuanya membuktikan, betapa Allah SWT memberi kedudukan istimewa bagi kedua orang tua. Adapun adab-adab berbakti kepada kedua orang tua antara lain:1. Mendengarkan perkataan mereka dan tidak memutus perkataan ketika mereka berbicara.
2. Berdiri menyambut keduanya ketika mereka berdiri demi menghormati dan memelihara kehormatan mereka.
3. Mematuhi perintahnya selama perintah itu bukan dalam mendurhakai Allah.
4. Tidak berjalan di depan keduanya, tetapi di samping atau belakangnya. Jika ia berjalan di depan kedua orang karena suatu hal, maka tidaklah mengapa ketika itu.
5. Tidak mengeraskan suara kita melebihi suara kedua orang tua demi sopan santun terhadap mereka.
6. Menjawab panggilan mereka dengan jawaban yang lunak.
7. Berusahalah keras mencari keridhaan kedua orang tua dengan perbuatan dan perkataan.
8. Bersikaplah rendah hati dan lemah lembut kepada orang tua seperti melayani mereka. Menyuapi makan dengan tangan kita bila keduanya tidak mampu dan mengutamakan keduanya di atas diri dan anak-anak kita.
9. tidak mengungkit-ungkit kebaikan kita kepada keduanya maupun pelaksanaan perintah yang kita lakukan untuk mereka. Seperti mengatakan ”Aku beri engkau sekian dan sekian dan aku lakukan begini kepada kamu berdua.” Karena perbuatan itu bisa mematahkan hati. Ada yang mengatakan, menyebut-nyebut kebaikan itu memutuskan hubungan.
10. Jangan memandang kedua orang tua dengan pandangan sinis.
11. Janganlah bermuka cemberut kepada keduanya, dan jangan tertawa di depan mereka jika tidak ada sesuatu yang pantas ditertawakan.
12. Janganlah bepergian, kecuali dengan idzin keduanya, yaitu perjalanan untuk jihad, haji tathawwu’, menziarahi para Nabi dan wali serta perjalanan yang bisa mengancam keselamatan untuk berniaga. Maka perjalanan macam itu diharamkan, bilamana tidak diizinkan oleh ayah dan ibu, meskipun diizinkan oleh yang lebih dekat darinya. Kecuali perjalanan untuk belajar ilmu yang fardhu, walaupun kifayah, seperti nahwu dan derajat pemberian fatwa. Maka tidaklah diharamkan, meskipun tidak diizinkan orang tua.
13. Mengajak mereka bermusyawarah di dalam setiap pekerjaan dan perkara.
14. Menghormati saudara dan sahabat-sahabat keduanya semasa mereka hidup dan setelah meninggal.
15. Mendoakan mereka, terutama setelah mereka meninggal, karena itu sangat bermanfaat bagi mereka, karena doa anak kepada orang tua akan menjadi pengampunan baginya.
16. Adakalanya seorang anak mempunyai orang tua yang kafir. Menghadapi mereka, maka anak harus tetap mempergauli dengan baik dalam hal-hal yang tidak berkaitan dengan agama selama ia masih hidup.
Bila seorang anak menerapkan adab-adab tersebut dengan sebaik-baiknya, maka Allah akan membalas dengan setimpal. Baginya telah dipersiapkan dua surga di akhirat nanti. Di dunia pun ia akan selalu berlimpah kebaikan. Sebagaiama kisah yang terjadi di masa Nabi Sulaiman AS. Ketika beliau berjalan-jalan menuju sebuah pantai, tiba-tiba dari dasar laut muncul sebuah istana nan indah. Tak berapa lama, dari dalam istana tersebut muncul sosok pemuda tampan dengan pakaian serba indah pula. Nabi Sulaiman bertanya, gerangan apa yang telah dilakukan pemuda tersebut hingga ia memperoleh nikmat yang begitu melimpah? Si pemuda menuturkan bahwa apa yang diperolehnya adalah sebagai balasan atas bakti dan taatnya pada orang tua. Saat keduanya masih hidup, si pemuda taat dan berbakti kepada keduanya, dan setia merawat mereka saat keduanya menderita lumpuh dan buta, sampai keduanya wafat.Berbakti kepada orang tua juga lebih utama daripada berjihad (perang) di jalan Allah.Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdullah bin Umar RA.”Seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW: ‘Aku ingin berjihad.’ Nabi bertanya, ‘ Apakah engkau mempunyai dua orang tua?’ ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.”
Kewajiban untuk berbakti dan taat tidak hanya kepada orang tua biologis yang melahirkan kita saja. Lebih dari itu adalah berbakti dan taat kepada orang tua rohani, yaitu seorang ’Priyatun Agung’ yang menunjukkan kita jalan menuju wushul, sadar kepada Allah SWT wa Rasulihi SAW. (Maroqil ubudiyah, tarbiyah aulad)
Dalam memulai suatu perkara maka mulailah dengan menyebutka nama Allah SWT “BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIIM”, kemudian “ALHAMDULILLAH IROBBIL ‘ALAMIIN”… Dst. Pernyataan syukur kepada Allah SWT. Dia dalam Al Qur’an di mulai dengan “Bismillah” atau billah istilah Wahidiyah atau di sebut Tauhid. Sedang “Ar Rohmaanir rohiim” ini sifat “JAMAL” atau sifat kasih sayang, yang menunjukkan bahwa kasih sayangnya Allah lebih banyak dan tak terhitung. Ada sebuah dawuh:”RahmatKu mendahului amarahKu”.
Kasih sayang Allah SWT mendahului murkanya bahkan lebih menonjol. Ini dimaksudkan agar hamba-Nya atau manusia senantiasa mengharap kepada Allah SWT dan jangan sampai putus asa sebab Rahmat itu min ‘indillah. Baik itu Rahmat ni’matul ijad (Ni’mat di wujudkan) maupun ni’matul imdad (ni’mat dipelihara oleh Allah SWT).”Dan RahmatKu meliputi segala sesuatu.” (Al –‘Araf: 156)
Ghodob atau murkanya Allah SWT itu hanya sebagian dan kemurkaan Tuhan itu sebab dari hamba. Jadi Rahmat atau kasih sayang-Nya Allah itu lebih kuat dari pada Ghodob atau murka-Nya di samping itu sekalipun manusia berlarut-larut, kalau di banding dengan belas kasihan Tuhan, bukan bandingan. Jadi terkecam sekali jika manusia itu sampai berputus asa akan Rahmat Tuhan karena berlarut-larutnya. Oleh karena itu menurut Syekh Abdullah As Syarkowi penyarah kitab Al Hikam mengatakan bahwa kita sebagai manusia harus meningkatkan Tauhid dan ubudiyah kepada Allah SWT.Di dalam kitab Al Hikam yang di karang oleh Syekh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim terkenal dengan sebutan Ibnu ‘Ato’illah, As Sakandari. Beliau berguru kepada Syekh Abas Al Mursyi. Syekh Abdul Abbas Al Mursyi ini berguru kepada Syekh Abul Hasan As-Syadzali dan beliau ini muridnya Syekh Ibnu Abdus Salam Al Masyis. Beliau Syekh Ibnu ‘Atho’illah sebelum terjun dalam dunia tasawuf sudah menguasai bidang syariat. Maka disamping terus memperdalam bidang syari’at beliau terjun di bidang haqiqat atau tasawuf. Menurut kitab “At Toriqot Syafi’iyah, beliau wafat di Qohiron Mesir pada bulan Jumadil Akhir tahun 709 H, adapun tanggal kelahiranya tidak disebutkan.Dalam kitab tersebut dikatakan bahwa kata “HIKAM” merupakan jama’ dari kata “HIKMAH” yang artinya kata-kata berguna. Biasanya kata-kata hikmah itu singkat tegas dan luas. Kata HIKAM lebih terkenal dengan kata Mutiara. Disana disebutkan:Setengah dari pada tandanya menjagakan kepada amalnya, ibadah atau perbuatanya, usahanya yaitu turun harapan atau tipis harapan ketika menemui kemacetan atau kegagalan atau kenegatifan atau kesalahan baik itu disengaja atau tidak.
Orang yang menjagakan amalnya ketika mengalami atau menemui kesalahan didalam usaha atau ibadah lalu tipis harapan, pesimis, kecil hati. Tapi kalau mengalami keberhasilan atau kemajuan menjadi tambah atau besar harapan, besar hati atau optimis. Mereka menjagakan amal yang sifatnya jawarih seperti dzikir, sembahyang, puasa, dan lain-lain. Atau bahkan tidak hanya amal lahiriyah juga amal bathiniah. Sebenarnya amal batin bagi orang yang sudah bisa menggunakan itu lebih selamat. Adapun amal lahir seperti baca shalawat, dzikir atau mujahadah dan sebaginya atau amalan yang secara langsung berhubungan dengan Tuhan seperti sembahyang, baca Qur’an, dzikir dsb, juga amalan yang berhubungan dengan masyarakat seperti zakat, menolong orang lain, memberi sedekah, memberi petunjuk dsb semua itu jika tidak tepat atau salah lalu menjadi tipis harapan, mereka pesimis berhasil mendapat Ridha Allah SWT, atau kecil hati untuk selamat.Maka orang yang masih menjagakan amalnya mereka masih tebal nafsunya. Masih dikuasai nafsu lalu mengaku bisa berbuat begini bisa begitu, bisa beramal dan sebagainya. Sehingga menjagakan atau membanggakan kepada amalnya atau usahanya.Orang yang mempunyai kriteria demikian disebut ’UBAD yaitu orang-orang ahli ibadah lahir atau disebut muriiduun yaitu orang-orang yang menginginkan wushul atau sadar kepada Allah SWT. Jadi kalau ditegaskan bahwa Ubad atau Muriiduun mereka masih tipis harapan ketika menemui kesalahan atau kenegatifan, yaitu orang yang masih menjagakan amalnya, karena mereka belum sadar kepada Allah SWT.Untuk menuju sadar kepada Allah SWT ada beberapa golongan:1. ‘Ubad yaitu orang ahli ibadah. Yang diinginkan adalah syurga. Atau istilah lain ingin selamat dunia dan akhirat mendapatkan syurga yang tinggi yang megah dsb. dan terlepas dari siksa neraka.
2. Muriiduun dan salikuun. Yaitu orang yang menghendaki wushul atau sadar kepada Allah SWT. Muriiduun atau salikuun dalam satu hal sama tapi yang sebenarnya dimaksud “MURIIDUUN” yaitu orang yang baru melangkah atau akan melangkah.”SALIKUUN”, yaitu orang yang sudah melangkah atau sedang berjalan namun belum sampai. Jadi itu tadi kalau dua kata itu berjajar. Sedang kalau tidak berjajar atau terpisah yang dimaskud salikuun juga muriiduun.
Muriiduun masih menjagakan amalnya untuk wushul kepada Allah SWT, kalau saya mujahadah mempeng, giat pasti cepat mencapai wushul kepada Allah SWT atau sadar, itu fikiran mereka. Maka kedua kelompok ini baik muriiduun maupun salikuun didalam menjagakan amalnya itu terkecam sebab yaitu tadi masih mengaku, mengaku bisa beramal, bisa usaha, masih memandang kepada nafsunya atau pribadinya. Aku ada, aku bisa berbuat , bisa beramal, ini terkecam. Sebab bukankah sesungguhnya “LAHAULAA WALAAKUWWATA ILLA BILLAH”. Maka jika ia mengaku ada, bisa berbuat, beramal dsb maka terkecam.
3. Arifuun yaitu orang yang telah arif sadar kepada Allah SWT. Ia tidak menginginkan syurga atau takut neraka dalam melangkah beribadah karena Allah SWT (Lillah) ikhlas tanpa tendensi apa-apa dan tidak mengaku mampu beribadah, berbuat atau beramal sebab kemampuannya semua digerakkan oleh Allah SWT (Billah). Jadi dalam berbuat bukan karena nafsunya namun ”LAHAULAA WALAAKUWWATA ILLA BILLAH”.
Dengan demikian sebelum kita melangkah harus kita deder tatanan kesadaran ini, kita harus memakai dasar yang kukuh dan kuat. Ibarat bangunan pondasinya harus kuat. Bangunan yang pondasinya tidak kukuh pasti akan hancur. Bagitu juga amal perbuatan, kalau tidak ada pondasi kesadaran otomatis akan hancur tidak berguna, hancur menjatuhi kepada yang membangun, baik soal itu saja sudah berat lebih-lebih menjatuhi soal akhirat itu akan lebih berat lagi.Ini semua adalah soal Tauhid yang merupakan hal pokok dan penting sekali, kita harus Roja’ besar harapan atau optimis kepada Allah SWT. Didalam kita mujahadah, beramal apakah harapan kita stabil atau berubah-ubah, pasang surut. Bila kondisi kita pasang surut menurut keadaan kita berarti amal kita belum tepat dan mestinya harapan atau Roja’ kita hanya diarahkan kepada Allah SWT, jika diarahkan kepada amalnya, mujahadahnya, do’anya maka itu tidak tepat bahkan su’ul adab, salah alamat. Dengan demikian harus kita dirikan pandemen didalam hati sanubari kita yaitu pandemen tauhid yang sekokoh-kokohnya. Jangan sampai kita menjagakan kepada amal kita. Kalau kita rajin menjadi besar harapan sedang ketika kita malas (Glonjom) kemudian tipis harapan, itu namanya masih mempertuhankan kepada nafsu, kepada amalnya, kepada usahanya. Jadi kita harus memandang kepada Allah SWT. Sekalipun bagaimana giat kita, kita harus tetap takut kepada Allah SWT, sebab hanya Allah SWT yang wajib ditakuti, sekalipun bagaimanapun baiknya keadaan kita. Dan sekalipun bagaimana glonjom kita, kita harus tetap mengharap kepada Allah SWT. Kita mengharap kepada Allah SWT, sebab sifat Tuhan Maha Pemberi, Maha Pengampun, Maha Penyayang dsb. Dan pemberian Tuhan tidak digantungkan kepada keadaan atau usaha kita. Sebelum ada apa-apa Allah SWT sudah “WARAHMATII WASI’ AT KULLA SYAI’IN”. “Bismillahir Rohmaanir Rohiim”, sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan kita. Sekali lagi! Tidak terpengaruh. Maka bagaimana dengan Nabi Adam AS apakah itu salah semua? Misalnya, kita tidak boleh begitu, jangan tergesa-gesa menyalahkan suatu persoalan sebelum menguasai dengan sepenuhnya. Segala sesuatu yang bersangkutan dengan persoalan, kalau sudah menguasai suatu persoalan secara obyektif, secara menyeluruh, menguasai jumlah dan tafsilnya sampai menyeluruh, itu baru boleh menyalahkan.Bila kita glonjom, supaya mengecam dirinya sendiri. Tapi ketika kita baik keadaanya, maka ”FALNAHMADILLAH” kita harus memuji kepada Allah SWT dan syukur kepada Allah SWT. Kita harus berterima kasih kepada makhluk lain yang ada hubunganya baiknya keadaan kita baik soal moril maupun materiil. Tapi kalau buruk keadaan kita ”FALAA TALUMANNAILLAA ANFUUSANA”. Janganlah kita mengecam selain kepada diri kita sendiri. Dan didalam mengecam dirinya sendiri harus dijiwai LILLAH BILLAH istilah Wahidiyah. Itu semua harus senantiasa menjadi dasar dalam segala gerak-gerik kita itulah tunutnan Islam, tuntunan Rasulullah SAW. Bahkan tuntunan segala agama yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa. ”Untuk Tuhan dan sebab Tuhan”, yang berbeda istilahnya saja. Bahkan bagi kita bangsa Indonesia yang punya Pancasila dan didalam perbuatan ”Ketuhanan Yang Maha Esa”. Harus mendasari segala amal perbuatan kita dengan LIL TUHAN DAN BIL TUHAN Yang Maha Esa.Di waktu kita glonjom ada kata-kata ”ILLAA AMANIYYA”, yaitu orang yang menduga-duga ”MELAMUN”. Mengharap atau Roja’ tapi tak mau berjuang atau usaha, maka ini bukan Roja’ namun terkecam. Yang dinamakan mengharapkan atau Roja’ sekalipun tidak menjagakan amalnya, perbuatanya, usahanya, ibadahnya tapi harus giat berusaha, bersungguh-sungguh, bermujahadah. Juga jangan sampai kita salah faham atau salah menempatkan segala bidang di masing-masing tempatnya. Kalau kita salah menempatkan sesuatu pada tempatnya itu namanya “DHOLIM”. Sesuai definisi Dholim yaitu menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, begitu jika kalau kita menjagakan amal kita itu namanya salah alamat ”Dholim”. Mestinya harus menjagakan kepada Tuhan saja.Namun sekalipun glonjom kita harus tetap menjagakan kepadaTuhan, tapi selain menjagakan kita harus berusaha dan berbuat, bila tidak mau berbuat atau berusaha iu namanya ”AMANI” atau lamunan. Dan ini terkecam jadi sekalipun mengharap atau Roja’ kepada Tuhan, itu penting tapi lebih penting lagi adalah tepatnya. Hubungan ini mungkin, orang selalu kuat non stop usahanya, mujahadahnya, tapi tidak ada Roja’ kepada Tuhan melainkan menjagakan kepada amalnya, sering istirahat tapi dia tepat. Tapi kita harus sebanyak mungkin dan setepat mungkin, ini tepatnya. Jadi yang penting dan prinsip adalah setepat mungkin. Jadi tidak boleh hanya menyalah gunakan, misal, biarlah sedikit asal tepat saja, sekalipun banyak kalau tidak tepat, itu tak berarti dsb. Itu namanya menyalah gunakan, tidak boleh dan terkecam karena menyalah gunakan. Jadi kita harus setepat mungkin dan sebanyak mungkin, istilah kwalitas dan kwantitas. Adapun kwantitasnya atau banyaknya itu nomor dua yang paling penting adalah kwalitas yaitu isi atau mutunya. Namun yang harus tetap berusaha mengisi keduanya kwalitas dan kwantitas.Secara umum seperti Lillah Billah yang paling pokok adalah Billah, karena hubungan dengan Tauhid. Lillah hubunganya dengan ‘Ubudiyah, tetapi mungkin akan disalah gunakan. Kalaum berani menyalah gunakan berarti bunuh diri. Jadi yang paling prinsip ialah Billah, atau Tauhid. Tapi kita harus berusaha bersama-sama mengisi Lillah dan Billah, Syari’at dan Haqiqat. Bgitu juga hubungan antara Roja’ dan ikhtiyar atau usaha.Kembali kepada permasalahan. Bahwa setengah tanda atau alamat orang yang menjagakan kepada amalnya yaitu ”NUQSHONUR-ROJA’” berkurangnya harapan untuk selamat dunia akhirat, dapat diridhai Allah SWT atau dapat wushul sadar kepada Allah SWT ketika sedang dalam keadaan maksiat atau glonjom. Itu namanya menjagakan amal atau usahanya, tidak menjagakan kepada Tuhan. Atau menjagakan nafsu. Dengan demikian soal yang pokok harus kita tempatkan pada yang pokok pada tempatnya masing-masing dan seterusnya. Kata Sayyidina Ali Karromallahu wajhah:”Tidak akan mengalami kerusakan orang yang tahu kedudukan dirinya”.
‘Ubad adalah orang-orang yang masih menjagakan amalnya, atau orang ahli ibadah yang belum sadar. Ada kata-kata:”Orang yang sembahyang lima waktu pada awal waktunya di samping ibadah lain-lain, itu dinamakan ‘abidin (ahli ibadah)”
“Dan orang yang keluar dari dunia, orang yang menjauhi dunia, fanak atau rusak pandanganya terhadap dunia, dinamakan orang yang bertapa “ZUHUD”.
“Barang siapa yang keluar dari nafsunya, yang bebas dari nafsunya, dinamakan orang arif, orang yang sadar kepada Allah SWT”
Tapi ya bisa merangkap-rangkap, artinya al ‘Arif atau orang yang sadar kepada Allah SWT, disamping itu ia juga ahli ibadah dan Zuhud atau bertapa. Ada istilah:”Orang arif itu kaainun yaitu tetap ada diantara manusia yang lain dalam segala bidang. Tapi Baainun: yaitu diluar manusia. Maksudnya wujudnya sama-sama kepasar, sama tukang jahit, kesawah namun batinya berpisah yaitu Ilallah. Jadi yang satu hanya lahirnya saja dan satu luar dalam.
Dan juga dikatakan:”Orang arif lahirnya bersama makhluk, batinya bersama Allah.”
“Setengah dari pada alamat atau tandanya minal ‘Arifin, adalah orang yang sadar kepada Allah SWT, dia fanak terhadap pandangan nafsunya”, nafsu tidak menjadi acara.
“Ketika dia jatuh atau terkena musibah lupa, dia selalu sadar akan berlakunya kekuasaan Tuhan. Dan dalam istilah Wahidiyah Billah”.
Bidang Billah, baik dalam keadaan maksiat ataupun Tho’at ini harus senantiasa Billah. Tetapi kalau Lillah atau bidang-bidang lain (syariat) itu hanya soal tho’at yang hanya boleh diberi dasar Lillah, seperti dalam rukun Iman yang keenam artinya:”Dan qodar baik buruk dari Allah”.
Kita harus yakin bahwa baik dan buruk itu sudah kodar dari Allah Ta’ala. Ibarat bangunan sudah direncanakan oleh yang membangun, baik itu baik maupun buruk. Begitu juga makhluk sudah direncanakan oleh Allah SWT, ”KHOIRIHI WASARRIHI MINALLAH”. Baik dan buruk itu hanya dari Allah SWT. Itu bidang Billah harus kita isi, disamping mengisi bidang Lillah.Oleh karena itu orang ‘Arifin ketika dalam keadaan terbelegong dia tetap menyadari Billah, menyadari itu dari Allah. Ini tidak berarti lalu tidak mengisi bidang Lillah. Seharusnya yang sempurna ialah disamping mengisi bidang Billah (Haqiqat) harus mengisi bidang Syari’at (Lillah). Maka ketika maksiat misalnya, dalam bidang Haqiqat harus tetap Billah dan dalam bidang syari’at harus tobat. ”Robbana dholamna anfusanaa”, mengecam dirinya sendiri, atau nafsunya. Namun harus tetap didasari Lillah. Bila mengecam nafsu namun tidak didasari Lillah itu berarti masih menuruti nafsu, masih dijajah atau dikuasai nafsunya. Ini mungkin sangking licinya nafsu. Sekalipun Mujahadah, dzikir, kepada Allah SWT namun tidak didasari Lillah itu otomatis berarti nafsu. Oleh karena itu semua syari’at baik lahir maupun batin yang tidak didasari Lillah berarti nafsu, walaupun dzikir kepada Allah baik itu billisan maupun bil Qolbi jika tidak didasari Lillah otomatis Linafsi Binafsi. Adapun bidang Tauhid tidak ada hubunganya dengan Lillah. Billah ya Billah sudah. Saya Billah ini saya niati Lillah misalnya, itu tidak benar, Billah ya Billah, tidak bisa diniati Lillah.Orang ‘Arif ketika dia mengalami kebaikan dia tidak mengaku diri. Tetap sadar Billah, tetap, ”LAA HAULA WALAA QUWWATAA ILLA BILLAH”. Tidak ada bedanya baginya, baik dalam keadaan baik ataupun buruk, tetap Billah, tetap bertauhid.”Karena orang Arif tetap tenggelam didalam samudra Tauhid”.
“Tetap sama khouf dan roja’nya”.
Orang ‘Arif tetap sama dalam keadaan takut dan harapanya karena sifat Tuhan itu ditakuti dan diharap buktinya lagi yaa “BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIM” “AR ROHMAANIR ROHIM”. “Kasih sayang”. Ini berarti sekalipun keadaan kita bagaimanapun juga, tetap harus mengharap kasih sayang Allah, kalau karena berlarut larut lalu putus asa itu terkecam. Dalam Al Qur’an sudah diperingatkan:”Sesungguhnya tiada yang putus asa dari Rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.” (Yusuf: 87)
Orang yang putus asa berarti orang yang meniadakan Tuhan, orang yang menutup-nutupi kemurahan Tuhan. Istilah manusia orang yang melukai Tuhan. Tuhan tidak dapat dilukai. Jadi didalam keadaan buruk kita atau berlarut-larut harus mengecam kepada diri sendiri.”Barang siapa keadaanya belum cocok dengan itu tadi, harus usaha sekuat mungkin dengan riyadhah-riyadhah dan banyak dzikir.”
Berhubungan dengan itu Imam Sadzali dawuh:”Barang siapa yang belum menerapkan atau merasakan ilmu ini, dia dalam keadaan dosa besar, sekalipun bagaimana baiknya dan dia tidak sadar tidak merasa kalau berdosa besar.”
Mujahadah dan riyadhah baik lahir maupun batin. Mujahadah yang paling penting adalah hatinya bersungguh-sungguh atau mujahadah lahiriyah adalah sebagai pupuk dan hati harus hati-hati atau istilahnya titi ngati-ati. Senantiasa waspada, kalau nyeleweng harus secepat kilat kembali, dengan senantiasa memusatkan perhatian Fafirruu Ilallah wa Rasulihi SAW.Usaha harus sekuat mungkin, Ibarat anak-anak bermain jumpritan harus selalu memegang kuat-kuat jumpritanya. Kalau sampai benggang (renggang) atau lepas, sekalipun hanya satu senti, past ditelan oleh nafsunya, lawanya. Tapi kalau sungguh-sungguh sekuat tenaga memegang jempritanya dalam keadaan bagaimanapun pasti tidak akan ada apa-apa, malah dapat memanfaatkan situasi dan kondisi untuk Lillah dan Billah.Jadi kalau orang belum memilki tanda-tanda tersebut harus usaha sekuat mungkin dengan kemampuan yang ada padanya. Sebab hal ini yang akan menentukan kelak. Kita maklum, bahwa akan hidup (selama-lamanya) di akhir nanti.”Dan barang siapa yang buta (hatinya) niscaya di akhirat kelak ia akan buta dan lebih tersesat jalanya”. (Al Isra’:72)
Orang yang di dunia buta, tidak tahu siapa Tuhanya, otomatis di akhirat akan lebih jauh dari Tuhanya.Kalau sudah memiliki harus ditingkatkan, orang jangan sampai menjagakan kepada selain Tuhan. Kok berarti jangan beramal pokok sudah sadar, itu ya tidak. Menjagakan Tuhan tanpa beramal namanya lamunan. Tapi kalau menjagakan amal, namanya syirik. Ini semua artinya kita harus senantiasa koreksi diri sehingga dapat menerapkan setepat-tepatnya. Allahu ‘alam
Hari-hari kemarin, sangat terasa betapa banyaknya potret wajah yang -akan- menjadi wakil dan pemimpin kita mengumbar kata-kata. Janji yang menawarkan sejuta asa untuk memikat hati hingga menjatuhkan pilihan kepadanya.Gelar ‘wakil rakyat’ memang sudah sering kita dengar. Tetapi kepercayaan rakyat kepada yang mewakilinya belum sepenuhnya terwujud. Rakyat yang menjadi konstituen sebenarnya ingin di bimbing, dibela, diberi contoh oleh sang ‘wakil’ yang bukan sebatas kata-kata dan janji belaka.Tapi nyatanya, para wakil rakyat yang seperti itu nyaris tidak pernah kita temukan. Yang kita dapati hanyalah para kader partai yang memperjuangkan kelompoknya, kepentingan partainya, hingga usaha memperkaya diri sendiri. Di desa kita bahkan, di tempat saat mereka mencari simpati, juga sudah tidak lagi kita temukan wakil kita berbagi cerita, ngobrol bareng tentang bagaimana upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dan yang banyak kita temukan sibuk sendiri demi kepentingan partainya, rapat dengan para pejabat, sedangkan rapat dengan masyarakat tidak pernah, apakah sepeti itu memperjuangkan rakyat,sedangkan kondisi rakyat saja tidak mengetahuinya?Apa lagi hari ini. Ketika seorang caleg yang kalah justru menunjukkan sikap bodohnya dengan cara-cara yang konyol. Marah-marah, ngamuk, stress, bahkan ada juga yang nekad bunuh diri. Padahal, menang dan kalah adalah soal biasa dalam sebuah kompetisi. Ini menunjukkan betapa lemahnya jiwa dan iman mereka. Maka, mana mungkin rakyat akan mendapatkan teladan dari wakilnya yang juga miskin teladan?Seorang ‘wakil’ seharusnya kal muwakil. Memiliki jiwa seperti diwakili. Mempunyai aspirasi, cita-cita dan keinginan seperti yang mewakilkan mandat keterwakilanya. Jika tidak, ibarat seorang insinyur bangunan yang mencoba mengobati penyakit liver seorang pasien. Ia tidak akan pernah sanggup mengobatinya. Ia harus menyerahkanya kepada seorang dokter spesialis penyakit dalam yang memang merupakan ahlinya. Jika dipaksakan, sangat berbahaya. Sebab, setiap keputusan dan perkataan yang diambil oleh orang yang bukan ahlinya akan sangat merugikan, bagi dirinya dan bagi orang lain.Orang yang bekerja atas nama rakyat semata-mata untuk kesenangan diri sendiri tanpa memperdulikan kesengsaraan rakyat, sebenarnya adalah musuh rakyat. Hak yang semestinya milik rakyat dirampas begitu saja tanpa memperhitungkan untung dan ruginya.Lebih celaka lagi. Seperti yang diberitakan berbagai media, wakil rakyat tingkat pusat periode 2004-2009, di akhir masa jabatanya ini akan mendapat apa yang disebut cinderamata berupa cincin emas dengan nilai total 5 miliar. Jika jumlah uang sebesar itu dibagi 550 orang, maka masing-masing wakil rakyat mendapat Rp. 9,1 juta untuk sebuah cincin emas dengan berat kurang lebih 10 gram. Lebih ironis lagi, tidak hanya para wakil rakyat yang ‘pulang kampung’ yang mendapat oleh-oleh istimewa itu, mereka yang kembali terpilih untuk periode 5 tahun mendatang pun akan mendapat cincin emas tersebut. (Surya, 9 juni 2009).Menurut harian terbit Surabaya itu, pemberian cincin emas bagi para wakil rakyat itu adalah yang ketiga kalinya. Sejumlah wakil rakyat yang telah duduk di Senayan tiga periode, itu berarti mendapat kenang-kenangan berharga sebanyak tiga kali. Padahal sudah berungkali sikap para wakil rakyat itu mengundang kontroversi, mulai tentang kenaikan gaji ke -13, tunjangan-tunjangan yang berlebihan, kinerja yang tidak maksimal, perbuatan mesum, dan bahkan kasus-kasus korupsi berbagai proyek Indonesia yang menyeret sebagaian mereka kedalam jeruji besi. Maka, benarkah para wakil rakyat yang duduk di lembaga terhormat itu memperjuangkan nasib rakyat? Atau justru sebaliknya. Menjadi wakil rakyat adalah dambaan untuk memudahkan ‘cepat kaya’ dan bersenang-senang?Mungkin inilah salah satu sebab, mengapa banyak yang mulai menjadikan tontonan sebagai tuntunan. Karena panutan yang semestinya jadi tuntunan tidak lagi dapat dipercaya. Krisis kepercayaan ini sejalan dengan semakin sedikitnya mereka yang menjadi wakil rakyat yang benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyatnya. Kesepian ini kian mencekam bila kecurangan para panutan itu dipadu dengan saling curiga sesama ‘wakil’ ditambah dengan provokasi yang negatife. Kita benar-benar miskin teladan!Disini kita tidak bisa berbuat banyak. Hanya bisa berharap; semoga para wakil rakyat yang sudah terpilih untuk periode 5 tahun mendatang lebih baik dan berkualitas. Kita pun berdoa; semoga mereka diberi hidayah dan taufik Allah SWT, sehingga dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai wakil rakyat, senantiasa di atas landasan iman dan kesadaran kepada Allah wa Rasulihi SAW. Amiin..
Adalah memberikan hak kepada yang berhak menerimanya. Dan ini merupakan kewajiban. Kewajiban adalah amanat. Sedang amanat adalah sesuatu yang meminta pertanggung jawaban. Allah SWT secara khusus mengingatkan tentang hal ini, ”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An Nisa: 58).
Dalam Al Qur’an Allah SWT juga menjelaskan, bahwa manusia adalah makhluk yang memikul beban (mukallaf). Pembebanan atau taklif meliputi hak dan kewajiban. Setiap beban yang kita terima menyebabkan kita harus melaksanakan kewajiban, tetapi pada saat yang sama kita juga memiliki hak. Pada setiap amanat ada balasan pahala bila dilaksanakan, dan dosa bila diabaikan.Penjabaranya sangat jelas. Setiap kita punya kewajiban. Ada kewajiban individu, ada kewajiban kolektif. Sebagai orang beriman, kewajiban kita adalah beribadah kepada Allah SWT, mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan nderek tuntunan Ghautsu Hadzaz Zaman RA. Tanpa harus memandang balasan apa yangakan diberikan Allah kepada kita.Begitupun dalam lingkup kewajiban kita secara sosial. Kewajiban antara guru dan murid, antara orang tua dan anak, suami dan istri, pimpinan dan bawahan, pejabat dan rakyat, dan kewajiban kepada apapun dan siapapun juga.Orang tua punya kewajiban mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Anak-anak punya kewajiban berbakti kepada orang tuanya. Seorang suami berkewajiban memberi nafkah dan perlindungan kepada istrinya. Istri punya kewajiban manaati dan berbakti kepada suaminya. Demikian pula seorang guru. Punya kewajiban memberikan pendidikan sebaik-baiknya kepada anak didiknya. Sedang anak didik punya kewajiban menghormati gurunya. Atasan berkewajiban memberikan bimbingan dan arahan kepada bawahanya. Dan bawahan wajib menaati atasanya. Pun pula, pejabat pemerintah mempunyai kewajiban mengayomi rakyatnya. Sementara rakyat punya kewajiban menaati dan mendukung program-program pemerintahanya.Apabila pemenuhan kewajiban ini ditempatkan pada tempatnya, maka akan terciptalah suasana harmonis ‘pemilik’ hak dan ‘penunai’ kewajiban. Tidak akan terjadi perselisihan yang berujung pada permusuhan, akibat saling menuntut hak. Sebaliknya, seseorang akan kehilangan haknya apabila mengabaikan kewajiban. Maka, membuat kontrol diri atas penunaian kewajiban adalah sebuah keharusan.Mengukur sejauh mana kita menunaikan kewajiban, itulah standart hak yang akan kita terima. Hak itu sendiri sesungguhnya merupakan penjelmaan dari cara kita menunaikan kewajiban. Maka janganlah pernah takut kehilangan hak bila kita telah menunaikan kewajiban dengan baik dan benar.Hak adalah sesuatu yang mesti diterima seseorang. Dan antara hak dan kewajiban ini ada sebab akibat. Yang menjadi kewajiban kita, menjadi hak bagi orang lain. Dan kewajiban orang lain menjadi hak bagi kita.Dalam prakteknya, kita harus berlomba-lomba mengutamakan pemenuhan kewajiban. Sebab, jika kita hanya pandai menuntut hak, maka rusaklah tatanan kehidupan ini. Yang akan terjadi hanyalah pertengkaran, perselisihan, permusuhan, gontok-gontokan akibat tuntut-menuntut, royokan hak.Dengan memenuhi sisi-sisi yang menjadi kewajiban kita, sesungguhnya bermakna bahwa kita sedang memegang dan membuka sebuah kunci untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi hak kita. Jika kita bekerja (baca: menunaikan kewajiban) dengan baik, otomatis hak mendapatkan imbalan berupa gaji akan kita dapat. Jika kita telah berbakti kepada orang tua dengan tulus dan ikhlas, tanpa diminta orang tua akan memberikan pengayoman dan kasih sayangnya kepada kita. Demikian juga, jika kita melakukan ibadah kepada Allah tanpa pamrih, atas dasar Lillah dan billah, Allah akan memberikan hak-hak kita berupa balsan pahala dan syurga, tanpa diminta. Begitu seterusnya. Rasulullah bersabda: ”Seungguhnya Allah memberikan segala hak kepada yang mempunyai hak.” (HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik dengan sanad shoheh).
Yang menjadi catatan disini adalah, seberapa besar hak yang akan kita terima sangat tergantung pada seberapa besar nilai dan kualitas kewajiban yang telah kita tunaikan. Itulah rahasianya. Allahu a’lam
Membincang pribadi Rasulullah SAW, keindahan akhlak di padu dengan keindahan fisik beliau yang sempurna seakan tiada habisnya. Beliau bagaikan sumber mata air yang tiada pernah kering untuk digali. Rasulullah SAW benar-benar pribadi yang selalu menebarkan pesona kapanpun dan dimanapun beliau berada.Di samping pesona pribadi beliau yang tiada tandinganya, Rasul SAW memiliki keistimewaan berupa semerbaknya aroma wangi dari dalam tubuh beliau dalam segala situasi dan kondisi. Sebuah mukjizat yang tidak diberikan kepada nabi-nabi dan rasul-rasul sebelum beliau maupun kepada manusia setelah beliau SAW.Para sahabat yang setiap hari berdekatan dengan Rasul SAW rata-rata mengatakan bahwa tubuh beliau menebarkan aroma yang sangat wangi. Keharuman yang menyerupai minyak wangi yang keluar dari tubuh beliau bukan hanya dirasakan oleh para sahabat, para musuh yang sempat berdekatan dengan beliau juga merasakan hal yang sama. Saking wanginya aroma tubuh Rasul SAW, sampai-sampai sebagaian sahabat ada yang sengaja mengumpulkan keringat beliau untuk wewangian tubuh mereka.Diriwayatkan oleh Anas RA, ia berkata:”Aku belum pernah menyentuh sutra yang lebih halus dibandingkan dengan tangan Rasul SAW, dan aku belum pernah mencium bau yang lebih harum dibandingkan dengan keharuman bau badan Rasul SAW.”
Anas RA adalah sahabat Rasul SAW yang boleh dikata adalah tangan kanan Rasul SAW. Sejak belia, Anas tinggal bersama Rasul SAW. Melayani segala keperluan beliau. Tiada hari tanpa berdekatan dengan Rasul SAW. Karenanya tak heran jika dia sangat faham bau-bauan yang keluar dari tubuh Rasul SAW.Bahkan ibu Anas, Ummu Sulaim mengumpulkan keringat Rasul SAW dan memasukkanya ke dalam botol untuk dicampur dengan minyak wangi miliknya. Hadits yang diriwayatkan dalam sahih ini begitu masyhur.Riwayat lain mengenai Ummu Sulaim mengumpulkan keringat Rasulullah SAW dan ditaruhnya dalam suatu tempat terdapat dalam beberapa versi: pada suatu hari beliau ke rumah Ummu Sulaim dan tidur di atas tikar. Tidak lama kemudian datanglah Ummu Sulaim, lalu dikatakan padanya, bahwa Rasulullah SAW sekarang tidur di rumahmu di atas tikarmu. Perawi hadits berkata: ketika dilihatnya beliau berkeringat, sedangkan keringatnya menggenang pada selembar kulit yang dijadikan alas tidur beliau. Maka tanpa benyak membuang waktu Ummu Sulaim segera membuka wadah lalu mengumpulkan keringat beliau dan memerahnya dalam beberapa botol kecil. Melihat hal tersebut Rasulullah SAW terkejut, lalu bertanya, ”Wahai Ummu Sulaim, apa yang sedang engkau lakukan?” ia menjawab; ”Ya Rasulallah, kami mengharapkan berkah dari keringatmu untuk anak-anak kami” Beliau lantas berkata, ”Engkau akan mendapatkanya.”Sahabat Abu Jahaifah RA yang pernah merasakan berjabat tangan dengan Rasul SAW menyatakan bahwa tangan beliau sangat dingin dan ketika dia menciumnya baunya sangat harum melebihi harumnya minyak misik.Riwayat lain mengenai aroma wangi dari tubuh Rasul SAW, tertuang dalam kitab Maulidul Barzanji, yang mengatakan: Bahwa peluh yang keluar dari tubuh Rasulullah SAW itu bagaikan mutiara yang baunya lebih semerbak daripada harumnya wewangian minyak kasturi. Ketika beliau berjalan, tampak condong, seakan-akan sedang turun dari jalan yang tinggi… ketika beliau membelai (mengusap) kepala anak kecil, maka akan dapat diketahui bekas usapanya itu oleh anak-anak lain karena bau keharumanya.
Sementara itu di kitab Maulidud Dibay diceritakan: Apabila beliau tersenyum, maka senyumnya bagaikan butiran air embun. Bila beliau berbicara maka isi pembicaraanya bagaikan mutiara yang berjatuhan. Jika beliau bercakap-cakap maka aroma nafasnya bagaikan minyak misik yang keluar dari mulutnya.
Kiranya bukan hanya keringat beliau yang berbau harum tapi kotoran beliau pun juga berbau harum. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari Aisyah RA, bahwa jika Rasulullah SAW hendak membuang kotoran maka bumi terbelah dan menelan kotoran dan air kencing beliau serta bau harum semerbak di tempat itu. Subhanallah
Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu....
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.
“Ada 2 hal yang mesti kita ingat: Kebaikan orang lain sama kita dan keburukan kita sama orang lain. Tapi ada 2 hal yang mesti kita lupakan, kebaikan kita pada orang lain dan keburukan orang lain pada kita.
“Hidup itu Kumpulan mozaik-mozaik kisah yang bila waktunya tiba akan terkumpul membentuk apa yang kita sebut kehidupan. Mozaik-mozaik itu ditemukan dari berkelana ke segala penjuru bumi. Kita tak dapat selalu mempercepat apa yang seharusnya tertunda, namun yakinlah rahasia Allah & kepastiannya akan indah pada waktunya.”
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…"(Q.S. Al-Baqarah: 286)
“Allah menguji keikhlasan kita dalam kesendirian. Allah memberikan kedewasaan saat masalah berdatangan. Allah melatih ketegaran kita dalam setiap cobaan. Semakin sulit masalah, maka semakin terbuka pintu kemudahan. Sebagaimana semakin gelap malam, cahaya pagi semakin memancarkan sinarnya. Keep On Spirit!
“Wilayah kerja adalah lingkaran realitas, sedangkan wilayah peluang adalah ruang keserba mungkinan. Semakin luas pijakan kaki kita dalam lingkaran kenyataan, semakin besar kemampuan kita mengubah kemungkinan menjadi kepastian, mengubah peluang menjadi pekerjaan, mengubah mimpi menjadi kenyataan.
“Kuberi satu rahasia padamu kawan…. Buah paling manis dari bermimpi adalah kejadian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan menggapainya."
“Tanda-tanda keimanan:
1.. Mencintai kebaikan untuk orang lain seperti ia mencintai kebaikan untuk dirinya begitupun sebaliknya dengan keburukan…..
2. Mengingatkan orang lain jika lalai dan senang dinasehati jika ia lalai…..
3. Memberi maaf pada orang lain yang menzhaliminya seperti ia ingin dimaafkan jika berbuat salah pada orang lain…..
4. Memenuhi hak orang lain…..
5. Membantu orang lain yang butuh bantuan, seperti ia ingin dibantu jika dalam kesusahan…..
6. Menjaga ukhuwah dengan saudaranya sebagaimana ia tidak suka jika orang lain memutuskan hubungan dengannya…..
7. Toleransi dengan kekurangan orang lain sebagaimana ia ingin dimaklumi akan kekurangannya.”
“Sesungguhnya tak ada jalan lain, kecuali kehidupan ini harus dilalui ‘tuk menuju surga. Tampilannya seperti ujian, tapi isinya rahmat dan kenikmatan. Berapa banyak kenikmatan yang sungguh besar baru diperoleh setelah melalui ujian. Semoga segala amanah ini menjadi jalan menuju surga.”
“Sekali lagi…Amanah terembankan pada pundak yang semakin lelah. Bukan sebuah keluhan, ketidakterimaan..keputusasaan! Terlebih surut ke belakang. Ini adalah awal pembuktian..Siapa diantara kita yang beriman. Wahai diri sambutlah seruanNya…Orang-orang besar lahir karena beban perjuangan…Bukan menghindar dari peperangan.
“Memang di kehidupan ini tidak ada yang pasti, tetapi kita harus berani memastikan dan memperjuangkan apa-apa yang akan kita raih! Karena sesungguhnya, cita-cita yang tinggi tidak menjamin seseorang dapat meraih kesuksesan. Tapi…orang yang sukses pasti mempunyai cita-cita yang tinggi…Semangat!”
“Jadilah seperti air yang suci lagi mensucikan, bergerak untuk menghidupkan, mengalir untuk kebaikan, memancar dengan kekuatan, dikelola menjadi energi bagi kehidupan. Selamat berjuang dan terus belajar memaknai kehidupan. Moga bisa lebih baik, memberi yang terbaik, mendapatkan dan menjadi yang terbaik.”
“….Seorang hebat akan memunculkan kehebatan yang lebih besar jika ia bertemu dengan orang hebat lainnya. Individu cerdas akan melahirkan kecerdasan yang luar biasa gemilang jika ia bekerja sama dengan individu cerdas lainnya. Tapi ternyata orang hebat yang satu tak mudah dipertemukan dengan orang hebat lainnya. Lalu potensi kehebatan ini seperti daun kering, gugur dari pohon lalu berserakan. Maka peran organisasi adalah mengumpulkan daun-daun yang berserak, menggabungkan kecerdasan terpendam dari individu-individu yang ada di dalamnya…
¨Saudaraku, adapun orang yang menuntut ilmu maka selalu bertambah diridhoi Allah, sedangkan orang yang hanya mengejar dunia, maka bertambah kesesatannya. Ilmu itu penuntun amal & ilmu itu diberikan Allah kepada orang-orang yang akan bahagia dan diharamkan dari orang-orang yang celaka dan rugi….¨
“Seorang pejuang sejati tidak pernah mengenal kata akhir dalam perjuangannya. Ia tidak memerlukan gemuruh tepuk tangan, tidak akan lemah karena cacian dan tidak akan bangga dengan penghargaan.”
“Manusia hanyalah segenggam tanah. Kehormatan dan kemuliaan apapun yang diterima manusia berasal dari Tuhan. Dia memberi bukan karena kau sujud pada-Nya, tapi karena kedermawanan-Nya. Dia memberi bukan karena kau layak menerimanya tapi karena kemurahan-Nya.”
“Waktu terkadang lambat bagi mereka yang menunggu, terlalu cepat bagi mereka yang takut, terlalu panjang bagi mereka yang gundah dan terlalu pendek bagi meraka yang bahagia….Tetapi bagi yang mengisi waktu sebaik mungkin, waktu merupakan kunci kehidupan yang sebenarnya.
¨Iman seorang mukmin akan tampak disaat ia menghadapi ujian, disaat totalitas dalam berdo´a tapi belum melihat pengaruh apapun dari do´anya . Ketika ia tetap tidak mengubah keinginan dan harapannya meski sebab-sebab untuk putus asa semakin kuat. Itu semua dilakukan seseorang karena keyakinannya bahwa hanya Allah saja yang paling tahu apa yang lebih baik untuk dirinya.
“..dan bumi telah dibentangkannya untuk makhlukNya, di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan..(Q.S. Ar-Rahman: 10-13).”
Merendahlah, engkaukan seperti bintang gemintang, Berkilau dipandang orang di atas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi. Janganlah seperti asap yang mengangkat diri tinggi di langit padahal dirinya rendah hina.
“Ketika wajah ini penat memikirkan dunia, maka berwudhulah…Ketika tangan ini lelah menggapai cita-cita, maka bertakbirlah…Ketika pundak tak kuasa memikul amanah, maka bersujudlah…Ikhlaskan semua dan mendekatlah padaNya. Agar tunduk disaat yang lain angkuh..Agar teguh disaat yang lain runtuh..Agar tegar disaat yang lain terlempar..
”“Keletihan itu, akan menjadi beban ketika kita merasakannya sebagai keletihan fisik yang tidak diikuti oleh keyakinan ruhiyah. Maka sesungguhnya kesempitan di jalan ini, pasti menyimpan hikmah luar biasa yang akan tercurah dalam bentuk rahmat Allah SWT…"
“Mungkin suatu saat perjuanganmu jadi arus. Arus besar yang menumbangkan tirani. Tapi saat itu kamu sudah tidak ada. Waktu kamu melakukannya pertama kali, kamu hanya sendiri. Tapi itulah yang membuatmu abadi. Abadi dalam kenangan manusia. Abadi bersama bidadari di syurga. Kamu melakukan yang tidak dapat dilakukan orang lain. Kamu melakukan jihad."
“Allah mengaruniakan 3 waktu untuk manusia, yaitu: kemarin, kini dan esok. Berbahagialah mereka yang hari kemarinnya ilmu, hari kininya amal dan hari esoknya jihad. Tugas kita hanya berusaha. Sedangkan hasil adalah urusan Allah. Kalau kita ikhlas, maka usaha kita menjadi amal yang berpahala. Meski tidak ada hasil yang diraih…
Semoga bermanfaat...
Banyak yang belum faham antara perbedaan Ghauts dan Mujadid. Apa tugas-tugasnya, sejak kapan keberadaanya di tengah-tengah umat. Hal ini penting di bahas karena masih banyak kaum Muslimin khususnya Pengamal Wahidiyah yang salah mempresepsikan atau bahkan tidak tahu sama sekali keberadaan Ghauts dan Mujadid di muka bumi. Ini bisa di maklumi mengingat pembahasan tentang Ghautsiyah dan Mujadid tidak banyak beredar di tengah-tengah masyarakat. Kali ini Aham sengaja menurunkan kembali tulisan pembahasan Mujadid dan Ghauts yang di muat pada edisi 17/Ramadhan 1419H/Desember 1998M. hasil wawancara reporter Aham Vety Arova dengan KH. Ahmad Baidhowi (alm). Konon edisi 17 tersebut merupakan edisi terbaik dibanding edisi sebelumnya maupun sedudahnya sebagaimana dawuh beliau Romo KH. Abdul Latif Madjid RA secara sirri kepada H. Indra Sukmana dari Cianjur.Bisa Yahi jelaskan perbedaan antara Mujadid dan Ghauts?Menurut arti bahasanya, Mujadid berarti reformis atau pembaharu. Menurut Hadits Rasulullah SAW adalah orang yang di utus oleh Allah SWT pada setiap penghujung 100 tahun untuk memperbaiki (memperbaharui) persoalan agama umat. Mujadid ini datang setelah Rasulullah SAW wafat.Ghauts secara harfiah berarti penolong. Menurut ulama Tasawuf adalah pemimpin para waliyullah di muka bumi. Tugasnya adalah sebagai penuntun, pembimbing kepada keselamatan dan kebahagiaan yang di ridhoi Allah wa Rasulihi SAW. Istilah Ghauts banyak di bahas dalam dunia tasawuf.Apakah ada pembagian dalam Mujadid itu?Ada. Pertama, Mujadid sebelum Rasulullah SAW. Mujadid ini di pegang oleh Rasul Ulul ‘Azmi, yang selanjutnya di sebut Mujadid Tasyri’ (pembawa syariat) yang di dalamnya juga meliputi bidang tahqiq (tasawuf). DI mulai oleh Nabiyullah Nuh AS dan di tutup oleh beliau Sayyidul Anbiya’ wal Mursalin SAW. Adapun Nabi dan Rasul selain Ulul ‘Azmi bertugas meneruskan misi Rasul Ulul ‘Azmi tersebut. Kedua, Mujadid setelah Rasulullah SAW. Mujadid setelah Rasulullah SAW ini secara garis besar ada dua. Yakni Mujadid Tahqiq dan Mujadid Ghairu Tahqiq atau Tasyri’ (fiqih) disini bukanlah tasyri’ pembawa syariat sebagaiman Rasul Ulul ‘Azmi. Melainkan Mujadid yang bertugas membangun dan mengembalikan syariat Rasulullah SAW sebagaimana mestinya. Sedangkan Mujadid Tahqiq adalah seseorang yang di utus oleh Allah SWT untuk membangun dan menghidupkan kembali ajaran dan tuntunan Rasulullah SAW untuk wushul makrifat kepada Allah SWT. Mujadid Tahqiqi disini adalah pemimpin para waliyullah (Sultanul Auliya’).Kongkritnya bagaimana?Begini, Mujadid Tasysri’ di jabat oleh lima Nabi dan Rasul Ulul ‘Azmi (Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad SAW). Jarak antara Ulul ‘Azmi dengan yang lainya kurang lebih 1000 tahun. Para beliau Ulul ‘Azmi ini (Mujadid Tasyri’) membawa syariat sendiri-sendiri. Bila Ulul ‘Azmi ini wafat, maka digantikan oleh yang baru dengan syariat yang lebih sempurna. Adapun para Rasul yang bukan Ulul ‘Azmi bukan Mujadid, bertugas menyampaikan syariatnya Mujadid Tasyri’ sebelumnya. Sebagai contoh, para Rasul yang hidup diantara Nabi Nuh AS dan Nabi Ibrahim AS yaitu Hud AS dan Nabi Shaleh AS. Beliau berdua bertugas menyampaikan syariatnya Nabi Nuh AS. Begitu juga Rasul yang hidup di antara Nabi Ibrahim AS dan Nabi Musa AS, bertugas menyampaikan syariatnya Nabi Ibrahim AS, dan seterusnya. Walau sebagai penerus dan bukan Mujadid Tasyri’, dalam menjalankan tugas-tugas kerasulanya mendasarkan pada wahyu Allah SWT, bukan sekedar taklid atau mengikut.Bagaimana halnya dengan tugas para nabi sebelum Nabi Nuh AS?Sebelum Nabi Nuh AS tidak disinggung soal Mujadid. Sebab waktu itu belum ada syariat. Jadi tugas para Nabi seperti Nabi Adam AS, Nabi Syis AS sampai nabi Nuh AS yang berjarak kurang lebih 1000 tahun itu terbatas soal tauhid, memperbaiki cara hidup dan meningkatkan kesejahteraan anak cucunya sampai datangnya Nabi Nuh AS, maka Allah SWT memberikan batasan-batasan antara ibu dan anak-anak, saudara laki-laki dan saudara perempuan, juga mengaktifkan kewajiban-kewajiban, melaksanakan adab-adab beberapa perintah yang disusul dan diikuti para Rasul Ulul ‘Azmi berikutnya hingga syariatnya lebih meningkat dan lebih sempurna (Islam) yang di bawa Sayyidul Anbiya’ wal Mursalin Nabi Muhammad SAW yang syariatnya meliputi syariat para Nabi dan Rasul sebelumnya. (Hasyiyah Showi juz 11 hal 29).Setelah Rasulullah SAW wafat bukankah syariat agama sudah sempurna, tapi mengapa Allah masih mengangkat Mujadid?Sebelumnya kan saya jelaskan bahwa Mujadid sepeninggal Rasulullah SAW bukan sebagai Mujadid pembawa syariat, tetapi Mujadid untuk memperbaiki (memperbaharui) syariat Rasulullah SAW yang sudah tidak murni lagi. Nah, Mujadid sepeninggal Rasulullah SAW ini akan muncul setiap penghujung 100 tahun. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:yang artinya,”Sesungguhnya Allah mengutus seseorang setiap penghujung 100 tahun untuk memperbaiki (memperbaharui) persoalan agama umat.” (HR. Abu Dawud, Al Hikam, Baihaki, dari Abu Hurairah RA/ Sirojut Tholibin I hal 6, Syamsul Ma’arif III hal. 324, Da’watut Taamah hal. 5).
Sehubungan dengan hadits tersebut, pada kalimat yab’atsu, artinya mengutus utusan, beliau Shahibul Wahidiyah Sayyidul Ghauts Sayyid Abdul Madjid Ma’ruf QS wa RA menggaris bawahi dengan dawuhnya:Yang artinya, ”Yang dimaksud Rasul disini (hadits ini) bukan Rasul pembawa syariat, tapi Rasul untuk menyempurnakan agama umat sehingga mencapai hakikat dan makrifat, sadar billah.” (Yawaqit juz II hal. 8)
Ini menurut tinjauan kacamata tasawuf, yakni Mujadid Tahqiq.Kalau Mujadid Tasyri’ wafat, penerusnya adalah para Nabi dan Rasul sampai datangnya Mujadid Tasyri’ berikutnya. Lantas siapa penerus Mujadid Tahqiq jika beliau wafat?Secara ototmatis para Ghauts yang bertugas diantara Mujadid Tahqiq yang meninggal dan Mujadid Tahqiq yang berikutnya. Dengan demikian maka setiap Mujadid pasti Ghauts, tetapi kalau Ghauts belum tentu Mujadid. setiap Ghauts itu pasti Wali dan setiap Walibelum tentu Ghauts. begitu pula para Rasul Ulul ‘Azmi pasti Mujadid Tasyri’, tetapi tidak setiap Nabi dan Rasul itu Mujadid Tasyri’.Sepeninggal Rasulullah SAW penggantinya adalah para Khulafaur Rasyidin yang sekaligus menjabat sebagai Quthubul Aqthab dan Ghauts di zaman itu. Siapa Ghauts pertama sepeninggal Khulafaur Rasyidin?Dalam kitab Yawaqit juz II hal. 82 ada keterangan bahwa Ghauts pertama menurut para ulama tasawuf adalah Sayyidina Hasan RA. Setelah beliau wafat di ganti Sayyidina Husein RA. Dalam kurun lain Ghauts fii zamanihi Syekh Abdus Salam bin Masyisy RA. Setelah beliau wafat di ganti oleh Syekh Abul Hasan Asy Syazali RA, diteruskan oleh Syekh Abbul Abbas Al Mursi RA. Begitu seterusnya.Apakah para Ghauts itu mesti berdomisili di Timur Tengah, di Mekkah misalnya mengingat Ka’bah ada disana?Dalam kitab-kitab tasawuf tidak ada yang menerangkan bahwa Ghauts itu harus orang Timur Tengah apalagi di Mekkah. Contohnya Syekh Imam Ghazali dari Persia (Iran), Syekh Abdul Qadir Al Jaelani dari Baghdad (Irak).Bagaimana proses pergantian dari Ghauts yang satu ke Ghauts berikutanya?Mengenai hal ini Rasulullah SAW bersabda dalam salah satu haditsnya yang artinya kurang lebih:”Sesungguhnya Allah mempunyai 300 wali di muka bumi ini yang hatinya seperti Nabi Adam AS, 40 wali yang hatinya seperti Nabi Musa AS, 7 wali yang hatinya seperti Nabi Ibrahim AS, 5 wali yang hatinya seperti Malaikat Jibril, 3 wali yang hatinya sebagaimana hati Malaikat Mikail, kemudian 1 wali hatinya seperti Malaikat Isrofil. Apabila wali yang satu itu meninggal dunia, Allah mengganti/mengangkat salah satu dari wali yang lima. Apabila salah satu dari wali yang lima meninggal dunia, Allah mengangkat salah satu wali dari yang tujuh. Apabila salah satu dari wali yang tujuh meninggal dunia, Allah mengganti salah satu dari wali yang empat puluh. Apabila salah satu dari wali yang empat puluh itu meninggal dunia, maka Allah mengangkat salah satu dari wali yang jumlahnya tiga ratus. Dan apabila salah satu dari wali yang tiga ratus meninggal dunia, maka Allah mengangkat salah satu dari sekian manusia beriman yang paling baik dalam segala bidang.” (Tafsir Sirojul Munir: 157, Siraajut Thalibin juz I: 161, Tanwirul Qulub: 414-415, Syawahidul Haq: 197, Al Haawi lilfataawi juz 11: 298 dan buku kuliah wahidiyah: 140)
Hadits di atas kan tidak menyinggung kata-kata Ghauts?Memang benar, akan tetapi berkenaan dengan hadits diatas, ba’dul ‘arifin (ulama tasawuf) mengatakan: ”Wali atau yang disebut dalam hadits ini ialah Wali Quthub dan dialah Ghauts.” (Syawahidul Haq: 197)
Sehubungan dengan hadits tersebut, Syekh Sya’roni RA menafsirkan: ”Apabila Al Qhutub Al Ghauts meninggal, dalam kekosongan ini Allah mengganti mengangkat Ghauts yang lain.” (Yawaqit juz II: 80).
Beliau juga mengatakan: ”Semua zaman tidak akan sepi dari Rasul dan dialah Al Quthub, dialah tempat melihat Allah Al Haq di alam ini.” Ditegaskan lagi dengan Qaulnya: ”Maka bumi ini tidak akan sepi dari Rasul yang hidup Ruhani dan jasadnya, sedang dialah pusatnya (kegiatan) alam insani untuk menuju hakikat dan makrifat billah.” (Yawaqit juz II: hal 80).
Dari sini jelas dan tegas bila Ghauts meninggal,baik itu mendapat tugas merangkap sebagai Mujadid Tahqiq atau Ghauts penerus, Allah SWT akan mengangkat Ghauts yang lain.Maksudnya Ghauts penerus?Ghauts yang bertugas meneruskan amalan dan ajaran Ghauts yang merangkap Mujadid Tahqiq sebelumnya. Mbah KH. Abdul Madjid Ma’roef QS wa RA, Ghauts penerusnya adalah Hadratul Mukarrom Romo KH. Abdul Latif Madjid RA. Dasarnya, banyak diantara pengamal yang di dawuhi oleh Mbah Yahi Mualif Shalawat Wahidiyah QS wa RA yang menyatakan bahwa Romo Yahi Abdul Latif adalah pengganti Mbah Yahi. Antara lain remaja dari Ngawi dan Pak Masykur Sekdes Dadapan Gampengrejo melaui mimpi. Keduanya di dawuhi oleh Mbah Yahi dengan redaksi yang hampir sama, Kowe meluwo anakku Abdul Laif, Pimpinan Umum. Iku sing ono Lillah Billahe. (Kamu ikut anakku Abdul Latif saja, Pimpinan Umum Perjuangan Wahidiyah, itu yang ada Lillah Billahnya). Begitu dawuh Mbah Yahi QS wa RA kepada seorang remaja dari Ngawi.Sedang untuk Pak Masykur Sekdes Dadapan, ketika dawuh Mbah Yahi sampai pada kata-kata Pimpinan Umum, Pak Masykur menangis sambil nida’ Yaa Sayyidi Yaa Ayyuhal Ghauts berulang-ulang sampai Mbah Yahi menyuruhnya berhenti menangis, seraya beliau dawuh; wis-wis, saiki shalato makmumo kono.” (Sudah-sudah, sekarang kamu shalat dan makmum sana). Pada waktu itu yang menjadi Imam adalah Romo Yahi RA, badanya besar sekali tidak seperti biasanya. Dan masih banyak pengamal lain yang di dawuhi Mbah Yahi dengan redaksi yang berbeda.Apakah dawuh Mbah Yahi dalam mimpi itu Haq? Ya, Haq. Al ‘alamah As-Sufairi Al Halabi pengikut Madhzab Syafi’I RA mengatakan dalam Syarah bukhari:”Sungguh sebagaimana syetan tidak mampu menyerupai Rasulullah SAW, begitu juga ia tidak mampu menyerupai Wali Kamil (Ghauts).” (Tanwirul Qulub: 520)
Apabila ada pengamal yang tidak yakin bahwa Romo Yahi RA adalah Ghauts Penerus, bagaimana metode untuk mengetahui Ghautsu Hadzaz zaman?Istikharahlah, dengan membaca Al Fatihah 1000x, memperbanyak “Yaa Ayyuhal Ghautsu Salaamullah alaika robbi nii bi-idnillah wandur ilayya sayyidii binadhroh muushilatil lil hadlrotil ‘aliyah” Dan ”Yaa Sayyidi Yaa Ayyuhal Ghauts.” Di perbanyak tiap malam sampai ketemu dengan Ghautsu Hadzazzaman. Dengan catatan jangan sampai di setir oleh nafsu, harus ikhlas dan niat akan mengikutinya. Sebab pada zaman Mbah Yahi QS wa RA ada orang yang bertanya pada beliau: ”Sekarang ini sudah zaman Imam Mahdi apa belum?” Mbah Yahi menjawab: Belum, coba kamu istikharah dengan membaca Al Fatihah 1000x.” Lain hari orang tersebut sowan dan mengatakan: ”Saya ketemu Imam Mahdi, saya diberi tahu bahwa Ghautsnya Panjenengan Yahi.” Tetapi sayang seribu sayang karena tujuanya hanya ingin tahu saja, setelah tahu hanya cukup tahu, tidak taslim, tidak nderek Mah Yahi QS wa RA, tidak menjadi Pengamal Wahidiyah.
Saran untuk Pengamal Wahidiyah?Di sarankan bagi pengamal yang belum yakin atau tidak yakin bahwa beliau Romo Pengasuh Perjuangan Wahidiyah sebagai Ghauts, agar mencari sampai ketemu, sebagaimana telah dituntunkan.