Selasa, 06 Juli 2010

Cinta Sejati untuk Sang Nabi

Kawula muda pasti paling bersemangat jika diajak berbicara tentang cinta. Sayangnya, tak sedikit para remaja memandang cinta dengan pemahaman yang dangkal. Obrolan tentang cinta, biasanya hanya terbatas pada cinta semu ala dunia mereka.

Padahal, ada cinta sejati yang berujung pada sebuah kesuksesan dunia akhirat. Ialah cinta kepada sang Nabi, Muhammad SAW. Ironisnya, ketika ada remaja yang berbicara tenang cinta Rasulullah, kedengaranya tidak lazim. Kadang di cap sok alim. Padahal mencintai Rasul adalah tolok ukur cinta kita kepada Allah. Jadi, betapa pentingnya hal ini, tetapi betapa sedikit yang mengindahkanya.

Bila Hati Jatuh Cinta

Pernahkah kamu jatuh cinta? Apa yang biasanya terjadi denganmu bila sedang mengalaminya?
Pasti, kita akan selalu berusaha menarik perhatianya agar si dia mau melihat kita. Sering bercerita  atau membicarakan tentang dia, menyukai apa yang disukainya, dan sebaliknya mungkin juga ikut membenci sesuatu yang tidak disukainya.

Bila kita mencintai seseorang, biasanya juga kita akan malu bila tampak tidak baik dan tidak sempurna dihadapan orang yang kita cintai. Bahkan acapkali kita mengesampingkan kepentingan pribadi dengan lebih mengutamakan kepentingan si dia, karena kita takut dia akan menganggap kita tidak perhatian padanya. Lalu jika cinta itu sudah kita dapatkan, kita akan berusaha merawatnya, agar bisa langgeng dan terpalihara.

Sekarang coba kita menilai diri sendiri. Sebagai remaja muslim, apa jawaban kita jika ada yang bertanya ‘apakah kamu mencintai Rasulullah?’ Yakin, 100% akan menjawab ‘ya’.
Tetapi apa bukti bahwa kita cinta pada beliau? Setidaknya, tanda-tanda cinta diatas mestinya ada dalam diri kita. Namun kenyataanya, berapa kali kita menggumamkan asama beliau setiap hari? Sudahkah kita menyukai apa yang disukai Rasulullah SAW dan menghindari apa yang tidak disukai beliau?
Adakah pula rasa malu bila kita tampak buruk dihadapan Rasulullah? Sepertinya tipis sekali rasa itu, bahkan mungkin tidak ada. Buktinya kita masih suka berbuat maksiat, masih belum mau menutup aurat, dan tidak segan melanggar larangan beliau.
 
Mengapa Kita Mencintai Rasulullah?

Barang siapa yang mencintai Rasulullah, berarti ia juga mencintai Allah. Itulah salah satu alasan mengapa kita harus mencintai Rasulullah. Dalam Al Qur’an banyak kita temukan asma Allah selalu diiringi asma Rasul-Nya. Hal itu menggambarkan, beliaulah kekasih paling utama dan dicintai Allah.
Tetapi, terlepas dari hal itu, mencintai Rasul sebenarnya adalah kewajiban yang memang sudah menjadi keharusan. Bagaimana tidak? Begitu besarnya jasa beliau. Allah tidak akan menciptakan makhluk di dunia ini jika tidak menciptakan Rasulullah SAW. Laulaaka laulaaka maa kholaqtul aflaak. “Jika tidak karena engkau (Muhammad), tak akan kuciptakan alam semesta”. Itu berarti, kita tak akan ada bila beliau tidak diciptakan.

Beliau juga sangat berjasa kepada kaum wanita. Jika tidak ada Rasulullah sebagai penuntun jalan kebenaran, mungkin wanita tidak akan pernah lahir kedunia, karena di zaman jahiliyah dulu orang mengubur bayi perempuan hidup-hidup karena malu.
Beliau pula yang menunjukan umat dari jalan yang gelap menuju kesadaran kepada Allah. Masih banyak lagi jasa beliau kepada umatnya.

Alasan lainya adalah karena beliau sungguh mencintai kita. Menjelang detik-detik wafatnya, beliau memanggil ummatii.. ummatii… Bukan siapa-siapa yang beliau panggil, melainkan kita umatnya.

“Subhanallah! Betapa belas kasihnya beliau kepada kita.”

Nah, jika Rasulullah SAW saja mencintai kita yang mestinya tidak pantas dicintai, alangkah terlalunya diri kita jika sampai tidak mencintai beliau.

Bagaimana Caranya?

Jika benar-benar ingin menjadi kekasih Rasulullah, tidak sulit sebenarnya. Apalagi jika dasarnya cinta, melakukan apapun akan dengan senang hati dan penuh kerelaan.
Untuk menumbuhkan cinta,
    yang pertama, banyaklah membaca sejarah beliau untuk mengenal beliau lebih dalam. Bayangkanlah seandainya kita hidup sezaman dengan beliau, akankah kita juga akan menjadi umat beliau, ataukah sebaliknya menjadi penentang beliau? Dengan begitu kita akan bersyukur dimasa ini kita digolongkan menjadi umat pengikut beliau. Rasa syukur itu kita wujudkan dalam bentuk mentaati segala perintah beliau. Yang kedua, adalah dengan banyak membaca shalawat. Dalam surat Al-Ahzab ayat 56 diterangkan bahwa kita diperintahkan untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, karena sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya juga bershalawat atas beliau.


Dengan shalawat, kita juga akan mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW, Keistemewaanya lainya adalah, bahwa orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW di akhirat nanti adalah yang paling banyak membaca shalawat kepada beliau dengan ikhlas.
Berikutnya adalah dengan menjalankan sunah beliau, yaitu segala perbuatan, perkataan, serta ketetapan yang datang dari Rasulullah SAW.

Menjalankan sunah Rasul ini, dalam Wahidiyah tersirat dalam ajaran Lirrasul Birrasul. Lirrasul adalah dalam menjalankan aktivitas apapun, asalkan tidak bertentangan dengan hukum Allah, harus benar-benar diniati menaati perintah/sunah Rasulullah. Sedangkan Birrasul adalah dalam menjalankan aktivitas tadi, harus benar-benar disadari bahwa semua itu tak lepas dari jasa Rasulullah SAW.

Nikmatnya Cinta yang Terbalas

Alangkah kecewa dan ingin marah ketika cinta tidak terbalas. Sebaliknya, cinta yang terbalas menumbuhkan gairah hidup, sehingga lebih berwarna dan lebih semangat.
Begitupun rasa cinta pada Rasulullah SAW, akan menumbuhkan nikmat dalam hidup dan beribadah. Karena jika seseorang melakukan perbuatan atas dasar cinta, tak akan ada keterpaksaan. Puasa sunah, shalat malam, menuntut ilmu, akan menjadi ibadah yang menyenangkan karena kita melakukan perbuatan yang sangat disukai kekasih kita.

Bila kita mencintai Rasulullah, insya Allah syafa’at akan kita dapatkan. Baik syafa’at di dunia, lebih-lebih di akhirat yang dinamakan Syafa’atu Uzma. Ketika cinta tak ada seorang manusia pun yang mampu memberi pertolongan. Hanya beliau seorang yang mendapat hak istemewa dari Allah.Namun bila kita tidak mengenal Rasulullah, bagaimana bisa kita mendapat syafaat itu? Jika kita tak pernah berhubungan batin dengan beliau, bagaimana beliau bisa mengenal kita? Lalu jika beliau saja tidak mengenal kita, siapa lagi yang akan kita mintai pertolongan di hari maha dahsyat itu. Alangkah menyedihkanya, sobat!

Lebih dari itu, jika cinta kepada Rasulullah, kita akan menjadi kekasih, bahkan saudara beliau, ketika beliau SAW ditanya siapakah makhluk yang paling menkjubkan imanya, jawabanya bukan Malaikat, bukan Nabi, bukan para Sahabat, malainkan umat yang datang dikemudian hari  sesudah beliau dan para sahabat. Yaitu mereka yang tidak hidup sezaman dengan beliau, tidak pernah berjumpa langsung denga beliau, tetapi memilki cinta dan kerinduan yang dalam pada beliau. Serta rela berkorban demi memperjuangkan apa yang diperjuangkan oleh beliau SAW. Sungguh, Rasulullah amat merindukan mereka.

Alangkah nikmatnya. Andaikata kita termasuk di antara yang datang kemudian itu? Kita takar dulu  sebesar apa rasa cinta kita.

Wallahu’alam

"Duhai kanjeng Nabi Pemberi Syafaat Makhluq, kepangkuan Mu Sholawat dan salam ku sanjungkan, Duhai Nur Cahaya Makhluq, Pembimbing manusia: Duhai unsur dan jiwa Makhluq bimbing, bimbing dan didiklah diriku, sungguh aku manusia yang dholim selalu” Tiada arti diriku tanpa Engkau duhai ya Sayyidi jika Engkau hindari aku, akibat keterlaluan berlarut-larutku, pastilah, pastilah, pastiku kan hancur binasa!”

Seputar Cinta Kepada Nabi SAW

Bahwa mencintai Nabi Muhammad Rasulullah SAW adalah bagian dari iman. Barangsiapa tidak mencintai beliau, maka ia terancam siksaan Allah baik di dunia maupun di akhirat.
Buah dari cinta kepada Nabi SAW, adalah terutama merasakan manisnya iman dan akhirat kelak, ia akan beserta Nabi SAW.

Wajib mencintai Nabi SAW melebihi cinta kepada semua makhluk

    1. Wajib mencintai Rasulullah SAW melebihi cintanya kepada orang tua dan anak-anaknya. Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

      ”Demi Dzat yang jiwaku berada di genggaman-Nya; Tidak sempurna iman salah seorang antara kalian sehingga ia mencintaiku melebihi cintanya kepada orang tua dan anak-anaknya.” (HR. Bukhari).


    2. Wajib mencintai Rasulullah SAW melebihi cintanya kepada keluarga, harta dan seluruh manusia. Anas bin Malik RA mengatakan, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

      "Tidak akan sempurna iman seorang hamba sebelum ia mencintaiku melebihi cintanya kepada keluarganya, hartanya dan seluruh manusia.” (HR. Muslim).


    3. Wajib mencintai Rasulullah SAW melebihi cintanya kepada diri sendiri. Abdullah bin Hisyam RA berkata:

      ”Kami pernah bersama Nabi SAW. Saat itu beliau memegang tangan Umar bin Khattab RA. Lalu Umar berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah, Engkau pasti aku cintai lebih dari cintaku kepada segalanya, kecuali kepada diriku sendiri. Nabi SAW bersabda: Tidak! Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, itu tidak cukup sebelum engkau mencintaiku melebihi cintamu pada dirimu sendiri. Maka Umar pun berkata: Demi Allah, sekarang aku mencintaimu melebihi cintaku pada diriku sendiri. Maka Rasulullah SAW bersabda: Sekarang (telah sempurnalah imanmu) wahai Umar.” (HR. Bukhari).


Ancaman bagi orang yang mencintai sesuatu melebihi cintanya kepada Nabi SAW

Di dalam Al Qur’an surat At-Taubah ayat 24, Allah SWT berfirman:

    ”Katakanlah! Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluarga-keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugianya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta dari jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak member I petunjuk kepada orang-orang fasik.”


Ayat diatas, oleh beberapa ulama besar di tafsiri sebagai berikut:
Menurut Al-Hafidz Ibnu Katsir: “Tunggulah apa yang akan menimpamu berupa bencana dan siksaan dari-Nya.”
Kata Mujahid dan Hasan Al BAshri: ”Siksaan yang pasti datang, cepat maupun lambat.”
Sedangkan menurut Al Allamah Zamahsyari: ”Ini adalah ayat yang keras, tidak ada ayat yang lebih keras darinya.”


Buah cinta kepada Nabi SAW

    1. Cinta dan mengikuti sunah beliau akan di cintai Allah dan di ampuni dosa-dosanya. Allah SWT telah berfirman dalam surat Ali Imron ayat 31:

      ”Katakanlah (wahai Muhammad): Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”


    2. Cinta kepada Nabi SAW menyebabkan seseorang dapat merasakan manisnya iman. Diriwayatkan oleh Anas bin Malik dari Nabi SAW, beliau bersabda:

      ”Tiga hal, jika ada pada diri seseorang, maka ia akan memperoleh manisnya iman. Hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada lainya. Hendaknya ia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah. Dan hendaknya ia benci kembali kepada kekufuran melebihi kebencianya untuk dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).


    3. Cinta kepada Nabi SAW, akan bersama beliau besok di akhirat.
    Anas bin Malik RA mengatakan bahwa:

      ”Seseorang datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya: Wahai Rasulullah! Kapan akan terjadi kiamat? Beliau bersabda: Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya? Ia menjawab: Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Lalu beliau bersabda: Sesungguhnya engkau akan bersama-sama dengan orang yang kamu cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Tanda-tanda cinta kepada Nabi SAW

Di antara tanda-tanda cinta kepada Nabi SAW, adalah:

    1. Selalu ingat, membayangkan, menyebut-nyebut dan memanggil-manggil beliau Rasulullah SAW.

      ”Barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka ia akan benyak menyebut-nyebutnya.”


    2. Senantiasa berusaha untuk bertemu, beserta beliau Rasulullah SAW, zahiron wa bathinan, dunyan wa ukhron.

      ”Pengobat hati (hati rindu, cinta) adalah bertemu dengan yang di cintai.”


    3. Taat, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Rasulullah SAW.

      ”(Orang yang cinta) ia akan taat kepada yang di cintainya.”


    4. Siap, mau berkorban harta dan jiwanya demi membela Rasulullah SAW.

    5. Menghormati dan mengagungkan kebesaran dan keagungan Rasulullah SAW.

    6. Senantiasa bershalawat kepada Nabi SAW.
    Sedangkan hakikat cinta itu sendiri, adalah sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah dawuh:

      ”Hakikat cinta adalah meleburkan diri secara total tanpa sisa sedikitpun kepada dan untuk orang yang engkau cintai.” (Syarah Hikam Ibn Ibad juz: II hal. 63).


Akhirnya, marilah kita penuhi hati kita dengan kecintaan kepada Nabi SAW. Kita ekspresikan rasa cinta itu dengan memperbanyak baca shalawat kepada beliau dan nida’ Yaa Sayyidii Yaa Rasulullah.

Wallahu’alam

Senin, 05 Juli 2010

MUKJIZAT-MUKJIZAT RASULULLAH SAW

Setiap Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah pasti dibekali dengan keluarbiasaan atau yang lazim disebut Mukjizat. Fungsi mukjizat bagi seorang rasul diantaranya adalah sebagai bukti Nubuwah dan risalah beliau. Selain itu juga untuk menghadapi tantangan orang-orang yang memusuhinya.

Begitu pula rasul terakhir, junjungan kita Nabi Muhammad, Rasulullah SAW. Beliau pun dikaruniai banyak sekali mukjizat sebagai bukti kerasulan beliau.

AL-QUR’ANUL KARIM

Inilah mukjizat terbesar beliau. Al Qur’an disebut sebagai mukjizat karena ia memuat keluarbiasaan dan keajaiban. Di antaranya adalah:

    •    Uslub (gaya bahasa) dan sastra yang tinggi dan indah.
    •    Menghimpun pengetahuan yang telah lalu dan yang akan datang, sehingga selalu relevan sepanjang zaman.
    •    Mengandung undang-undang yang detail dan sempurna melebihi aturan/undang-undang manapun.
    •    Menceritakan hal-hal ghaib yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali dengan wahyu.
    •    Mengabarkan janji dan ancaman.
    •    Mengandung ilmu pengetahuan tentang dunia dan akhirat.
    •    Memenuhi segala kebutuhan manusia.
    •    Berpengaruh pada hati pengikut maupun musuhnya.
    •    Keaslian yang selalu terjaga samapi hari akhir.


PEMBEDAHAN DADA BELIAU OLEH MALAIKAT

Peristiwa ini dialami oleh Raslullah SAW sebanyak empat kali.

    •    Pertama, ketika beliau masih kanak-kanak dan dalam asuhan Halimah As-Sa’diyah. Ketika itu beliau baru berusia empat tahun.
    •    Kedua, terjadi ketika beliau berusia 10 tahun
    •    Ketiga, pada waktu Malaikat Jibril datang membawa wahyu tentang pengangkatan beliau sebagai nabi.
    •    Keempat, pada waktu peristiwa Isra’ Mi’raj.


PERISTIWA ISRA’ MI’RAJ

Peristiwa luar biasa ini terjadi pada tahun 12 kenabian atau satu tahun sebelum beliau hijrah. Rasulullah SAW ‘diundang’ oleh Allah untuk mengadakan perjalanan pada suatu malam,dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian menuju Sindratul Muntaha hingga bertemu dengan-Nya di Mustawa.

Peristiwa besar ini diawali dengan pembelahan dada beliau oleh Malaikat Jibril di sumur  zam-zam untuk dibersihkan dari segala kotoran dan diisi dengan hilm (kebijaksanaan), ilmu dan keyakinan. Setelah operasi tersebut, beliau dibawa oleh kendaraan yang disebut Buraq menuju Masjidil Aqsha, Palestina. Sepanjang perjalanan ke  masjid kiblat pertama umat Islam ini, beliau diperlihatkan banyak peristiwa yang merupakan ibrah (pelajaran) bagi manusia, baik yang taat maupun maksiat. Tiba di Masjidil Aqsha, beliau menjadi imam shalat bagi seluruh Nabi dan Rasul.

Dari Masjidil Aqsha, beliau dengan ditemani Malaikat Jibril menuju Sidratul Muntaha, tempat tertinggi bagi alam Malaikat. Kepada beliau juga diperlihatkan surga dan neraka beserta calon penghuninya. Dari Sidratul Muntaha, baliau dinaikan ke Mustawa tanpa ditemani oleh Malaikat Jibril. Di sana, beliau melihat Tuhan dengan segala keagungan-Nya tanpa dibatasi oleh suatu arah dan tempat (Maha Suci Allah dari segala sifat yang dimiliki makhluk). Setelah berdialog dengan Allah, beliau menerima perintah shalat. Semula perintah shalat yang dibebankan kepada beliau dan umatnya sebanyak 50 kali. Namun, para Nabi dan Rasul menganjurkan agar beliau meminta keringanan, hingga akhirnya perintah shalat diwajibkan sebanyak 5 waktu dalam sehari semalam.

Sepulang dari perjalanan tersebut, banyak yang tidak percaya akan peristiwa ini. Namun dengan izin Allah, Nabi menujukkan mukjijzatnya, berupa cerita (kepada kaum Quraisy) tentang cirri-ciri Baitul Maqdis saat beliau ditanya oleh orang-orang yang tak percaya pada peristiwa Isra’Mi’raj.

MUSUH PUN TUNDUK

    •    Peristiwa ini terjadi ketika beliau keluar rumah berangkat hijrah. Ketika kaum musyrik Quraisy bersepakat membunuh baliau. Semua orang yang mengepung mengantuk hingga beliau dengan leluasa  dapat melewati mereka.
    •    Dalam perjalanan hijrah ke Madinah, seorang pemuda Quraisy bernama Suraqah bin Malik mengejar beliau. Namun kaki kuda yang ditunggangi pemuda tersebut terperosok ke tanah dan terjepit didalamnya.
    •    Dalam perang Badar, beliau mengambil segenggam pasir lalu dilemparkan ke arah pasukan musuh. Pasukan yang terkena lemparan butiran pasir itupun jatuh terjungkal dan mati. Demikian pula yang beliau lakukan pada Perang Hunain, sehingga musuh bisa dikalahkan.


DOA YANG TERKABULKAN

Sebagai makhluk yang paling dicintai Allah, beliau mendapat keistimewaan berupa terkabulnya setiap doa beliau kepada Allah. Diantara doa beliau yang kemudian waktu terkabul adalah:

    •    Ketika beliau memohon kepada Allah agar agama Islam diperkuat dengan masuknya Umar bin Khathab RA, tak berapa lama Umar pun masuk Islam.
    •    Beliau pernah memohon kepada Allah agar Ali bin Abi Thalib disembuhkan dari penyakit mata dan dikebalkan badanya dari gangguan udara panas dan dingin. Seketika itu juga doa beliau terkabul. Ali pun dapat memimpin pasukan bersenjata dalam perang Khaibar melawan Yahudi.
    •    Dalam suatu peperangan, mata Qatadah bim Nu’man terkena senjata musuh hingga biji matanya keluar. Dengan pertolongan Allah SWT, Rasulullah SAW berhasil mengembalikan biji mata Qatadah dan sembuh seketika itu juga. Bahkan setelah itu, mata Qatadah adalah mata paling indah yang pernah ada di dunia.
    •    Beliau berdoa kepada Allah agar Abdullah bin Al Abbas dikaruniai kecerdasan untuk mentakwil dan mendalami ilmu-ilmu agama.
    •    Unta milik Jabir yang pada mulanya kalah berpacu, namun setelah Rasulullah SAW mendoakan, unta itu menang berpacu saat itu.
    •    Ketika beliau berdoa agar Anas dikaruniau umur panjang, mempunyai banyak harta dan anak keturunan, ini pun menjadi kenyataan.
    •    Pohon kurma  milik Jabir yang mula nya berbuah sedikit, setelah didoakan Rasulullah SAW bisa berbuah banyak sehingga Jabir dapat melunasi hutangnya. Bahkan kurmanya masih sisa 13 takar (wusq).
    •    Beliau memohon agar Allah menurunkan hujan. Seketika itu juga hujan turun selama satu minggu penuh. Setelah itu beliua memohon agar hujan berhenti. Awan pun sirna dan cuaca berubah menjadi cerah seketika.
    •    Utaibah bin Abu Lahab, orang yang sangat memusuhi Allah dan Rasulullah SAW, atas permohonan Rasulullah SAW ia mati diterkam singa di daerah Az-Zaqa, negeri Syam.


MENDENGAR UCAPAN TUMBUHAN DAN HEWAN

    •    Pada malam bi’tsah Rasulullah SAW, batu dan pohon mengucap pada beliau, ”Assalamu’alaikum, yaa Rasulullah!” Mengenai hal itu beliau mengatakan, “Aku tahu bahwa ada batu di Makkah yang mengucap salam kepadaku beberapa saat sebelum aku diangakt menjadi nabi dan rasul.” Ada pula sebatang pohon yang bergerak mendekati beliau, dan batu yang digenggam beliau bertasbih (mengagungkan kesucian Allah).
    •    Ketika beliau hendak dibunuh dengan racun dalam makanan yang dihidangkan oleh seorang perempuan Yahudi bernama Zainab binti Al-Harits, tiba-tiba daging masakan didalam hidangan itu memberi tahu beliau. Peristiwa ini terjadi pada waktu Perang Khaibar, tahun ketujuh hijiriyah.
    •    Seekor unta mengeluh kepada beliau karena diberi makan sedikit dan dipekerjakan terlalu berat.
    •    Beliau juga mendengar mimbar tempat beliau shalat menangis hendak beliau tinggalkan.


SABDA YANG MENJADI NYATA

    •    Beliau memberitahu para sahabat behwa kelak akan ada sekelompok dari umatnya yang akan mengarungi samudera, termasuk orang wanita bernama Ummu Haram binti Milhan. Ucapan beliau menjadi kenyataan.
    •    Kepada Utsman bin Affan RA beliau memberitahu bahwa baliau akan mengahdapi malapetaka besar. Itu juga terbukti kemudian hari. Utsman RA mati terbunuh saat menjabat Khalifah.
    •    Kepada kaum Anshar beliau mengatakan, ”Sepeninggalku, kalian akan mengutamakan golongan sendiri.” Itu juga terbukti beberapa saat setelah beliau wafat.
    •    Mengenai cucu beliau, Al Hasan bin Ali RA beliau berkata, ”Anakku ini –Hasan- seorang sayyid (pemimpin). Denganya Allah akan mendamaikan dua golongan besar kaum muslim.” Itu terbukti dengan terwujudnya kesepakatan antara pengikut Imam Ali bin Abi Thalib dan para pengikut Mu’awiyah bin Abi sufyan.
    •    Beliau memberitahu para sahabat tentang tebunuhnya Al Unsi Al Khadzdzab dan orang yang membunuhnya. Padahal dimalam terjadinya pembunuhan itu Al Unsi berada di Shan’a (Yaman) dan beliau di Madinah.
    •    Kepada Tsabit bin Qas beliau berkata, ”Engkau akan hidup terpuji dan akan mati syahid.” Kemudian terbukti  Tsabit gugur sebagai pahlawan dalam perang di Yamamah.
    •    Seorang lelaki meninggalkan agama Islam (murtad) dan kembali bergabung dengan kaum musyrik. Ketika Rasulullah SAW mendengar kematianya, beliau berkata, “Bumi tidak sudi menerimanya.” itu terbukti ketika mayatnya dibuang kelaut.
    •    Seorang lelaki diminta Rasulullah SAW supaya makan dengan tangan kananya, tetapi ia menjawab, ”Tidak bisa.” Beliau berkata, ”Engkau tidak akan bisa.” Sejak itu orang tersebut tidak bisa sama sekali mengangkat tangan kananya sampai ke mulut.
    •    Pada hari jatuhnya kota Mekkah ke tangan kaum muslim, banyak berhala terpancang di sekitar Ka’bah. Rasulullah dengan tongkat pendeknya menuding ke arah berhala-berhala itu sambil berucap, ”Kebenaran telah tiba dan kebatilan pasti lenyap.” Seketika itu juga berhala-berhala runtuh berjatuhan.


MEMPERBANYAK MAKANAN YANG SEDIKIT

    •    Kambing betina milik Ummu Ma’bal yang belum pernah kawin, ketika teteknya diusap-usap Rasulullah SAW, tiba-tiba dapat mengeluarkan susu demikian banyak untuk diminum rombongan beliau bersama Ummu Ma’bad. Bahkan dapat mengisi penuh qirbah (wadah air tebuat dari kulit) untuk bekal melanjutkan perjalanan ke Madinah.
    •    Dalam perang Khandaq, Rasulullah SAW memberi makan kaum muslim dengan setakar gandum. Semuanya makan dengan kenyang, bahkan sisanya masih banyak. Pada waktu makan berikutnya beliau hanya mempunyai sedikit kurma bagi kaum muslim. Beliau lalu menyuruh orang untuk mengumpulkan sisa-sisa kurma yang tercecer di atas hamparan, lalu beliau berdoa memohon berkah. Sisa-sisa kurma yang terkumpul itu kemudian menjadi banyak hingga cukup dibagikan kepada semua pasukan. Pada saat lain Abu Hurairah RA menceritakan kesaksianya sendiri sebagai berikut, ”Dari kurma itu saya keluarkan sekian takar untuk perjuangan di jalan Allah. Kami sendiri makan dari kurma itu dan baru habis pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan RA.”
    •    Abu Hurairah RA menuturkan, pada suatu hari dia meminta Rasulullah SAW berdoa agar tsarid (Semacam bubur kental terbuat dari terigu dan susu) yang berada dalam qush’ah (piring besar) cukup untuk dimakan bersama oleh beberapa orang sahabat. Setelah berdoa beliau mengambil sejumput tsarid yang berlepotan dipinggir qush’ah dengan jari-jari tanganya, kemudian berkata, ”Makanlah, Bismillah!” Abu Hurairah mengakhiri penuturanya dengan mengucap, ”Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, baru makan sedikit aku sudah kenyang.”


AIR MEMANCAR DARI JARI-JARI BELIAU

    •    Suatu ketika terjadi air memancar dari sela-sela jari Rasulullah SAW hingga semua rombongan beliau dapat minum sepuas-puasnya dan dapat berwudhu. Padahal jumlah mereka tidak sedikit, yaitu sekitar 1400 orang.
    •    Pada suatu musim kering, ditengah perjalanan beserta rombongan, beliau SAW menyuruh orang mencari air semangkok. Kemudian Rasulullah SAW memasukkan jari-jarinya ke dalam air seraya berkata, ”Marilah semua ke sini!” Semua datang mendekat kepada beliau lalu berwudhu. Air didalam mangkok itu tak kunjung habis, padahal jumlah mereka sekitar 70 sampai 80 orang.
    •    Dalam perang Tabuk hampir tak seorang pun dari pasukan muslim yang menemukan air untuk diminum. Karena nyaris tak sanggup menahan dahaga, mereka melapor kepada Rasulullah SAW. Beliau lalu mengambil anak panah dari Kinanah lalu menancapkan di tanah. Air pun memancur sangat deras hingga semua pasukan yang berjumlah 30.000 orang dapat minum sepuasnya.
    •    Di suatu tempat yang disinggahi Rasulullah SAW penduduknya mengeluh karena semua air di sana bercampur kotoran dan tidak dapat diminum. Beberapa  orang sahabat beliau mendatangi sebuah sumur lalu meludahinya. Tiba-tiba sumur  itu menggelegak penuh dengan air sejuk dan bersih, hingga semua penduduk dapat tertolong.


MUKJIZAT-MUKJIZAT LAINYA

    •    Bulan terbelah menjadi dua. Peristiwa ini terjadi pada tahun 9 kenabian. Merupakan mukjizat samawi yang belum pernah terjadi pada nabi-nabi sebelumnya.
    •    Pada suatu hari seorang wanita datang menghadap Rasulullah SAW membawa anak kecil berkepala botak karena penyakit. Rasulullah SAW lalu mengusapkan tanganya pada kepala anak itu, dan seketika itu juga rambutnya tumbuh meratai kepala dan sembuh pula penyakit yang dideritanya. Ketika penduduk Yamamah mendengar kejadian itu, ada seorang wanita  mencoba datang kepada Musalaimah (tokoh setempat yang mengaku dirinya nabi) membawa juga anak kecil tidak berambut. Musailamah mengusap kepalanya berulang-ulang, tetapi kepala anak itu tetap botak.
    •    Dalam perang Badar, pedang ukayah patah. Rasulullah SAW memberinya sebatang kayu sebagai pengganti. Di tangan Ukayah kayu itu berubah menjadi pedang. Usai perang, kayu itu tetap ia pegang.
    •    Dalam perang Khandaq (Perang Ahzab) pasukan muslim menghadapi kesulitan memecahkan sebuah batu besar dan keras pada saat mereka sedang menggali parit-parit pertahanan. Batu yang tak dapat dipecah dengan palu besar itu pada akhirnya dipukul oleh Rasulullah SAW dengan tangan hingga hancur berkeping-keping.
    •    Seorang yang menderita patah kaki datang kepada Rasulullah SAW memohon pertolongan. Lalu beliau mengusap kaki yang patah itu, dan sembuhlah seketika, hingga orang itu seolah-olah tidak pernah sakit sebelumnya.


Demikianlah sebagian di antara bentuk-bentuk mukjizat Rasulullah SAW yang sebenarnya masih banyak sekali. Semoga dengan mengetahui mukjizat beliau ini bisa semakin menambah kecintaan kita kepada beliau. Wallahu’alam

(Disarikan dari buku Ringkasan Sejarah Nabi Muhammad SAW, Muhammad bin Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani, pustaka hidayah)

Minggu, 04 Juli 2010

HAL GHAUTSU HADZAZ ZAMAN

Kalimah “GHOUTSU” makna aslinya pertolongan. Kemudian bermakna isim faa’il, orang yang memberi pertolongan. Boleh disebut “PENUNTUN” atau “PEMBIMBING”. Penuntun kepada kebaikan dan kebagusan, Pembimbing kepada keselamatan dan kebahagiaan yang diridlai Allah Wa Rasuulihi SAW. Fiddunya wal akhiroh. Penuntun dan penarbiyah khususunya dalam bidang menuju whusul sadar makrifat kepada Allah Wa Rasuulihi SAW dan penolong dari berbagai kesulitan dan kesusahan dan problem-problem kehidupan lainya.

Selanjutnya di dalam dunia Auliya Allah, yang dimaksud: “GHOUTS” adalah “SULTONUL AULIYA” atau ”QUTHBUL AQTHOB” yakni pemimpinya para Auliya Allah rodliyallohu Ta’ala ‘anhum. Jadi “GHOUTSU HADZAZ ZAMAN” adalah pemimpinya para Wali Allah pada zaman sekarang.

Sunnatulloh berjalan bahwa tiap-tiap masa, bijaahi Rasuulillahi Sayyidinaa Muhammadin shalallohu’alaihi wassalam, memilih salah satu diantara hamba-NYA dijadikan Sulthonul Auliya di dalam zaman yang bersangkutan. Disebut “Ghoutsu Zamaniah”. Jika meninggal dunia diganti, meninggal diganti dan seterusnya sampai dekat hari kiamat. Didalam Kitab Masyaariqul-Anwar disebutkan bahwa Ghouts yang pertama kali ialah Sayyidina Hasan Bin Ali Rodliyallohu ‘Anhumaa meninggal tahun 50 Hijriyyah. Kemudian di gantikan oleh Sayyidina Husen Bin ‘Ali rodliyallohu ‘Anhumaa dan seterusnya. Antaranya lagi seperti Syekh Abdus-Salam Bin Masyisy, Syeh Abdul Qodir Al Jaelani, Syekh Abil Hasan Asy- Syadzili, Syekh Bahauddin An Naqsyabandi dan masih banyak lagi lainya, rodliyallohu Ta’ala ‘anhum. Masing-masing Beliau tersebut adalah Ghoutsu Zamanihi atau Sultonul Auliya di dalam zamanya. Mari kita menghaturkan hadiah bacaan Al Fatikah satu kali sebagai penghormatan ta’dhiiman wa mahabbatan kepada Beliau-beliau tersebut di atas!.

LAHUMUL ALFATIKAH

Hadits dasar adanya Ghouts yang artinya:
    Rasuululloh SAW besabda: “Allah SWT. Diatas bumi ini mempunyai 300 wali yang hatinya seperti hatinya Nabi Adam AS. 40 Wali hatinya seperti  hatinya Nabi Musa AS. 7 Wali hatinya seperti hatinya Nabi Ibrohim AS. 5 Wali hatinya seperti Malaikat Jibril AS. 3 Wali hatinya seperti hatinya Malaikat Mikail AS. Dan Seorang Wali yang hatinya seperti hatinya Malaikat Isrofil AS. Apabila yang satu meninggal, Allah SWT. Mengangkat salah satu dari 3 Wali sebagai gantinya. Apabila salah satu dari 3 ada yang meninggal Allah SWT. Mengangkat salah satu dari 5 wali sebagai gantinya dan sterusnya. Dan apabila salah satu dari 300 Wali ada yang meninggal Allah SWT. Mencarikan ganti salah satu dari orang umum. Dan tergantung mereka baik dan tidaknya alam.


Ba’dul Arifin berkata: “Seorang yang disebut dalam hadits ini, itulah Qutub dan dialah Ghouts Alaihissalam.”

Syekh Sya’roni mengatakan makna hadits di atas: ”Apabila sewaktu-waktu ada Ghouts meninggal dalam kekosongan ini Allah SWT. Mengangkat Ghouts yang lain”.

Di dalam kitab Jaami’us Shohir disebutkan sabda hadits, Rasuululloh SAW  yang artinya:

    “Di kalangan umat-KU senantiasa tidak sepi dari adanya “thoifah”  yang memperjuangkan perkara yang haq sampai datangnya Hari Kiamat.” (Riwayat Hakim dari Umar rodliyallohu ‘anh- Hadits Shoheh).


Di dalam Kitab Da’watut-Taamah halaman 23 di tafsirkan bahwa yang disebut “Thoifah” adalah “Rijaalulloh” dan “Ahlulloh” yakni “Al Aqthob” seperti sudah di fahami. Di dalam menjalankan fungsinya sebagai “Ghoutsu Zamanihi” dalam kedudukanya sebagai Ghoutsu Zaman, para Beliau tersebut tidak sama kebijaksanaanya satu sama lain. Ada yang di haruskan memplokamirkan diri seperti Syekh Abdul Qodir Al Jaelani Qoddasallohu sirohu dan Syekh Abu Hasan As-Syadzizi rodliyallohu ‘anhu. Ada lagi yang harus merahasiakan diri seperti Syekh Abdus Salam bin Masyisy dan Imam Nawawi Al Murojjeh Al Falastin rodliyallohu “anhumaa. Ada lagi yang di beri wewenang boleh merahasiakan dan boleh memproklamasikan.

Tanda-tanda atau cirri-ciri lahir dari para Beliau Ghoutsu Zamaanihi itu tidak ada yang dapat di utarakan oleh karena keadaan lahiriyahnya biasa seperti umumnya orang/ulama, akan tetapi yang jelas memiliki cirri-ciri khas batin antara lain seperti yang disebut di dalam Kitab Jaami’ul Ushuul Fil Auliya halaman 4:
    (1). Hatinya senantiasa  thawaf kepada Allahsepanjang masa. Istilahnya LILLAH BILLAH
    (2). Beliau mempunyai sirri yang dapat meneroboskepada seluruh alam, seperti meratanya roh di dalam  jasad atau seperti merembesnya air di pohon-pohonan.
    (3). Beliau menanggung (memprihatinkan) kesusahan dan kesulitan ahli dunia.


Di dalam Kitab Taqriibul Ushuul dikatakan:
    ”Andai kata tidak ada “Wahiduz-Zaman” yang senantiasa tawajuh kepada Allah memohonkan bagi perkaranya segala makhluk, tentulah datang suatu perintah Allah yang mengejutkan mereka kemudian menghancurkan mereka.”


“Wahiduz-zaman” yang dimaksud tidak lain adalah Ghoutsu zaman atau Sultonul Auliya.
Demikian antara lain fungsi dan peranan dari Ghoutsu Zaman. Tanggung jawabnya begitu berat memikirkan dan memprihatinkan masyarakat sedunia. Perjuangannya terutama berada di dalam cakrawalanya alam rohani. Sedangkan kegiatan lahiriyah juga sama dengan umumnya Ulama yakni menjalankan amar makruf nahi munkar menegakan kebenaran dan keadilan mengajak dan menuntun umat masyarakat kembali sadar kepada Allah Wa Rasuulihi SAW. Disamping itu juga tidk ketinggalan menjalankan tugas-tugas prikemanusiaan memberikan pertolongan jalan keluar dalam berbagai macam problem.

Seperti di terangkan di muka bahwa Beliau Ghoutsu Zaman itu langsung  di pilih dan di angkat oleh Allah SWT. Wallohu’alam caranya memilih dan mengangkat. Jadi bukan hasil pilihan dan angkatan sesama masnusia atau sesama Auliya sekalipun. Kita yakin bahwa para Beliau Ghoutsu Zaman adalah “atqon-naas fii zamaanihi” – paling taqwanya manusia pada zamanya. Beliau adalah insan yang Kamil Mukamil, orang sempurna dan mampu membimbing dan menjadikan orang lain menjadi sempurna. Seorang Guru Mursyid yang mampu membimbing  orang lain whusul/ sadar / makrifat kepada Allah Wa Rasuulihi SAW. Beliau adalah orang yang “AALIMUN BILLAHI WABIAHKAAMIHI”. Seorang yang ‘Arif Billah yang menguasai dan konskwen menjalankan hukum-hukum Allah. Dalam bidang Ahkaamus – Syarii’ah Beliau Ghoutsu Zaman adalah  seorang hakim yang adil dan bijaksana. Rokyu pendapatnya di dalam menetapkan suatu hukum selalu tepat dan adil karena pandangan-pandanganya di sinari oleh Nuurun-Ilaliyun yang murni sebagai buah daripada ciri khas batin dimana “Qalbuhu yathuufulloha daaiman” hatinya senantiasa thowaf kepada Allah sepanjang masa.

Didalam bidang kesadaran kepada Allah Wa Rasuulihi SAW, para Beliau Ghoutsu Zaman di karuniai hak wewenang yang di sebut “JALLAAB” dan ”SALLAAB”.

“Jallaab” = menarik mengangkat derajat dan iman seseorang.

”Sallaab”= mencabut/ melorot martabat iman seseorang.

Maka dari keterangan-keterangan tersebut di atas, perlu sekali kita mengadakan kontak hubungan dengan Beliau Ghoutsu Hadzaz Zaman rodliyallohu ‘anh. Terutama hubungan rohani atau konsultansi batin dalam segala persoalan dunia dan akherat, khususnya dalam bidang whusul/ ma’rifat/ sadar kepada Allah Wa Rasuulihi SAW. Adapun caranya hubungan ialah antara lain dengan mengetrapkan ”LILGHOUTS BILGHOUTS” seperti sudah di bahas dimuka. Firman Allah yang artinya:
    ”Maka bertanyalah kamu sekalian kepada ahli dzikir jika kamu sekalian tidak mengetahui”. (16 An Nahl: 43).  
    (Billah) dan menguasai (hukum-hukum) agama Allah yang mengamalkan ilmu-ilmu mereka semata-mata hanya mengharap ridlo Allah. (Risaalatul Mu’awanah 13)


Dapat kita sadari bahwa orang yang memenuhi ketentuan “Ahludz-Dzikir”seperti diatas terutama adalh Ghoutsu Zaman, dan pada masa sekarang ini adalah Ghoutsu Hadzaz Zaman rodliyallohu Ta’ala ‘anhu. Allah berfirman yang artinya kurang lebih:
    ”Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-KU, kemudian hanya kepada-KU-lah kembalimu, maka AKU beritakan kepadamu apa yang kamu kerjakan”. (31-Lukman: 15)


Di dalam kitab Khozinatul Asror dimuat sebuah hadits:
    “Beradalah kamu beserta Allah jika tidak bisa begitu, maka besertalah dengan orang yang beserta dengan Allah maka sesungguhnya dia mewhusulkan engkau kepada Allah apabila engkau beserta dengannya”.(Khozinatul Asror :194)


Sebuah lagi menjelaskan
    Barangsiapa bertaqlid (mengikuti) orang Alim, ia akan bertemu (kepada) Allah dengan selamat”.


”Man kaana ma’allohi”= orang yang beserta Allah yang dimaksud di dalam Hadits di atas adalah orang yang hatinya selalu ingat kepada Allah, selalu thowaf mengelilingi Allah. Dan menurut identitas batiniyah Ghoutsu Zaman seperti diterangkan di muka, jelaslah bahwa yang dimaksud “man kaana ma’allohi” tersebut pada zaman sekarang adalah Ghoutsu Hadzaz Zaman rodliyallohu ‘anhu. Begitu juga yang di maksud “Aalaamin”=orang ‘Alim tersbut di atas adalah orang yang senantiasa  sadar makrifat kepada Allah dengan mengusai serta konskwen melaksanakan hukum-hukum Allah. Dan orang yang seperti ini pada zaman sekarang tidak lain adalah Ghoutsu Hadzaz Zaman.

Klafikasi Ulama atau orang yang ‘Alim ada tiga:
    (1)    ‘Alim dalam arti ma’rifat/ mengenal /sadar kepada Allah (sadar BILLAH) dan menguasai serta melaksanakan dengan konskwen hukum-hukum Allah. ‘Alimun Billahi Wa Biakhkaamihi adalah orang yang disebut orang Kamil Mukamil = orang yang sempurna dan dapat membimbing orang lain menjadi sempurna. Beliau itulah yang kompeten dan responsible (dapat dipertanggung jawabkan) untuk dijadikan Guru Mursyid atau Guru Pembimbing. Pembimbing kepada arah kesadaran kepada Allah Wa Rasuulihi SAW. Pembimbing di dalam menjalankan hukum-hukum syareat secara benar. Pembimbing dan Pembina di dalam hubungan vertikal kepada Allah SWT. Atau ”Hablum minalloh” dan di dalam hubungan horizontal dalam kehidupan sosial bermasyarakat atau ”Hablum minannaas”.
    (2)    ‘Alim dalam arti ma’rifat/ mengenal/ sadar kepada Allah SWT (sadar BILLAH) akan tetapi tidak atau kurang mengusai hukum-hukum Allah secara luas. Ia mengerti hukum yang pokok-pokok sekedar yang di perlukan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban Syariat bagi dirinya sendiri. Dia dapat di kategorikan orang Kaamil teapi tidak atau belum Mukamil. Jadi belum boleh dijadikan Guru Mursyd yang membimbing kepada arah ma’rifat/ sadar kepada Allah Wa Rasuulihi SAW.
    (3)    ‘Alim dalam arti menguasai hukum-hukum Allah tetapi tidak atau belum ma’rifat/ sadar kepada Allah (tidak sadar BILLAH). Ilmu pengetahuan agamanya tentang hukum-hukum fikih cukup luas tetapi tidak memiliki ilmu-ilmu Hikmah. Jadi hanya boleh dimanfaatkan sebagai guru hanya bidang ilmu Syariat saja, tidak dapat dijadikan sebagai Pembimbing bidang akhlaq dan bidang whusul sadar ma’rifat kepada Allah SWT.


Jadi sekali lagi yang dapat dijadikan sebagai Guru Mursyid atau Pembimbing kepada arah sadar ma’rifat kepada Allah adalah orang ‘Alim kategori nomer satu di atas. Yakni orang ‘Alim yang al’arif Billah. Didalam Kitab Taqriibul Ushuul Litas-hiilil Whusul Fii Ma’rifat-Rabbi War-Rasul SAW, di sebutkan :
    ”Hatinya orang yang al’Arif Billah itu merupakan Hadrotulloh dan pancaindranya sebagai pintu-pintunya; maka barangsiapa yang mendekat kepadanya dengan pendekatan yang layak dan sesuai dengan kedudukanya, terbukalah baginya pintu-pintunya Hadroh.”(Taqriibul Ushuul 68)


Demikian antara lain dalil-dalil yang menunjukan kebaikan-kebaikan dan keistemewaan-keistemewaan serta perlunya hubungan dengan Ghoutsu Hadzaz Zaman, sebagai orang yang menuntun dan membimbing jalan menuju whusul ma’rifat atau sadar kepada Allah SWT Wa Rasuulihi SAW. Dan kerugian orang yang tidak dapat berhubunngan dengan orang yang Kamil Mukamil dikatakan oleh Syekh Dawud bin Makhola di dalam Kitab Taqriibul Ushuul sebagai berikut:
    “Barangsiapa hidup di dunia ini tidak bertemu dengan seseorang yang Kaamil Mukammil yang mendidiknya, maka dia akan keluar dari dunia (meninggal dunia) dalam keadaan berlumuran dosa besar, sekalipun ibadahnya seperti ibadahnya jin dan manusia” (Taqriibul Ushuul 53)
        “Duhai Ghoutsu Zaman ke pangkuan Mu salam Alloh kuhaturkan, bimbing dan didiklah diriku dengan izin Alloh, Dan arahkan pancaran sinar Nadroh Mu kepadaku yaa Sayyidi radiasi batin yang mewhusulkan aku, sadar kehadirat Maha luhur Tuhanku.” “Duhai kanjeng Nabi pemberi Syafaat Makhluq, Duhai kanjeng Nabi kekasih Alloh, kepangkuan Mu Sholawat dan salam Alloh kusanjungkan, jalanku buntu, usahaku tak menentu, cepat, cepat cepat raihlah tanganku yaa Sayyidi tolonglah diriku dan seluruh umat ini!”
         

Sabtu, 03 Juli 2010

SALLAAB DAN JALLAAB

Secara teks, kata jallaab dan sallaab tidak terdapat dalam Al Qur’an dan Al Hadits. Hal ini sebagaimana ilmu nahwu/sharaf, biologi, ushul fiqh, astronomi, juga secara teks tidak terdapat dalam Al Qur’an dan Hadits. Namun- menurut para ahlinya ilmu tersebut telah tersirat dalam Al Qur’an dan Al Hadts. Begitu pula makna jallaab dan sallaab.

jallaab memiliki arti mengangkat hal batiniyah atau lahiriyah makhluk (manusia atau lainya), dan sallaab memiliki arti mencabut/melorot hal batiniyah atau lahiriyah makhluk. Sifat atau tabiat ini merupakan karomah yang diberikan Allah SWT kepada Ghauts RA.

Kemampuan Jallaab dan sallaab ini, jika dipahami oleh mukmin yang memiliki iman yang bercampur syirik (menyekutukan Allah), dapat timbul salah pemahaman. Yakni, mukmin meyakini bahwa kemampuan jallaab dan sallaab murni semata-mata dari Allah wa Rasulihi SAW. Jallaab dan sallaab-nya Ghauts RA hanya dapat difahami oleh orang mukmin yang imanya tidak bercampur syirik.

Jallaab dapat diartikan “sifat meningkatkan”, dan sallaab sebagai ”sifat mengurangi atau menghilangkan”. kedua sifat ini pada hakikinya secara umum, ada pada setiap makhluk Allah SWT. Hanya saja beda dalam manfaat dan obyeknya. Misalnya, air dapat mencabut (sallaab) rasa haus manusia, serta dapat meningkatkan (jallaab) bagi kesehatan dan kesegaran badan. Begitu pula makhluk lain. Semestinya secara hakiki seluruh kekuatan makhluk itu milik dan dari Allah SWT. Jika jallaab dan sallaab-nya air kita terima, sedangkan jallaab seorang Ghauts kita tolak, berarti kita tergolong orang-orang yang kacau pemikiran.

JALLAAB DAN SALLAAB; SIFAT RASULULLAH SAW

Semestinya sifat ini, asal mulanya adalah sifat Rasulullah SAW. Sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (dalam Shahih Bukhari juz I dan IV), Al Hakim (dalam Al Mustadrak), Imam Baihaqi (dalam dalail an-Nubuwah juz I) dan Imam Nasa’i (Sunan Nasa’i). Di bawah ini hadits riwayat Imam Baihaqi dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
    ”Aku adalah bapaknya para pembagi, sedangkan Allah adalah Dzat Pemberi Rizki, dan Aku sedang dan akan membagi.”


Perbuatan memberi pada hakikinya adalah Allah SWT. Namun Rasulullah SAW diberi tugas oleh Allah sebagai Pembagi atau menyampaikan kepada makhluk-Nya. Dan, perbuatan membagi atau menyampaikan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, inilah maksud dari makna kata jallaab dan sallaab.

Dalam hadits riwayat Imam Abu Daud (dalam Sunan Abu Daud juz IV) dari sahabat Abud Darda’, Rasulullah SAW bersabda: ”Mohonlah kamu syafaat kepada-Ku, niscaya kamu semua akan diberi pahala. Dan sungguh Allah menentukan apa-apa yang Dia menghendaki-Nya melalui lisan Nabi-Nya.”

GHAUTS RA, PEWARIS JALLAAB DAN SALLAAB

Firman Allah, QS. Fathir: 32:
    ”Kemudian Kami mewariskan kitab (Al Qur’an) kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami.”


Dalam tafsir Tanwir al-Miqbas Min Tafsir Ibn Abbas-nya Ibn Ya’qub Al Fairuz Abaadi, dijelaskan bahwa sahabat Ibnu Abbas mengatakan: Setelah Al Qur’an di wahyukan melalui Jibril kepada Nabi Muhammad SAW, kemudian Al Qur’an (yang tersirat) diwariskan kepada hamba-Nya yang dipilih oleh Allah SWT sendiri.

Syaikh Ahmad As-Shawi dalam kitabnya Hasyiyah ‘alaa al-jalalain, menjelaskan, kata tsumma (tsumma libu’di)memiliki makna
    sebagai isyarah, jauhnya urutan waktu para pewaris dari pewaris lainya dari umat ini.
Yakni cara serah terima pewaris Al Qur’an, secara estafet, dari Nabi SAW kepada pewaris pertama, kemudian dari pewaris kedua  kepada pewaris ketiga dan seterusnya sampai sirnanya wujud ini.
    ”Maksud dari pewarisan adalah pemberian. Tujuan pemberian nama “Warisan”, sesungguhnya harta waris itu diperoleh tanpa susah payah. Begitu pula, pemberian Al Qur’an kepada pewaris (Al Ghauts), juga tanpa susah payah (tidak memakai jenjang waktu{spontanitas).”

Sedangkan Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya memberi penjelasan tentang hamba yang terpilih ini dengan:
    Beliau itu adalah umatnya Nabi Muhammad SAW yang Allah mewariskan kepadanya seluruh isi kitab yang diturunkan Allah.


Imam Qurthubi dalam kitab tafsirnya, member penjelasan ayat diatas sebagai berikut:
1.    “Pewarisan itu dapat terjadi pada manusia setelah kematian.”
2.    Makna dari kalimat: MIN ‘IBAADINAA, “Dari hamba Kami”, adalah:
    ”Mereka mewarisi kitab Al Qur’an. Artinya, sesungguhnya perpindahan pewarisan itu (secara estafet dari satu kepada yang lain. (Sebagaimana pewarisan) yang difrimankan Allah:  “Dan Sulaiman mewarisi (kerajaan dan kenabian) Nabi Dawud.” (QS. An Nahl: 16), “mewariskan kepadaku, dan menerima warisan dari keluarga Ya’Qub.” (QS. Maryam: 6). Maka, jika kenabian saja dapat diwariskan, demikian pula kitab Al Qur’an.”


Ayat sebelumnya (ayat ke 31) dalam surat Fathir, Allah SWT menjelaskan bahwa kitab Al Qur’an (tersurat dan tersirat) diwahyukan kepada Rasulullah SAW.
    ”Dan Dia (Allah) Dzat yang mewahyukan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an), itulah yang benar, dengan membenarkan sesuatu yang ada pada-Nya.”


Untuk menjaga hubungan arti dua ayat ini, Allah SWT memulai ayat 32 dengan kata: =tsumma “kemudian”. Artinya, setelah diwahyukan yang tersurat dan tersirat kepada Nabi Muhammad SAW –dan karena beliau SAW pulang ke rahmatullah- kemudian Al Qur’an yang terisrat diwariskan kepada salah satu hamba Allah SWT yang dipilih dan dikehendaki-Nya.

Dalam kitab Dalail an-Nubuwah-nya Imam Baihaqi, tertulis hadits dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:
    ”Mewarisi ilmu ini, orang-orang terbaik pada setiap generasi. Mereka menepis penyimpangan kaum ekstrim, membongkar pemalsuan kaum ahli bathil dan mematahkan takwil (pengalaman) kaum jahil


Dalam kitab “Syawahidul Haq” halaman 414 diterangkan, bahwa pewaris agung sirri Nabi Muhammad SAW adalah Ghauts RA.
    ”Pewaris sirri pimpinan para rasul yang paling agung adalah Al Qutub Al Ghauts.”

Jallaab dan sallaab, ada yang bersifat makro atau kolektif (untuk keseluruhan makhluk, sehingga bermanfaat untuk seluruh makhluk), dan ada yang bersifat mikro atau individual (manfaatnya untuk setiap individu makhluk).

JALLAAB DAN SALLAAB SECARA MAKRO

Karomah jallaab dan sallaab yang berisfat makro ini dipancarkan oleh Ghauts RA ke seluruh makhluk alam sebagai tugas pokok yang diterima dari Allah SWT. Karomah ini dimiliki oleh para Ghauts RA, baik yang merahasiakan diri atau yang menampakkan diri.

Keberadaan Al Ghauts RA serta segala karomahnya (termasuk jallaab dan sallaab) telah di isyaratkan dan dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam beberapa haditsnya, antara lain:

Hadits riwayat Abu Nuaim dan Ibnu Asakir, yang tertulis dalam beberapa kitab, antara lain kitab Al Hawi lil Fatawi-nya Imam Suyuti, Syawahid al-Haq-nya Syaikh An Nabhani, Tafsir Sirajul Munir-nya Syaikh Khatib Syarbini, Tanwirul Kutub-nya Syaikh Amin Al Kurdi, dan masih banyak kitab lainya.
Dari Ibnu Mas’ud RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:
    Sesungguhnya, Allah memiliki 5 orang hamba yang hatinya sama dengan hati Jibril AS, 3 orang hamba yang hatinya sama dengan hati Mikail AS, dan 1 orang hamba yang hatinya sama dengan hati Isrofil AS. Apabila yang seorang itu (Al Wahid) meninggal, Allah menggantikan kedudukanya dari yang tiga, dan apabila meninggal seseorang dari jumlah yang tiga, Allah menggantikanya dari jumlah yang lima. Sebab mereka, makhluk dihidupkan dan dimatikan, diberi hujan dan tanaman ditumbuhkan, dan marabahaya ditolak atau di cabut. Seseorang bertanya kepada Ibnu Mas’ud: Bagaimana seseorang itu menghidupkan dan mematikan? Sahabat ini menjawab: Mereka meminta kepada Allah untuk memperbanyak manusia, maka diperbanyaklah manusia, mereka meminta kehancuran orang-orang yang suka berbuat durhaka, maka hancurlah orang-orang itu, mereka meminta diturunkan hujan, maka turunlah  hujan itu, mereka meminta agar bumi di tumbuhi tanam-tanaman, maka diperkenankanlah permintaanya. Mereka berdoa dan dengan doanya itu terhindarlah balak dan malapetaka.”


Kitab-kitab tersebut menjelaskan bahwa dimaksud (Al Wahidu) hamba yang satu didalam hadits tersebut adalah (Al Quthbu) (Al Ghauts).
Jallaab dan sallaab berlangsung melalui proses sinar radiasi batin dan doanya kepada Allah SWT, sebagaimana yang tercermin pada bagian akhir hadits di atas, yang artinya, ”…. Diantara mereka ada orang yang menghidupkan dan mematikan, memberi hujan dan menumbuhkan, dan menolak mara bahaya.”
Dalam hadits lain yang dari sahabat ‘Ubadah Ibn Shamit, riwayat Imam Ahmad, Thabrani dan Abu Nuaim, Rasulullah SAW bersabda:
    ”Tidak sepi di kalangan umatku dari tiga puluh orang hamba. Sebab merekalah bumi tetap berdiri tegak, sebab mereka makhluk diberi hujan, dan sebab mereka, manusia ditolong (oleh Allah).”

Dalam kitab “Al Yawaqit wal Jawahir” nya Syaikh Abdul Wahab As Sya’rani, juz II halaman 80 juga dijelaskan:
    ”Tidak akan sepi (kosong) di setiap zaman dari adanya seorang Rasul (litajdid- untuk pembaharuan). Dia adalah Al Qtuthbu (Al Ghauts). Beliau dijadikan Allah sebagai tempat memancarkan sinar pemeliharaan-Nya kepada alam semesta. Dan melalui Beliaulah bercabang-cabang pemeliharaan Allah terhadap seluruh alam atas dan alam bawah.”


JALLAAB DAN SALLAAB SECARA MIKRO

Karomah ini diberikan oleh Allah SWT secara umum kepada Al Ghauts RA yang diperintah menampakkan diri. Namun kadang juga diberikan kapada Al Ghauts RA yang merahasiakan diri. Karomah ini, sebagai kesimpulan dari arti beberapa hadits shahih. Antara lain hadist riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA.
    ”Barang siapa taat kepada-Ku (Rasulullah), berarti ia taat kepada Allah. Dan barang siapa durhaka kepada-Ku, berarti ia durhaka kepada Allah. Dan brangsiapa yang taat kepada Amir-Ku, berarti taat kepada-Ku, dan barangsiapa yang durhaka kepada Amir-Ku, berarti ia durhaka kepada-Ku.”

Didukung beberapa hadits dan Al Qur’an, kaum sufi berdasar ilmu mukasyafah-nya menerangkan, bahwa  yang dimaksud “Amir” dalam hadits ini adalah Al Ghauts RA. Dengan kata lain, hadits di atas diterjemahkan dengan, ”…Taat kepada Al Ghauts RA, berarti taat kepada Rasulullah SAW, yang sekaligus taat kepada Allah SWT. Dan, durhaka kepada Al Ghauts RA berarti durhaka kepada Rasulullah SAW dan sekaligus durhaka kepada Allah SWT.”
Juga dapat disimpulkan, ”Taat kepada Al Ghauts RA menjadi penyebab meningkatnya (jallaab) iman kepada Rasulullah SW, yang sekaligus iman kepada Allah SWT. Dan, durhaka kepada Al Ghauts RA menjadi penyebab melorotnya (sallaab) iman kepada Rasulullah SAW, yang sekaligus melorotnya iman kepada Allah SWT.”
Dalam riwayat Bukhari dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
    ”Sesungguhnya Allah SWT berfirman: Barangsiapa yang memusuhi kekasihku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.”


Orang yang dimurkai dan diperangi oleh Allah SWT, adalah orang yang imanya melorot, atau bahkan tercabut (sallaab). Penyebab kemurkaan Allah tersebut adalah rasa benci dan memusuhi waliyullah (apalagi berpangkat Al Ghauts RA). Dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda;
    ”Barangsiapa yang membenci sesuatu yang datang dari Amirnya, maka bersabarlah. Karena berangsiapa yang keluar dari Sultan (apalagi Sultanul Auliya) sejengkal saja, maka dapat mengakibatkan mati sebagaimana matinya orang kafir jahiliyah.”


Terjadinya kematian jahiliyah, karena iman tercabut (sallaab). Dan ketercabutan iman diakibatkan memusuhi membenci Sultanul Auliya’.
Sedangkan jallaab dan jallaab-nya Al Ghauts RA , pelaksanaanya secara rohaniyah. Yakni, dengan nadrahnya yang terpancar dari jiwa sucinya ke dalam jiwa murid atau orang yang memusuhi dan membencinya. Dengan sinar nadrahnya ini, iman sesorang dapat bertambah, bila mancintai dan mendekatinya dengan cinta dan pendekatan yang semestinya, akan tersebut.

Syaikh Muhammad Wafa (w 801), Guru Agung Pemandu kaum sufi pada zamanya, menyimpulkan makna hadits diatas sebagai berikut:
    ”Hai orang arif (apalagi Amirul Arifin/ Al Ghauts RA) itu, hadrah (lambang kehadiran) Allah. Barangsiapa mendekat kepadanya dengan cara pendekatan yang semestinya, maka akan terbukalah baginya pintu-pintu kehadiran (Allah).”


Terbukanya kesadaran hati seseorang tentang kehadiran Allah SWT merupakan sifat jallab-nya Al Ghauts RA.

PELAKSANAAN JALLAAB DAN SALLAAB

Dalam hadits riwayat Bukhari dari Anas Ibn Malik dijelaskan, bahwa menjelang keberangkatan Mi’raj ke langit, Malaikat Jibril (makhluk; bukan Khaliq), atas perintah Allah SWT, meningkatkan (jallaab) iman Rasulullah SAW sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
    ”Atap rumaku terbuka, saat itu Aku berada di Makkah. Jibril turun dan membelah dada-Ku. Kemudian mencucinya dengan air zam-zam. Kemudian di datangkan satu bejana yang terbuat dari emas, yang berisi Hikmah dan iman. Lalu (iman dan hikmah) dituangkan kedalam dada-Ku, kemudian (dada-Ku) ditutupnya kembali.”


Perbuatan Jibril AS “menuangkan” iman dan hikmah ke dalam dada Rasulullah SAW, dapat dikatakan perbuatan jallaab. Yang secara lahiriyah dilakukan oleh makhluk(Jibril AS).

Demikian pula pelaksanaan jallaab dan sallaab yang dilakukan oleh  Rasulullah SAW dan Al Ghauts RA. Dengan sinar nadrahnya, iman dan hikmah di tuangkan kedalam hati manusia yang mencintai-Nya.

JALLAAB DAN SALLAAB GHAUTS ZAMAN DAHULU

1.    Pada masa Al Ghauts fii zamanihi Syaikh Syaiban Ar Ra’iy QS wa RA (w 197H, seorang Ghauts RA yang buta huruf). Imam Hambali meragukan kebesaran rohani dan kewalian Syaikh ini. Kepada Imam Syafi’i, Imam Hambali bercerita, karena ia kurang percaya dengan keberadaan dan kedudukan sang Syaikh, maka ia ingin mencoba sejauh mana ilmu Syaikh tadi. Tapi Imam Syafi’i melarangnya. Namun karena Imam Hambali tetap memaksa, akhirnya iapun kesampaian juga melaksanakan niatnya itu. Setelah berdiskusi dengan sang Syaikh, Hambali tercengang keheranan dengan kemampuan syaikh yang buta huruf ini serta malu kepada Allah SWT, sampai-sampai ia jauh pingsan di hadapan sang Syaikh. Setelah sadar dari pingsanya, Imam Hambali mengakui kebesaran rohani dan kewalian sang syaikh. (Risalah al-Qusayriya)

2.    Pada masa Al Ghauts fii zamanihi Syaikh Abdul Qodir Jaelani QS wa RA, ada salah seorang waliyullah yang memiliki karomah dapatt berjalan diangkasa. Suatu saat, waliyullah ini berjalan-jalan di atas angkasa (peristiwa ini dilihat banyak orang). Dalam hati waliyullah ini berbisisik, akulah manusia yang paling tinggi karomahnya. Syaikh Abdul Qadir (atas kehendak Allah semata) yang dapat mendengarkan atas hati waliyullah ini, berkata di hadapan muridnya: Buta mata hatimu, sehingga kamu merasa tertinggi. Setelah beliau berkata begitu, jatuhkah waliyullah ini  dari angkasa di hadapan Syaikh dan para murid. Waliyullah ini menyadari jika kejatuhanya karena hatinya su’ul adab dengan syaikh. Akhirnya ia mohon ampun dan idzin untuk menjadi murid syaikh. (Lujain ad-Dani )

3.    Jallaab. pada masa Al Ghauts fii zamanihi Syaikh Zakaria Al Anshari QS wa RA. Imam Muhammad Al Juwaini (buta matanya), dalam salah satu penyampaian mata kuliyahnya di hadapan mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo Mesir, bercerita bahwa waliyullah dan Al Ghauts RA serta karomahnya itu tidak ada. Semua itu hanya bualan kaum sufi belaka. Imam Ibnu Hajar Al Haitami sebagai mahasiswa termuda (waktu itu berumur 14 tahun), melakukan interupsi kepada dosenya tersebut, seraya berkata: ”Pak Dosen, Anda telah mengingkari keberadaan Waliyullah. Beranikah anda saya ajak menghadap kepada ulama yang menguasai dan memahami hal tersebut serta diskusi secara ilmiyah?” “Siap dan aku berani” jawab Syaik Al Juwaini. Seusai penyampaian mata kuliah, mereka menghadap Syaikh, Al Juwaini berkata: “Tuan, doakanlah saya agar mata saya sehat kembali.” Amin, amin, amin” jawab syaikh. Al-Haitami berkata sang syaikh: ”Guru, apakah waliyullah, wali autad dan wali Qutub (Al Ghauts), itu benar-benar ada?” “Ada anakku” jawab syaikh. Al-Haitami bertanya kembali: ”Seandainya ada orang yang mengingkari bagaimana Guru?” “Siapa orang itu anakku?”  jawab syaikh. Al Juwaini ini Guru” jawab Al Haitami. Kemudian Syaikh Al Anshari berkata: ”O.. kamu Syaikh Muhammad (perkataan ini di ulang sampai tiga kali)”. Spontan saja Al Juwaini gemetar badanya serta matanya dapat melihat kembali. Sambil berlari dihadapan syaikh, Al Juwaini berkata: ”Guru, sekarang aku percaya kalau waliyullah itu memang ada dan aku berkeyakinan bahwa wali Quthub (Al Ghauts) saat ini adalah Tuan Guru sendiri. (Syawahid Haq-nya Syaikh An Nabhani RA)

4.    Pada tahun 1962, Dr. dr. Ibrahim Hasan direktur rumah sakit “Ain Syams” Kairo bercerita: ”Saya memiliki teman (ulama yang terkenal di Mesir). Teman ini bercerita kepada saya, bahwa ia berkali-kali mimpi bertemu Rasulullah SAW. Namun suatu saat, lama sekali ia tidak bermimpi melihat Rasulullah SAW. ia pun sangat susah sekali. Namun pada suatu malam, ia bisa bermimpi lagi bertemu Rasulullah SAW. Kepada Beliau SAW ia bertanya: ”Wahai Rasulullah, apa sebab dalam waktu yang lama Paduka tidak bersedia menemui hamba?” jawab Rasulullah SAW: ”Bagaimana AKu menemui kamu, sedangkan ditanganmu ada kitab ini” (Yaitu kitab “Nailul Amani fi raddi alan Nabhani” –kitab ini kontra dengan kitab “Jami’ Karamah Al Auliya” nya An Nabhani, serta kontra dengan prinsip kaum sufi). Setelah aku bangun, pagi harinya aku membakar kitab Nailul Amani. Setelah aku membakar kitab tersebut, malamnya ketika tidur, aku mimpi bertemu Rasulullah SAW yang tersenyum gembira kepadaku.” ( Kitab Jami’ Karamah Al Auliya-nya Syaikh An Nabhani )

Menyibak Jalan Menuju Allah SWT

Siapa yang mencari Tuhan dengan akal sebagai petunjuknya, Tuhan akan mendorongnya ke arah kebingungan yang sia-sia (Al Hallaj)

Penggalan puisi dari tokoh besar sufi di atas menerangkan betapa sulitnya seorang hamba untuk mencari Tuhan dengan yang sebenar-benarnya, bila hanya dengan akal belaka. Sebab satu-satunya petunjuk menuju Tuhan adalah Tuhan sendiri.

Hal tersebut dapat dilihat tatkala Tuhan menciptakan akal. Kemudian Tuhan bertanya: ”Siapakah Aku ini?” Maka akal pun bungkam. Karena itu Dia mengolesinya (secara harfiah, ”diolesei celak mata”) dengan cahaya ke Esaan (Wahdaniyah). Setelah itu, akal seraya berkata: ”Engkaulah Tuhan, tiada Tuhan selain Engkau.” Dengan begitu, akal tidak memiliki kemampuan untuk mengenal Tuhan, kecuali lewat perantaraan Dia sendiri.

Akal, menurut pemerian Ibn Atha, merupakan alat untuk mencapai segala sesuatu yang berhubungan dengan hamba,  bukan untuk mencapai Tuhan. Dengan kata lain, bahwa untuk dapat mencapai Tuhan, dibutuhkan suatu petunjuk (hidayah). Dan ini harus di mohonkan, sedangkan permohonan kepada Allah itu pun sudah merupakan hidayah, yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-Nya

Oleh karena itu, tidak sedikit umat Islam yang kemudian melirik  pada ajaran yang disebut tarekat. Yakni ajaran yang menekankan keseimbangan kehidupan, lahiriah dan batiniyah.

Secara harfiah, tarekat (al-thoriqoh) berarti jalan, cara, atau metode untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta, taqarruban ilallah yang sumbernya firman Allah:
    ”… Untuk tiap umat di antara kamu, Kami berikan jalan (tata cara pelaksanaanya) yang terang….” (QS. Al Maidah: 48)
. Dan firman-Nya lagi,
    ”Barang siapa berusaha dengan sungguh-sungguh (mujahadah) mencapai Kami (Tuhan), benar-benar akan Kami tunjukkan  jalan-jalan Kami.” (QS. Al Ankabut: 69).


Tarekat dapat juga dimaksudkan menjalankan kewajiban agama dengan cara lebih berhati-hati, dengan menjauhkan hal-hal yang subhat dan melakukan keutamaan-keutamaan ibadah sunah, setelah menjalankan ibadah wajib, seperti shalat tahajjud, shalat dhuha, shalat witir, shalat rawatib, puasa sunah, membaca Al Qur’an, bershalawat, dzikir, tasbih dan seterusnya.

Konsepsi tarekat tentang hidup tidak lepas dari konsepsi tasawuf pada umumnya. Tarekat merupakan bagian integritas dalam bentuk konstruktif, dan ditata menurut kadar psikologi manusia.

Dalam tarekat ada aturan main. Yaitu mewujudkan sikap hidup batiniah yang merasakan kehadiran Allah dalam hati. caranya dengan mengosongkan hati dari segala makhluk. Artinya, tarekat mempunyai konsepsi: kehidupan yang sebenarnya adalah hak dan milik Allah semata. Oleh karenanya, perbuatan ibadah manusia kepada Allah, harus tenggelam dalam samudera ke-Esaan-Nya (fii lujjati bahril wahdah). Hilang segala cirri pribadinya. Lebur dalam perasaan cinta (mahabbah) kepada Allah.

Dari sini sudah jelas bahwa tarekat merupakan polarisasi dari Islam, bukan suatu penyimpangan atau perbuatan yang di buat-buat dan sia-sia. Karena seorang ahli tarekat, dalam menjalankan ibadah, akan tetap berpegang pada doktrin-doktrin Islam sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi SAW. Kendati demikian, tidak tertutup kemungkinan adanya penyimpangan dalam ajaran tarekat.

Ada lima pokok yang perlu diperhatikan oleh penganut tarekat dari semua tarekat yang ada.
    Pertama, memperlajari ilmu pengetahuan yang terkait dengan pelaksanaan semua perintah yang baik yang sunah maupun yang wajib. Kedua, mendampingi guru-guru atau mursyid dan teman se-tarekat untuk melihat bagaimana cara melakukan sesuatu ibadah. Ketiga, meninggalkan segala rukhsah (kemudahan) dan takwil (utak-atik) untuk menjaga kesempurnaan amal. Keempat, menjaga dan mempergunakan waktu dan mengisinya dengan segala wirid dan doa untuk mempertebal khusyu’ dan hudur (kehadiran). Dan Kelima, mengekang hawa nafsu dan selalu menjaga diri dari kesalahan.


Ilmu dan amal dibagi dalam empat tingkat: syariat, tarekat, hakekat, dan makrifat. Tak satupun ulama sufi yang ajaran dan tarekatnya mendapat pengakuan, kalau ulama itu memperbolehkan penganutnya mengerjakan hanya salah satu dari empat tingkatan itu. Sebab, keempat tingkatan tersebut merupakan pelaksanaan agama Islam yang sempurna dan dilakukan secara professional. Syareat merupakan uraian, tarekat adalah pelaksanaan, hakekat ialah keadaan, dan makrifat adalah tujuan pokok, yakni pengenalan Allah yang sebenar-benarnya.

Kedudukan syaikh atau guru sangat penting dalam tarekat. Sebab ia tidak saja merupakan seorang pemimpin yang mengawasi murid-muridnya, agar tidak menyimpang dari ajaran Islam, tetapi juga merupakan perantara ibadah antara murid dengan Allah. Oleh sebab itu, jabatan ini tidak dapat dipangku sembarang orang, meski memiliki pengetahuan tentang tarekat. Yang penting, ia harus mempunyai kebersihan rohani atau orang yang mendapat amanat untuk membimbing murid-murid dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, seperti Syaikh Ahmad Al-Alawi, misalnya.

Syaikh Ahmad Al-Alawi, beberapa hari sebelum gurunya  wafat, Syaikh Sidi Muhammad Al-Al Buzdi, dalam tidurnya melihat seseorang masuk menuju ketempat ia duduk. Kemudian ia berdiri untuk menghormatinya dan mempersilahkan duduk sehingga keduanya duduk saling berhadapan. Tapi setelah Syaikh Al-Alawi melihatnya dengan jelas, ternyata orang yang berhadapan denganya adalah Rasulullah SAW.

Rupanya itulah yang membuat Syaikh Al-Alawi tertunduk terdiam, serasa menyesal karena tidak menghormati sebagaimana mestinya, sampai Nabi bersabda:
    ”Tak tahukah kau mengapa aku datang kepadamu?” Ia menjawab: ”Saya tak tahu mengapa, wahai Rasulullah.” Dan Nabi SAW pun bersabda: ”Sultan timur telah meninggal dunia, dan insya Allah kau akan menggantikanya menjadi sultan. Apa pendapatmu?” Syaikh itupun menjawab: ”Jika saya diberi kedudukan yang tinggi ini, siapa yang akan membantu saya, dan siapa yang akan mengikuti saya?” Lalu Nabi SAW menjawab: “Aku akan bersamamu, dan akan membantumu.”


Mendengar jawaban seperti itu, Syaikh Al-Alawi diam sehingga Nabi beranjak meninggalkanya. Syaikh Al-Alawi pun bangkit mengikuti kepergian Rasulullah, dan seakan-akan melihatnya terakhir kali, saat Nabi SAW pergi, dengan mata terbuka dan terjaga.

Kedudukan murid dalam tarekat tidak hanya berkewajiban mempelajari segala sesuatu yang diajarkan, tapi juga harus taat pada beberapa akhlak yang ditentukan untuknya.

Seorang murid tidak boleh sekali-kali menentang gurunya. Ia harus membesarkan kedudukan guru, baik lahir maupn batin. Seorang murid juga harus yakin bahwa tujuanya akan tercapai karena bimbingan gurunya. Oleh karena itu tidak boleh terpengaruh pada guru lain. Karena kalau sampai terpengaruh, maka akan menjauhkan ia dari mursyidnya. Dan si murid tadi tidak akan mendapat percikan “cahaya” (nadroh) sang guru.

Begitu patuh dan taatnya seorang murid tarekat, samapi ia tidak bisa menolak apa yang diperintahkan gurunya. Meskipun semua itu pada lahirnya tidak cocok dengan isis hatinya. Murid tarekat juga tidak boleh bertany, apa sebab gurunya berbuat demikian. Sikap dari seorang guru terkadang terlihat suatu gambaran yang kontra secara lahiriyah, namun secara batiniah itu adalah tindakan tepuji, seperti yang pernah terjadi pada Nabi Musa AS terhadap Nabi Khidir AS.

Mereka yang akan menggabungkan diri pada suatu tarekat hendaklah mengetahui nisbah atau hubungan guru-gurunya itu secara berantai sampai kepada Nabi SAW. Hal ini penting karena bantuan kerohanian yang diambil dari guru-gurunya tadi harus benar. Jika tidak benar (tidak berhubungan) sampai kepada Nabi SAW, maka bantuan itu dianggap putus dan tidak merupakan warisan (warotsah) dari Nabi SAW. Kemudian si murid tadi akan tersesat, tidak sampai pada tujuan, sebab syetan dapat masuk pada amalanya itu. Hal ini sangat berbeda dengan amalan shalawat yang digunakan untuk sarana atau jalan menuju wushul (sampai) kepada Allah. Sebab guru atau mursyid dari amalan shalawat itu ialas Shahibus shalawat itu sendiri, yakni Rasulullah SAW.

Silsilah itu merupakan hubungan nama-nama yang sangat penting yang bertalian satu dengan yang lain hingga sampai pada Nabi SAW. Silsilah yang sampai kepada Nabi itu ada yang melalui Abu Bakar RA, ada juga yang melalui Ali Bin Abi Thalib KW wa RA, Anas bin Malik RA atau sahabat yang lainya. Dari Nabi beralanjut ke Malaikat Jibril AS dan kemudian kepada Allah SWT.

Jika seorang mursyid mempunyai silsilah semacam itu, maka ia berhak mengajar tarekat pada orang lain. Syaikh Tarekat Sammaniyah misalnya, harus sampai kepada Muhammad Samman, yang kemudian kepada sahabat dan kemudian kepada Nabi. Demikian pula dari tarekat-tarekat yang lainya.

Dalam tarekat juga dikenal istilah wasilah atau wushul yang artinya perantara atau hubungan. Hal tersebut dilandasi oleh firman Allah:
    ”Carilah wasilah (perantara) yang (dapat) mendekatkan diri kepada-Nya.” (Al Maidah; 35).
Kemudian diambil pula perbandingan kisah Nabi SAW Mi’raj ke langit menjumpai Allah yang diantar oleh Malaikat Jibril. Mengantarnya Jibril ini dianggap wasilah. Disinilah ahli tarekat mengambil ibarat, bahwa mereka sebaiknya berwasilah kepada guru saat beribadah kepada Allah. Sehingga wasilah mempunyai arti khusus, yaitu jalan yang menyampaikan hambanya kepada Allah SWT.

Tarekat Naqsabandiyah mengartikan hakikat wasilah dengan tabaruk atau ‘mengambil barokah‘. Dan ini dikerjakan oleh murid-murid Syaikh An-Naqsabandi sebelum melakukan dzikir semacam ini,
    ”Yaa Allah! Aku memohon kepada-Mu dengan berkat Rasulullah SAW dan berkat guruku, agar engkau memberikan daku makrifat dan cinta kasih hatiku kepadamu.” (Kalau di Wahidiyah, redaksinya; Allahumma bihaqqismikal a’dham, wa bijaahi Sayyidina Muhammad SAW wa bibarokati Ghoutsi Hadzaz Zaman, wa a’waanihi wa sa-iri auliya-ika ya Allah, ya Allah, ya Allah radliallahu ta’ala ‘anhum).


Memang banyak aliran-aliran tarekat. Ada tarekat yang merupakan induk, yang diciptakan oleh tokoh tasawuf aqidah. Ada juga tarekat yang merupakan pecahan dari tarekat induk. Biasanya, ini sudah dipengaruhi oleh pendapat para Syaikh tarekat atau keadaan setempat atau keadaan bangsa yang menganut tarekat itu, yang tentunya memiliki corak dan ciri yang berbeda pula. Contohnya, penganut Tarekat  Maulawiyah yang di dirikan oleh Syaikh Jalaludin Rumi yang lebih dikenal di Barat sebagai ”The Whirling Dervishes” (Darwisy –penganut tarekat – yang menari-nari berputar-putar). Dan gerakan-gerakan dalam tarian itu merupakan tarian tradisional setempat yang secara turun temurun telah mendarah daging dalam diri murid-muridnya dan menjadi daya tarik langsung bagi mereka.

Dari sekian banyak tarekat, intinya tak lain untuk mencapai (memperoleh) makrifat atau menuju wushul kepada Allah SWT. Inilah akhir perjalanan mereka dan berada dalam derajat paling tinggi kesempurnaan manusia setalah Nabi.

Jika seorang hamba sudah sampai kepada kedudukan semacam ini, niscaya ia akan luruh (lebur) segala indera-inderanya. Yang ada hanya ke-Esaan-Nya semata, seperti disebutkan Hadits Qudsi:
    ”Hamba-Ku tak henti-hentinya mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan kepatuhan ikhlasnya (diluar ibadah wajib, yaitu sunah), sehingga Aku mencintainya. Dan bilamana Aku telah mencintainya; Aku Adalah Pendengaranya, yang denganya ia mendengar; dan Penglihatanya, yang dengan ia melihat; dan lidahnya, yang denganya ia berucap; dan Tanganya, yang denganya ia memikul; dan Kakinya, yang denganya ia berjalan.”


Dari hadits Qudsi diatas, tak dapat dibayangkan bagaimana kedekatan Tuhan kepada hamba-Nya. Sebagaimana Allah berfirman:
    ”Kami (Tuhan) lebih dekat kepadanya (manusia) daripada urat lehernya.” (QS. 50: 16).
Dengan begitu, sahabat Abu Ubaidah RA, mengatakan;
    ”Aku tidak pernah melihat sesuatu tanpa melihat Tuhan lebih dekat kepadaku daripada sesuatu itu.”
Inilah yang disebut makrifat.

Melalui shalawat Wahidiyah yang memiliki Faedah menjernihkan hati dan makrifat Billah, kita di tuntun untuk mendekatkan kepada Allah. Kedekatan yang lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Bahkan jika kita mampu menerapkan Lillah dan Billah, yakni dalam melaksanakan segala perintah senantiasa berlandaskan perintah Allah, dan menyadari segala gerak-gerik lahir dan batin, adalah atas kehendak Sang Maha Pencipta, kita termasuk muqarrabun (orang-orang yang dekat dengan Allah).

Shalawat Wahidiyah ditaklif (disusun) oleh Asy Syaikh Arif Billah Mbah KH. Abdul Madjid Ma’ruf, Qaddassallah Sirroh Radhliyallahu Anhu pada tahun 1963. Setelah beliau mendapat petunjuk langsung dari Rasulullah SAW, dalam keadaan sadar dan terjaga.

Bahkan amalan ini jauh lebih praktis dan mudah. Sebagaimana di dawuhkan oleh mualifnya sendiri sebagaimana difatwakan oleh Hadratul Mukarrom Romo KH. Abdul Latif Madjid RA, Pengasuh Perjuangan Wahidiyah pada HUT Shalawat Wahidiyah ke 34 beberapa tahun silam:
    ”Kalau ada amalan yang lebih mudah untuk wushul kepada Allah saat ini, selain amalan Wahidiyah, maka Mbah Yahi sanggup (bersedia) ikut dibelakangnya bersama seluruh Pengamal Shalawat Wahidiyah.”


Yang dimaksudkan amalan Wahidiyah disini tentunya tidak hanya sebatas mengamalkan shalawatnya, tetapi dalam prakteknya, juga harus mengaplikasikan ajaranya: Lillah-Billah, Lirrasul-Birrasul, Lilghouts-Bilghouts, Yuktikulladzi haqqin Haqqah, dan Taqdiimul fal aham tsumal Anfa’ fal Anfa’ di setiap aktivitas secara proposional serta menjaga adab, baik lahir maupun batin dengan sebaik baiknya.*





(Bahan bacaan: Wali Sufi Abad 20, Martin Ling, Mizan, Tarekat di Indonesia, Zaman. Ajaran Kaum Sufi, Al Kalabadzi)