“Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 42)Ayat di atas memberikan kaidah penting dalam cara ke Islaman yang kaffah (sempurna) dan kholish (murni). Pada ungkapan WALAA TAL BISUUL HAQQA BILBAATHIL (dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang bathil mengandung petunjuk agar kita semua kaum muslimin menghindari bid’ah dholaalah (kreasi yang sesat) dalam beragama. Sehingga dengan demikian, kita melaksanakan Islam secara lurus dan murni serta terhindar dari kesesatan.Pencampuran Islam dengan kesesatan ini di dalam istilah Islam dinamakan bid’ah. Nah, dalam kaitan dengan bid’ah, maka kata bid’ah ini secara bahasa berasal dari kata bada’a yang berarti menciptakan sesuatu tanpa contoh sebelumnya.Dari sudut bahasa, maka seluruh kreasi manusia, baik dalam lingkup keagamaan ataupun dalam lingkup keduniawian dinamakan bid’ah. Dari sudut pandang bahasa inilah, maka Amirul Mukminin Umar bin Khatthab RA mengomentari shalat tarawih berjama’ah, “sebaik-baik bid’ah adalah ini.” (Riwayat Bukhari dan Malik). Dari sudut pandang bahasa ini pulalah, maka Imam Asy Syafi’i rahimahullah membagi bid’ah menjadi dua, yaitu bid’ah ghoiru madzmumah (kreasi yang tidak tercela), yaitu kreasi yang tidak menyalahi Al Qur’an dan Sunnah dan bid’ah dholaalah (kreasi sesat), yaitu kreasi yang menyalahi (Manaqib Al Imam Asy Syafi’I juz I hal. 469). Dari sudut pandang ini pulalah, maka para huffadz, seperti Al Hafidz Ibnu Abdil Barr, Al Hafidz Ibnul Atsir, Al Hafidz Ibnu Hajar dan lain-lain membagi bid’ah menjadi dua, yaitu kreasi baik (bid’ah hasanah) dan kreasi tercela (bid’ah sayyi’ah). Yang menjadi masalah adalah pengertian bid’ah secara syar’i. Ketika Rasulullah SAW bersabda: ”Setiap bid’ah sesat.” (HR. Muslim),
maka apakah maksud bid’ah dari ungkapan disini?Ada perbedaan di kalangan manusia dalam memaknai bid’ah secara syar’i yang dimaksudkan dalam hadits di atas. Kelompok pertama adalah mereka yang mengatakan bahwa bid’ah adalah semua kreasi baru tanpa memperdulikan aspek-aspek duniawi atau keagamaan. Kelompok ini diwakili oleh salah seorang tokoh Saudi, Al Utsaimin (Al Ibda’ fi kamalisy syar’i hal. 13). Jika kita mengikuti kaidah kelompok pertama ini, maka seluruh kreasi manusia yang tidak ada di masa Rasulullah SAW adalah sesat dan masuk neraka. Sehingga dengan demikian, manusia tidak boleh menggunakan misalnya telephon, mobil, hp, internet dan lain-lain.
Kelompok kedua adalah mereka yang mengatakan bahwa bid’ah semua amalan yang tidak pernah dilakukan, diperintahkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam bidang keagamaan. Pengertian ini seringkali dikemukakan oleh pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab (Wahabi). Berdasarkan pengertian kelompok kedua ini, maka semua kreasi doa (seperti hizb Nawawi, Hizb Barqi), semua kreasi shalawat (seperti Shalawat Nariyah, Munjiyat, Shalawat Barzanji, termasuk shalawat Wahidiyah, dll) adalah bid’ah, sesat dan tertolak.
Kelompok ketiga adalah mereka yang mengatakan bahwa bid’ah yang dimaksudkan dalam hadits di atas adalah segala sesuatu hal baru yang menyelisihi atau tidak bisa dikembalikan kepada Al Qur’an, Sunnah atau Ijma’. Maka hal tersebut bukan bid’ah dhalaalah (bid’ah sesat) yang dimaksudkan dalam hadits di atas. Di antara penganut tafsir ini adalah Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah (Manaqib Al Imam Asy Syafi’i juz I hal 469) dan para hufadz hadits.
Dari ketiga pendapat tersebut maka jika kita memilih pendapat pertama, nampaknya mustahil dan hal ini bertentangan dengan kenyataan dalam sejarah. Sesungguhnya para sahabat Rasulullah SAW banyak melakukan hal-hal baru yang tidak ada pada masa Rasulullah SAW. Seperti penggunaan nama Amirul Mukminin pada Khalifah, pelaksanaan tarawih berjama’ah secara terus menerus (pada masa Rasulullah SAW pernah berjama’ah tapi kemudian sendiri-sendiri), pembukuan Al Qur’an dan lain-lain.
Jika kita mengikuti kelompok kedua, maka kita pun akan menemui beberapa kontradiksi dengan kenyataan pada masa Rasulullah SAW maupun para sahabat. Jika kita mengatakan bahwa bila sesuatu itu baik, pastilah Rasulullah SAW akan paling dahulu melakukanya. Namun ternyata hal ini tidak sesuai dengan realita dalam kehidupan para sahabat dan tabi’in. berikut ini beberapa contoh:
1. Dalam kasus pembukuan Al Qur’an menjadi satu buku, ini baru dilakukan pada masa Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq RA.
2. Penunggalan kondifkasi model Al Qur’an baru dilakukan dimasa Amirul Mukminin Utsman RA.
3. Dalam kasus pembacaan qunut, Umar bin Khaththab RA memilki doa qunut tersendiri yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW (Al Adzkar An Nawawi hal 49).
4. Dalam masalah doa, seorang tabi’in Imam Ali Zainal bin Husain bin Ali bin Abi Thalib RA mengarang rangkaian doa yang kemudian diberi nama Ash Shahifah As Sajadiyyah.
Menurut saya, kelompok ketiga yang mengatakan bahwa bid’ah yang dimaksudkan dalam hadits di atas adalah segala sesuatu hal baru yang menyelisihi atau tidak bisa dikembalikan kepada Al Qur’an, Sunnah atau Ijma’. Tetapi jika hal baru tersebut masih bisa dikembalikan kepada dasar Al Qur’an, Sunnah atau Ijma’, maka hal tersebut bukan bid’ah dhalaalah (bid’ah sesat) yang dimaskudkan dalam hadits Rasulullah SAW di atas: KULLU BID’ATTHUNN DHALAALAH (setiap bid’ah adalah sesat). Ini lebih sesuai dengan realita dalam perjalanan sejarah Islam maupun kandungan hadits. ”Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam perkara kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR. Abu Dawud),
justru menguatkan bolehnya berkreasi menyusun doa, shalawat dan kalimat-kalimat baik lainya. Karena hadits ini memiliki beberapa kandungan makna (mafhum) sebagai berikut: 1. Bahwa dalam hadits tersebut, ada perkara baru dalam urusan agama yang tidak berasal dari agama (perkara yang tidak memiliki dasar baik secara umum maupun khusus).
2. Perkara ini tertolak perkara baru dalam urusan agama yang tidak berasal dari agama (perkara yang tidak memiliki dasar baik secara umum maupun khusus ) ini tertolak. Point 1 dan 2 ini disebut mafhum manthuq pemahaman eksplisit).
3. Secara terisrat (implisit/ mafhum), ketika Rasulullah SAW menyatakan bahwa ada perkara baru dalam agama yang tidak berasal dari agama, hal ini mengisyaratkan adanya perkara baru dalam urusan agama yang berasal dari agama (perkara yang tidak memiliki dasar dari agama, baik secara umum maupun khusus). Berbeda jika redaksi hadits itu berbunyi “Barang siapa yang membuat perkara baru dalam perkara ini, maka ia tertolak.” Jika redaksi hadits demikian, maka seluruh kreasi baru secara mutlak ditolak. Tapi nyatanya dalam hadits di atas ungkapan, ”…hal-hal baru dalam perkara kami” masih disifati dengan ungkapan ”yang tidak berasal darinya”. Sehingga dengan demikian, ungkapan ini mengharuskan adanya hal-hal baru yang berasal dari agama.
4. Perkara pada poin no. 3, yaitu perkara baru dalam urusan agama yang berasal dari agama (perkara yang memiliki dasar dari agama baik secara umum maupun khusus) tersebut secara otomatis tidak tertolak oleh cakupan hadits di atas. Karena penolakan hadits hanya pada perkara baru yang tidak ada dasarnya dari agama. Poin 3 ini disebut dengan mafhum mukhalafah (pemahaman implisit). Inilah yang kemudian mendasari munculnya berbagai redaksi doa, shalawat atau bacaan-bacaan lain dari para sahabat maupun tabi’in.
Karena itulah, sangat bijaksana ketika Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, ”Setiap sesuatu yang mempunyai dasar dari dalil-dalil syara’ bukan termasuk bid’ah meskipun belum pernah dilakukan oleh salaf. Karena sikap mereka meninggalkan hal tersebut terkadang karena udzur yang terjadi pada saat itu, atau karena ada amaliah lain yang lebih utama atau barangkali belum diketahui oleh mereka.” (Itqaan Shin’ah fi tahqiiqi ma’na bid’ah hal. 5).
Pemahaman ini pulalah yang kemudian memunculkan istilah bahasa (bukan istilah syara’) bid’ah hasanah. Istilah bid’ah hasanah ini bukan berarti merupakan kontradiksi dari hadits ”kullubid’ah dholaalah”. Karena bid’ah dalam hadits “kullu bid’ah dholaalah” adalah bid’ah syar’i, sedangkan bid’ah hasanah yang diungkapkan oleh para huffadz merujuk pada istilah kebahasaan dengan pengertian;”Sesuatu yang tidak dilakukan/ dicontohkan oleh Rasulullah SAW, namun berada dalam keumuman atau kekhususan sebuah dalil.”
Allahu a’lam
Setiap kita pasti mempunyai orang tua. Baik yang masih hidup maupun yang telah berada di alam baka. Melalui perantara mereka, Allah SWT menghadirkan kita ke dunia. Keduanya merupakan orang yang paling berjasa membesarkan, merawat dan mendidik kita. Maka tak heran jika Allah menempatkan orang tua dalam posisi yang mulia. Banyak ayat Al Qur’an yang berisi tentang perintah untuk berbakti pada orang tua. Bahkan berkata ”ah” (membentak) saja sudah di kecam oleh Al Qur’an.Begitu juga dengan Rasulullah SAW. Dalam beberapa haditsnya beliau juga memerintahkan umatnya agar berbakti kepada orang tua, sampai-sampai Allah menggantungkan ridha dan murka-Nya pada mereka. Bila orang tua ridha, Allah pun ridha, sebaliknya bila orang tua murka, Allah juga murka.Kisah-kisah tentang ridha dan murka orang tua juga sering kita dengarkan. Mulai dari cerita rakyat Malin Kundang, kedurhakaan Kan’an putra Nabi Nuh AS, pemuda taat di masa Nabi Sulaiman AS, sampai kisah Alqamah di masa Rasulullah SAW. Semuanya membuktikan, betapa Allah SWT memberi kedudukan istimewa bagi kedua orang tua. Adapun adab-adab berbakti kepada kedua orang tua antara lain:1. Mendengarkan perkataan mereka dan tidak memutus perkataan ketika mereka berbicara.
2. Berdiri menyambut keduanya ketika mereka berdiri demi menghormati dan memelihara kehormatan mereka.
3. Mematuhi perintahnya selama perintah itu bukan dalam mendurhakai Allah.
4. Tidak berjalan di depan keduanya, tetapi di samping atau belakangnya. Jika ia berjalan di depan kedua orang karena suatu hal, maka tidaklah mengapa ketika itu.
5. Tidak mengeraskan suara kita melebihi suara kedua orang tua demi sopan santun terhadap mereka.
6. Menjawab panggilan mereka dengan jawaban yang lunak.
7. Berusahalah keras mencari keridhaan kedua orang tua dengan perbuatan dan perkataan.
8. Bersikaplah rendah hati dan lemah lembut kepada orang tua seperti melayani mereka. Menyuapi makan dengan tangan kita bila keduanya tidak mampu dan mengutamakan keduanya di atas diri dan anak-anak kita.
9. tidak mengungkit-ungkit kebaikan kita kepada keduanya maupun pelaksanaan perintah yang kita lakukan untuk mereka. Seperti mengatakan ”Aku beri engkau sekian dan sekian dan aku lakukan begini kepada kamu berdua.” Karena perbuatan itu bisa mematahkan hati. Ada yang mengatakan, menyebut-nyebut kebaikan itu memutuskan hubungan.
10. Jangan memandang kedua orang tua dengan pandangan sinis.
11. Janganlah bermuka cemberut kepada keduanya, dan jangan tertawa di depan mereka jika tidak ada sesuatu yang pantas ditertawakan.
12. Janganlah bepergian, kecuali dengan idzin keduanya, yaitu perjalanan untuk jihad, haji tathawwu’, menziarahi para Nabi dan wali serta perjalanan yang bisa mengancam keselamatan untuk berniaga. Maka perjalanan macam itu diharamkan, bilamana tidak diizinkan oleh ayah dan ibu, meskipun diizinkan oleh yang lebih dekat darinya. Kecuali perjalanan untuk belajar ilmu yang fardhu, walaupun kifayah, seperti nahwu dan derajat pemberian fatwa. Maka tidaklah diharamkan, meskipun tidak diizinkan orang tua.
13. Mengajak mereka bermusyawarah di dalam setiap pekerjaan dan perkara.
14. Menghormati saudara dan sahabat-sahabat keduanya semasa mereka hidup dan setelah meninggal.
15. Mendoakan mereka, terutama setelah mereka meninggal, karena itu sangat bermanfaat bagi mereka, karena doa anak kepada orang tua akan menjadi pengampunan baginya.
16. Adakalanya seorang anak mempunyai orang tua yang kafir. Menghadapi mereka, maka anak harus tetap mempergauli dengan baik dalam hal-hal yang tidak berkaitan dengan agama selama ia masih hidup.
Bila seorang anak menerapkan adab-adab tersebut dengan sebaik-baiknya, maka Allah akan membalas dengan setimpal. Baginya telah dipersiapkan dua surga di akhirat nanti. Di dunia pun ia akan selalu berlimpah kebaikan. Sebagaiama kisah yang terjadi di masa Nabi Sulaiman AS. Ketika beliau berjalan-jalan menuju sebuah pantai, tiba-tiba dari dasar laut muncul sebuah istana nan indah. Tak berapa lama, dari dalam istana tersebut muncul sosok pemuda tampan dengan pakaian serba indah pula. Nabi Sulaiman bertanya, gerangan apa yang telah dilakukan pemuda tersebut hingga ia memperoleh nikmat yang begitu melimpah? Si pemuda menuturkan bahwa apa yang diperolehnya adalah sebagai balasan atas bakti dan taatnya pada orang tua. Saat keduanya masih hidup, si pemuda taat dan berbakti kepada keduanya, dan setia merawat mereka saat keduanya menderita lumpuh dan buta, sampai keduanya wafat.Berbakti kepada orang tua juga lebih utama daripada berjihad (perang) di jalan Allah.Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdullah bin Umar RA.”Seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW: ‘Aku ingin berjihad.’ Nabi bertanya, ‘ Apakah engkau mempunyai dua orang tua?’ ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.”
Kewajiban untuk berbakti dan taat tidak hanya kepada orang tua biologis yang melahirkan kita saja. Lebih dari itu adalah berbakti dan taat kepada orang tua rohani, yaitu seorang ’Priyatun Agung’ yang menunjukkan kita jalan menuju wushul, sadar kepada Allah SWT wa Rasulihi SAW. (Maroqil ubudiyah, tarbiyah aulad)
Dalam memulai suatu perkara maka mulailah dengan menyebutka nama Allah SWT “BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIIM”, kemudian “ALHAMDULILLAH IROBBIL ‘ALAMIIN”… Dst. Pernyataan syukur kepada Allah SWT. Dia dalam Al Qur’an di mulai dengan “Bismillah” atau billah istilah Wahidiyah atau di sebut Tauhid. Sedang “Ar Rohmaanir rohiim” ini sifat “JAMAL” atau sifat kasih sayang, yang menunjukkan bahwa kasih sayangnya Allah lebih banyak dan tak terhitung. Ada sebuah dawuh:”RahmatKu mendahului amarahKu”.
Kasih sayang Allah SWT mendahului murkanya bahkan lebih menonjol. Ini dimaksudkan agar hamba-Nya atau manusia senantiasa mengharap kepada Allah SWT dan jangan sampai putus asa sebab Rahmat itu min ‘indillah. Baik itu Rahmat ni’matul ijad (Ni’mat di wujudkan) maupun ni’matul imdad (ni’mat dipelihara oleh Allah SWT).”Dan RahmatKu meliputi segala sesuatu.” (Al –‘Araf: 156)
Ghodob atau murkanya Allah SWT itu hanya sebagian dan kemurkaan Tuhan itu sebab dari hamba. Jadi Rahmat atau kasih sayang-Nya Allah itu lebih kuat dari pada Ghodob atau murka-Nya di samping itu sekalipun manusia berlarut-larut, kalau di banding dengan belas kasihan Tuhan, bukan bandingan. Jadi terkecam sekali jika manusia itu sampai berputus asa akan Rahmat Tuhan karena berlarut-larutnya. Oleh karena itu menurut Syekh Abdullah As Syarkowi penyarah kitab Al Hikam mengatakan bahwa kita sebagai manusia harus meningkatkan Tauhid dan ubudiyah kepada Allah SWT.Di dalam kitab Al Hikam yang di karang oleh Syekh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim terkenal dengan sebutan Ibnu ‘Ato’illah, As Sakandari. Beliau berguru kepada Syekh Abas Al Mursyi. Syekh Abdul Abbas Al Mursyi ini berguru kepada Syekh Abul Hasan As-Syadzali dan beliau ini muridnya Syekh Ibnu Abdus Salam Al Masyis. Beliau Syekh Ibnu ‘Atho’illah sebelum terjun dalam dunia tasawuf sudah menguasai bidang syariat. Maka disamping terus memperdalam bidang syari’at beliau terjun di bidang haqiqat atau tasawuf. Menurut kitab “At Toriqot Syafi’iyah, beliau wafat di Qohiron Mesir pada bulan Jumadil Akhir tahun 709 H, adapun tanggal kelahiranya tidak disebutkan.Dalam kitab tersebut dikatakan bahwa kata “HIKAM” merupakan jama’ dari kata “HIKMAH” yang artinya kata-kata berguna. Biasanya kata-kata hikmah itu singkat tegas dan luas. Kata HIKAM lebih terkenal dengan kata Mutiara. Disana disebutkan:Setengah dari pada tandanya menjagakan kepada amalnya, ibadah atau perbuatanya, usahanya yaitu turun harapan atau tipis harapan ketika menemui kemacetan atau kegagalan atau kenegatifan atau kesalahan baik itu disengaja atau tidak.
Orang yang menjagakan amalnya ketika mengalami atau menemui kesalahan didalam usaha atau ibadah lalu tipis harapan, pesimis, kecil hati. Tapi kalau mengalami keberhasilan atau kemajuan menjadi tambah atau besar harapan, besar hati atau optimis. Mereka menjagakan amal yang sifatnya jawarih seperti dzikir, sembahyang, puasa, dan lain-lain. Atau bahkan tidak hanya amal lahiriyah juga amal bathiniah. Sebenarnya amal batin bagi orang yang sudah bisa menggunakan itu lebih selamat. Adapun amal lahir seperti baca shalawat, dzikir atau mujahadah dan sebaginya atau amalan yang secara langsung berhubungan dengan Tuhan seperti sembahyang, baca Qur’an, dzikir dsb, juga amalan yang berhubungan dengan masyarakat seperti zakat, menolong orang lain, memberi sedekah, memberi petunjuk dsb semua itu jika tidak tepat atau salah lalu menjadi tipis harapan, mereka pesimis berhasil mendapat Ridha Allah SWT, atau kecil hati untuk selamat.Maka orang yang masih menjagakan amalnya mereka masih tebal nafsunya. Masih dikuasai nafsu lalu mengaku bisa berbuat begini bisa begitu, bisa beramal dan sebagainya. Sehingga menjagakan atau membanggakan kepada amalnya atau usahanya.Orang yang mempunyai kriteria demikian disebut ’UBAD yaitu orang-orang ahli ibadah lahir atau disebut muriiduun yaitu orang-orang yang menginginkan wushul atau sadar kepada Allah SWT. Jadi kalau ditegaskan bahwa Ubad atau Muriiduun mereka masih tipis harapan ketika menemui kesalahan atau kenegatifan, yaitu orang yang masih menjagakan amalnya, karena mereka belum sadar kepada Allah SWT.Untuk menuju sadar kepada Allah SWT ada beberapa golongan:1. ‘Ubad yaitu orang ahli ibadah. Yang diinginkan adalah syurga. Atau istilah lain ingin selamat dunia dan akhirat mendapatkan syurga yang tinggi yang megah dsb. dan terlepas dari siksa neraka.
2. Muriiduun dan salikuun. Yaitu orang yang menghendaki wushul atau sadar kepada Allah SWT. Muriiduun atau salikuun dalam satu hal sama tapi yang sebenarnya dimaksud “MURIIDUUN” yaitu orang yang baru melangkah atau akan melangkah.”SALIKUUN”, yaitu orang yang sudah melangkah atau sedang berjalan namun belum sampai. Jadi itu tadi kalau dua kata itu berjajar. Sedang kalau tidak berjajar atau terpisah yang dimaskud salikuun juga muriiduun.
Muriiduun masih menjagakan amalnya untuk wushul kepada Allah SWT, kalau saya mujahadah mempeng, giat pasti cepat mencapai wushul kepada Allah SWT atau sadar, itu fikiran mereka. Maka kedua kelompok ini baik muriiduun maupun salikuun didalam menjagakan amalnya itu terkecam sebab yaitu tadi masih mengaku, mengaku bisa beramal, bisa usaha, masih memandang kepada nafsunya atau pribadinya. Aku ada, aku bisa berbuat , bisa beramal, ini terkecam. Sebab bukankah sesungguhnya “LAHAULAA WALAAKUWWATA ILLA BILLAH”. Maka jika ia mengaku ada, bisa berbuat, beramal dsb maka terkecam.
3. Arifuun yaitu orang yang telah arif sadar kepada Allah SWT. Ia tidak menginginkan syurga atau takut neraka dalam melangkah beribadah karena Allah SWT (Lillah) ikhlas tanpa tendensi apa-apa dan tidak mengaku mampu beribadah, berbuat atau beramal sebab kemampuannya semua digerakkan oleh Allah SWT (Billah). Jadi dalam berbuat bukan karena nafsunya namun ”LAHAULAA WALAAKUWWATA ILLA BILLAH”.
Dengan demikian sebelum kita melangkah harus kita deder tatanan kesadaran ini, kita harus memakai dasar yang kukuh dan kuat. Ibarat bangunan pondasinya harus kuat. Bangunan yang pondasinya tidak kukuh pasti akan hancur. Bagitu juga amal perbuatan, kalau tidak ada pondasi kesadaran otomatis akan hancur tidak berguna, hancur menjatuhi kepada yang membangun, baik soal itu saja sudah berat lebih-lebih menjatuhi soal akhirat itu akan lebih berat lagi.Ini semua adalah soal Tauhid yang merupakan hal pokok dan penting sekali, kita harus Roja’ besar harapan atau optimis kepada Allah SWT. Didalam kita mujahadah, beramal apakah harapan kita stabil atau berubah-ubah, pasang surut. Bila kondisi kita pasang surut menurut keadaan kita berarti amal kita belum tepat dan mestinya harapan atau Roja’ kita hanya diarahkan kepada Allah SWT, jika diarahkan kepada amalnya, mujahadahnya, do’anya maka itu tidak tepat bahkan su’ul adab, salah alamat. Dengan demikian harus kita dirikan pandemen didalam hati sanubari kita yaitu pandemen tauhid yang sekokoh-kokohnya. Jangan sampai kita menjagakan kepada amal kita. Kalau kita rajin menjadi besar harapan sedang ketika kita malas (Glonjom) kemudian tipis harapan, itu namanya masih mempertuhankan kepada nafsu, kepada amalnya, kepada usahanya. Jadi kita harus memandang kepada Allah SWT. Sekalipun bagaimana giat kita, kita harus tetap takut kepada Allah SWT, sebab hanya Allah SWT yang wajib ditakuti, sekalipun bagaimanapun baiknya keadaan kita. Dan sekalipun bagaimana glonjom kita, kita harus tetap mengharap kepada Allah SWT. Kita mengharap kepada Allah SWT, sebab sifat Tuhan Maha Pemberi, Maha Pengampun, Maha Penyayang dsb. Dan pemberian Tuhan tidak digantungkan kepada keadaan atau usaha kita. Sebelum ada apa-apa Allah SWT sudah “WARAHMATII WASI’ AT KULLA SYAI’IN”. “Bismillahir Rohmaanir Rohiim”, sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan kita. Sekali lagi! Tidak terpengaruh. Maka bagaimana dengan Nabi Adam AS apakah itu salah semua? Misalnya, kita tidak boleh begitu, jangan tergesa-gesa menyalahkan suatu persoalan sebelum menguasai dengan sepenuhnya. Segala sesuatu yang bersangkutan dengan persoalan, kalau sudah menguasai suatu persoalan secara obyektif, secara menyeluruh, menguasai jumlah dan tafsilnya sampai menyeluruh, itu baru boleh menyalahkan.Bila kita glonjom, supaya mengecam dirinya sendiri. Tapi ketika kita baik keadaanya, maka ”FALNAHMADILLAH” kita harus memuji kepada Allah SWT dan syukur kepada Allah SWT. Kita harus berterima kasih kepada makhluk lain yang ada hubunganya baiknya keadaan kita baik soal moril maupun materiil. Tapi kalau buruk keadaan kita ”FALAA TALUMANNAILLAA ANFUUSANA”. Janganlah kita mengecam selain kepada diri kita sendiri. Dan didalam mengecam dirinya sendiri harus dijiwai LILLAH BILLAH istilah Wahidiyah. Itu semua harus senantiasa menjadi dasar dalam segala gerak-gerik kita itulah tunutnan Islam, tuntunan Rasulullah SAW. Bahkan tuntunan segala agama yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa. ”Untuk Tuhan dan sebab Tuhan”, yang berbeda istilahnya saja. Bahkan bagi kita bangsa Indonesia yang punya Pancasila dan didalam perbuatan ”Ketuhanan Yang Maha Esa”. Harus mendasari segala amal perbuatan kita dengan LIL TUHAN DAN BIL TUHAN Yang Maha Esa.Di waktu kita glonjom ada kata-kata ”ILLAA AMANIYYA”, yaitu orang yang menduga-duga ”MELAMUN”. Mengharap atau Roja’ tapi tak mau berjuang atau usaha, maka ini bukan Roja’ namun terkecam. Yang dinamakan mengharapkan atau Roja’ sekalipun tidak menjagakan amalnya, perbuatanya, usahanya, ibadahnya tapi harus giat berusaha, bersungguh-sungguh, bermujahadah. Juga jangan sampai kita salah faham atau salah menempatkan segala bidang di masing-masing tempatnya. Kalau kita salah menempatkan sesuatu pada tempatnya itu namanya “DHOLIM”. Sesuai definisi Dholim yaitu menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, begitu jika kalau kita menjagakan amal kita itu namanya salah alamat ”Dholim”. Mestinya harus menjagakan kepada Tuhan saja.Namun sekalipun glonjom kita harus tetap menjagakan kepadaTuhan, tapi selain menjagakan kita harus berusaha dan berbuat, bila tidak mau berbuat atau berusaha iu namanya ”AMANI” atau lamunan. Dan ini terkecam jadi sekalipun mengharap atau Roja’ kepada Tuhan, itu penting tapi lebih penting lagi adalah tepatnya. Hubungan ini mungkin, orang selalu kuat non stop usahanya, mujahadahnya, tapi tidak ada Roja’ kepada Tuhan melainkan menjagakan kepada amalnya, sering istirahat tapi dia tepat. Tapi kita harus sebanyak mungkin dan setepat mungkin, ini tepatnya. Jadi yang penting dan prinsip adalah setepat mungkin. Jadi tidak boleh hanya menyalah gunakan, misal, biarlah sedikit asal tepat saja, sekalipun banyak kalau tidak tepat, itu tak berarti dsb. Itu namanya menyalah gunakan, tidak boleh dan terkecam karena menyalah gunakan. Jadi kita harus setepat mungkin dan sebanyak mungkin, istilah kwalitas dan kwantitas. Adapun kwantitasnya atau banyaknya itu nomor dua yang paling penting adalah kwalitas yaitu isi atau mutunya. Namun yang harus tetap berusaha mengisi keduanya kwalitas dan kwantitas.Secara umum seperti Lillah Billah yang paling pokok adalah Billah, karena hubungan dengan Tauhid. Lillah hubunganya dengan ‘Ubudiyah, tetapi mungkin akan disalah gunakan. Kalaum berani menyalah gunakan berarti bunuh diri. Jadi yang paling prinsip ialah Billah, atau Tauhid. Tapi kita harus berusaha bersama-sama mengisi Lillah dan Billah, Syari’at dan Haqiqat. Bgitu juga hubungan antara Roja’ dan ikhtiyar atau usaha.Kembali kepada permasalahan. Bahwa setengah tanda atau alamat orang yang menjagakan kepada amalnya yaitu ”NUQSHONUR-ROJA’” berkurangnya harapan untuk selamat dunia akhirat, dapat diridhai Allah SWT atau dapat wushul sadar kepada Allah SWT ketika sedang dalam keadaan maksiat atau glonjom. Itu namanya menjagakan amal atau usahanya, tidak menjagakan kepada Tuhan. Atau menjagakan nafsu. Dengan demikian soal yang pokok harus kita tempatkan pada yang pokok pada tempatnya masing-masing dan seterusnya. Kata Sayyidina Ali Karromallahu wajhah:”Tidak akan mengalami kerusakan orang yang tahu kedudukan dirinya”.
‘Ubad adalah orang-orang yang masih menjagakan amalnya, atau orang ahli ibadah yang belum sadar. Ada kata-kata:”Orang yang sembahyang lima waktu pada awal waktunya di samping ibadah lain-lain, itu dinamakan ‘abidin (ahli ibadah)”
“Dan orang yang keluar dari dunia, orang yang menjauhi dunia, fanak atau rusak pandanganya terhadap dunia, dinamakan orang yang bertapa “ZUHUD”.
“Barang siapa yang keluar dari nafsunya, yang bebas dari nafsunya, dinamakan orang arif, orang yang sadar kepada Allah SWT”
Tapi ya bisa merangkap-rangkap, artinya al ‘Arif atau orang yang sadar kepada Allah SWT, disamping itu ia juga ahli ibadah dan Zuhud atau bertapa. Ada istilah:”Orang arif itu kaainun yaitu tetap ada diantara manusia yang lain dalam segala bidang. Tapi Baainun: yaitu diluar manusia. Maksudnya wujudnya sama-sama kepasar, sama tukang jahit, kesawah namun batinya berpisah yaitu Ilallah. Jadi yang satu hanya lahirnya saja dan satu luar dalam.
Dan juga dikatakan:”Orang arif lahirnya bersama makhluk, batinya bersama Allah.”
“Setengah dari pada alamat atau tandanya minal ‘Arifin, adalah orang yang sadar kepada Allah SWT, dia fanak terhadap pandangan nafsunya”, nafsu tidak menjadi acara.
“Ketika dia jatuh atau terkena musibah lupa, dia selalu sadar akan berlakunya kekuasaan Tuhan. Dan dalam istilah Wahidiyah Billah”.
Bidang Billah, baik dalam keadaan maksiat ataupun Tho’at ini harus senantiasa Billah. Tetapi kalau Lillah atau bidang-bidang lain (syariat) itu hanya soal tho’at yang hanya boleh diberi dasar Lillah, seperti dalam rukun Iman yang keenam artinya:”Dan qodar baik buruk dari Allah”.
Kita harus yakin bahwa baik dan buruk itu sudah kodar dari Allah Ta’ala. Ibarat bangunan sudah direncanakan oleh yang membangun, baik itu baik maupun buruk. Begitu juga makhluk sudah direncanakan oleh Allah SWT, ”KHOIRIHI WASARRIHI MINALLAH”. Baik dan buruk itu hanya dari Allah SWT. Itu bidang Billah harus kita isi, disamping mengisi bidang Lillah.Oleh karena itu orang ‘Arifin ketika dalam keadaan terbelegong dia tetap menyadari Billah, menyadari itu dari Allah. Ini tidak berarti lalu tidak mengisi bidang Lillah. Seharusnya yang sempurna ialah disamping mengisi bidang Billah (Haqiqat) harus mengisi bidang Syari’at (Lillah). Maka ketika maksiat misalnya, dalam bidang Haqiqat harus tetap Billah dan dalam bidang syari’at harus tobat. ”Robbana dholamna anfusanaa”, mengecam dirinya sendiri, atau nafsunya. Namun harus tetap didasari Lillah. Bila mengecam nafsu namun tidak didasari Lillah itu berarti masih menuruti nafsu, masih dijajah atau dikuasai nafsunya. Ini mungkin sangking licinya nafsu. Sekalipun Mujahadah, dzikir, kepada Allah SWT namun tidak didasari Lillah itu otomatis berarti nafsu. Oleh karena itu semua syari’at baik lahir maupun batin yang tidak didasari Lillah berarti nafsu, walaupun dzikir kepada Allah baik itu billisan maupun bil Qolbi jika tidak didasari Lillah otomatis Linafsi Binafsi. Adapun bidang Tauhid tidak ada hubunganya dengan Lillah. Billah ya Billah sudah. Saya Billah ini saya niati Lillah misalnya, itu tidak benar, Billah ya Billah, tidak bisa diniati Lillah.Orang ‘Arif ketika dia mengalami kebaikan dia tidak mengaku diri. Tetap sadar Billah, tetap, ”LAA HAULA WALAA QUWWATAA ILLA BILLAH”. Tidak ada bedanya baginya, baik dalam keadaan baik ataupun buruk, tetap Billah, tetap bertauhid.”Karena orang Arif tetap tenggelam didalam samudra Tauhid”.
“Tetap sama khouf dan roja’nya”.
Orang ‘Arif tetap sama dalam keadaan takut dan harapanya karena sifat Tuhan itu ditakuti dan diharap buktinya lagi yaa “BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIM” “AR ROHMAANIR ROHIM”. “Kasih sayang”. Ini berarti sekalipun keadaan kita bagaimanapun juga, tetap harus mengharap kasih sayang Allah, kalau karena berlarut larut lalu putus asa itu terkecam. Dalam Al Qur’an sudah diperingatkan:”Sesungguhnya tiada yang putus asa dari Rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.” (Yusuf: 87)
Orang yang putus asa berarti orang yang meniadakan Tuhan, orang yang menutup-nutupi kemurahan Tuhan. Istilah manusia orang yang melukai Tuhan. Tuhan tidak dapat dilukai. Jadi didalam keadaan buruk kita atau berlarut-larut harus mengecam kepada diri sendiri.”Barang siapa keadaanya belum cocok dengan itu tadi, harus usaha sekuat mungkin dengan riyadhah-riyadhah dan banyak dzikir.”
Berhubungan dengan itu Imam Sadzali dawuh:”Barang siapa yang belum menerapkan atau merasakan ilmu ini, dia dalam keadaan dosa besar, sekalipun bagaimana baiknya dan dia tidak sadar tidak merasa kalau berdosa besar.”
Mujahadah dan riyadhah baik lahir maupun batin. Mujahadah yang paling penting adalah hatinya bersungguh-sungguh atau mujahadah lahiriyah adalah sebagai pupuk dan hati harus hati-hati atau istilahnya titi ngati-ati. Senantiasa waspada, kalau nyeleweng harus secepat kilat kembali, dengan senantiasa memusatkan perhatian Fafirruu Ilallah wa Rasulihi SAW.Usaha harus sekuat mungkin, Ibarat anak-anak bermain jumpritan harus selalu memegang kuat-kuat jumpritanya. Kalau sampai benggang (renggang) atau lepas, sekalipun hanya satu senti, past ditelan oleh nafsunya, lawanya. Tapi kalau sungguh-sungguh sekuat tenaga memegang jempritanya dalam keadaan bagaimanapun pasti tidak akan ada apa-apa, malah dapat memanfaatkan situasi dan kondisi untuk Lillah dan Billah.Jadi kalau orang belum memilki tanda-tanda tersebut harus usaha sekuat mungkin dengan kemampuan yang ada padanya. Sebab hal ini yang akan menentukan kelak. Kita maklum, bahwa akan hidup (selama-lamanya) di akhir nanti.”Dan barang siapa yang buta (hatinya) niscaya di akhirat kelak ia akan buta dan lebih tersesat jalanya”. (Al Isra’:72)
Orang yang di dunia buta, tidak tahu siapa Tuhanya, otomatis di akhirat akan lebih jauh dari Tuhanya.Kalau sudah memiliki harus ditingkatkan, orang jangan sampai menjagakan kepada selain Tuhan. Kok berarti jangan beramal pokok sudah sadar, itu ya tidak. Menjagakan Tuhan tanpa beramal namanya lamunan. Tapi kalau menjagakan amal, namanya syirik. Ini semua artinya kita harus senantiasa koreksi diri sehingga dapat menerapkan setepat-tepatnya. Allahu ‘alam
Hari-hari kemarin, sangat terasa betapa banyaknya potret wajah yang -akan- menjadi wakil dan pemimpin kita mengumbar kata-kata. Janji yang menawarkan sejuta asa untuk memikat hati hingga menjatuhkan pilihan kepadanya.Gelar ‘wakil rakyat’ memang sudah sering kita dengar. Tetapi kepercayaan rakyat kepada yang mewakilinya belum sepenuhnya terwujud. Rakyat yang menjadi konstituen sebenarnya ingin di bimbing, dibela, diberi contoh oleh sang ‘wakil’ yang bukan sebatas kata-kata dan janji belaka.Tapi nyatanya, para wakil rakyat yang seperti itu nyaris tidak pernah kita temukan. Yang kita dapati hanyalah para kader partai yang memperjuangkan kelompoknya, kepentingan partainya, hingga usaha memperkaya diri sendiri. Di desa kita bahkan, di tempat saat mereka mencari simpati, juga sudah tidak lagi kita temukan wakil kita berbagi cerita, ngobrol bareng tentang bagaimana upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dan yang banyak kita temukan sibuk sendiri demi kepentingan partainya, rapat dengan para pejabat, sedangkan rapat dengan masyarakat tidak pernah, apakah sepeti itu memperjuangkan rakyat,sedangkan kondisi rakyat saja tidak mengetahuinya?Apa lagi hari ini. Ketika seorang caleg yang kalah justru menunjukkan sikap bodohnya dengan cara-cara yang konyol. Marah-marah, ngamuk, stress, bahkan ada juga yang nekad bunuh diri. Padahal, menang dan kalah adalah soal biasa dalam sebuah kompetisi. Ini menunjukkan betapa lemahnya jiwa dan iman mereka. Maka, mana mungkin rakyat akan mendapatkan teladan dari wakilnya yang juga miskin teladan?Seorang ‘wakil’ seharusnya kal muwakil. Memiliki jiwa seperti diwakili. Mempunyai aspirasi, cita-cita dan keinginan seperti yang mewakilkan mandat keterwakilanya. Jika tidak, ibarat seorang insinyur bangunan yang mencoba mengobati penyakit liver seorang pasien. Ia tidak akan pernah sanggup mengobatinya. Ia harus menyerahkanya kepada seorang dokter spesialis penyakit dalam yang memang merupakan ahlinya. Jika dipaksakan, sangat berbahaya. Sebab, setiap keputusan dan perkataan yang diambil oleh orang yang bukan ahlinya akan sangat merugikan, bagi dirinya dan bagi orang lain.Orang yang bekerja atas nama rakyat semata-mata untuk kesenangan diri sendiri tanpa memperdulikan kesengsaraan rakyat, sebenarnya adalah musuh rakyat. Hak yang semestinya milik rakyat dirampas begitu saja tanpa memperhitungkan untung dan ruginya.Lebih celaka lagi. Seperti yang diberitakan berbagai media, wakil rakyat tingkat pusat periode 2004-2009, di akhir masa jabatanya ini akan mendapat apa yang disebut cinderamata berupa cincin emas dengan nilai total 5 miliar. Jika jumlah uang sebesar itu dibagi 550 orang, maka masing-masing wakil rakyat mendapat Rp. 9,1 juta untuk sebuah cincin emas dengan berat kurang lebih 10 gram. Lebih ironis lagi, tidak hanya para wakil rakyat yang ‘pulang kampung’ yang mendapat oleh-oleh istimewa itu, mereka yang kembali terpilih untuk periode 5 tahun mendatang pun akan mendapat cincin emas tersebut. (Surya, 9 juni 2009).Menurut harian terbit Surabaya itu, pemberian cincin emas bagi para wakil rakyat itu adalah yang ketiga kalinya. Sejumlah wakil rakyat yang telah duduk di Senayan tiga periode, itu berarti mendapat kenang-kenangan berharga sebanyak tiga kali. Padahal sudah berungkali sikap para wakil rakyat itu mengundang kontroversi, mulai tentang kenaikan gaji ke -13, tunjangan-tunjangan yang berlebihan, kinerja yang tidak maksimal, perbuatan mesum, dan bahkan kasus-kasus korupsi berbagai proyek Indonesia yang menyeret sebagaian mereka kedalam jeruji besi. Maka, benarkah para wakil rakyat yang duduk di lembaga terhormat itu memperjuangkan nasib rakyat? Atau justru sebaliknya. Menjadi wakil rakyat adalah dambaan untuk memudahkan ‘cepat kaya’ dan bersenang-senang?Mungkin inilah salah satu sebab, mengapa banyak yang mulai menjadikan tontonan sebagai tuntunan. Karena panutan yang semestinya jadi tuntunan tidak lagi dapat dipercaya. Krisis kepercayaan ini sejalan dengan semakin sedikitnya mereka yang menjadi wakil rakyat yang benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyatnya. Kesepian ini kian mencekam bila kecurangan para panutan itu dipadu dengan saling curiga sesama ‘wakil’ ditambah dengan provokasi yang negatife. Kita benar-benar miskin teladan!Disini kita tidak bisa berbuat banyak. Hanya bisa berharap; semoga para wakil rakyat yang sudah terpilih untuk periode 5 tahun mendatang lebih baik dan berkualitas. Kita pun berdoa; semoga mereka diberi hidayah dan taufik Allah SWT, sehingga dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai wakil rakyat, senantiasa di atas landasan iman dan kesadaran kepada Allah wa Rasulihi SAW. Amiin..
Adalah memberikan hak kepada yang berhak menerimanya. Dan ini merupakan kewajiban. Kewajiban adalah amanat. Sedang amanat adalah sesuatu yang meminta pertanggung jawaban. Allah SWT secara khusus mengingatkan tentang hal ini, ”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An Nisa: 58).
Dalam Al Qur’an Allah SWT juga menjelaskan, bahwa manusia adalah makhluk yang memikul beban (mukallaf). Pembebanan atau taklif meliputi hak dan kewajiban. Setiap beban yang kita terima menyebabkan kita harus melaksanakan kewajiban, tetapi pada saat yang sama kita juga memiliki hak. Pada setiap amanat ada balasan pahala bila dilaksanakan, dan dosa bila diabaikan.Penjabaranya sangat jelas. Setiap kita punya kewajiban. Ada kewajiban individu, ada kewajiban kolektif. Sebagai orang beriman, kewajiban kita adalah beribadah kepada Allah SWT, mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan nderek tuntunan Ghautsu Hadzaz Zaman RA. Tanpa harus memandang balasan apa yangakan diberikan Allah kepada kita.Begitupun dalam lingkup kewajiban kita secara sosial. Kewajiban antara guru dan murid, antara orang tua dan anak, suami dan istri, pimpinan dan bawahan, pejabat dan rakyat, dan kewajiban kepada apapun dan siapapun juga.Orang tua punya kewajiban mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Anak-anak punya kewajiban berbakti kepada orang tuanya. Seorang suami berkewajiban memberi nafkah dan perlindungan kepada istrinya. Istri punya kewajiban manaati dan berbakti kepada suaminya. Demikian pula seorang guru. Punya kewajiban memberikan pendidikan sebaik-baiknya kepada anak didiknya. Sedang anak didik punya kewajiban menghormati gurunya. Atasan berkewajiban memberikan bimbingan dan arahan kepada bawahanya. Dan bawahan wajib menaati atasanya. Pun pula, pejabat pemerintah mempunyai kewajiban mengayomi rakyatnya. Sementara rakyat punya kewajiban menaati dan mendukung program-program pemerintahanya.Apabila pemenuhan kewajiban ini ditempatkan pada tempatnya, maka akan terciptalah suasana harmonis ‘pemilik’ hak dan ‘penunai’ kewajiban. Tidak akan terjadi perselisihan yang berujung pada permusuhan, akibat saling menuntut hak. Sebaliknya, seseorang akan kehilangan haknya apabila mengabaikan kewajiban. Maka, membuat kontrol diri atas penunaian kewajiban adalah sebuah keharusan.Mengukur sejauh mana kita menunaikan kewajiban, itulah standart hak yang akan kita terima. Hak itu sendiri sesungguhnya merupakan penjelmaan dari cara kita menunaikan kewajiban. Maka janganlah pernah takut kehilangan hak bila kita telah menunaikan kewajiban dengan baik dan benar.Hak adalah sesuatu yang mesti diterima seseorang. Dan antara hak dan kewajiban ini ada sebab akibat. Yang menjadi kewajiban kita, menjadi hak bagi orang lain. Dan kewajiban orang lain menjadi hak bagi kita.Dalam prakteknya, kita harus berlomba-lomba mengutamakan pemenuhan kewajiban. Sebab, jika kita hanya pandai menuntut hak, maka rusaklah tatanan kehidupan ini. Yang akan terjadi hanyalah pertengkaran, perselisihan, permusuhan, gontok-gontokan akibat tuntut-menuntut, royokan hak.Dengan memenuhi sisi-sisi yang menjadi kewajiban kita, sesungguhnya bermakna bahwa kita sedang memegang dan membuka sebuah kunci untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi hak kita. Jika kita bekerja (baca: menunaikan kewajiban) dengan baik, otomatis hak mendapatkan imbalan berupa gaji akan kita dapat. Jika kita telah berbakti kepada orang tua dengan tulus dan ikhlas, tanpa diminta orang tua akan memberikan pengayoman dan kasih sayangnya kepada kita. Demikian juga, jika kita melakukan ibadah kepada Allah tanpa pamrih, atas dasar Lillah dan billah, Allah akan memberikan hak-hak kita berupa balsan pahala dan syurga, tanpa diminta. Begitu seterusnya. Rasulullah bersabda: ”Seungguhnya Allah memberikan segala hak kepada yang mempunyai hak.” (HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik dengan sanad shoheh).
Yang menjadi catatan disini adalah, seberapa besar hak yang akan kita terima sangat tergantung pada seberapa besar nilai dan kualitas kewajiban yang telah kita tunaikan. Itulah rahasianya. Allahu a’lam
Membincang pribadi Rasulullah SAW, keindahan akhlak di padu dengan keindahan fisik beliau yang sempurna seakan tiada habisnya. Beliau bagaikan sumber mata air yang tiada pernah kering untuk digali. Rasulullah SAW benar-benar pribadi yang selalu menebarkan pesona kapanpun dan dimanapun beliau berada.Di samping pesona pribadi beliau yang tiada tandinganya, Rasul SAW memiliki keistimewaan berupa semerbaknya aroma wangi dari dalam tubuh beliau dalam segala situasi dan kondisi. Sebuah mukjizat yang tidak diberikan kepada nabi-nabi dan rasul-rasul sebelum beliau maupun kepada manusia setelah beliau SAW.Para sahabat yang setiap hari berdekatan dengan Rasul SAW rata-rata mengatakan bahwa tubuh beliau menebarkan aroma yang sangat wangi. Keharuman yang menyerupai minyak wangi yang keluar dari tubuh beliau bukan hanya dirasakan oleh para sahabat, para musuh yang sempat berdekatan dengan beliau juga merasakan hal yang sama. Saking wanginya aroma tubuh Rasul SAW, sampai-sampai sebagaian sahabat ada yang sengaja mengumpulkan keringat beliau untuk wewangian tubuh mereka.Diriwayatkan oleh Anas RA, ia berkata:”Aku belum pernah menyentuh sutra yang lebih halus dibandingkan dengan tangan Rasul SAW, dan aku belum pernah mencium bau yang lebih harum dibandingkan dengan keharuman bau badan Rasul SAW.”
Anas RA adalah sahabat Rasul SAW yang boleh dikata adalah tangan kanan Rasul SAW. Sejak belia, Anas tinggal bersama Rasul SAW. Melayani segala keperluan beliau. Tiada hari tanpa berdekatan dengan Rasul SAW. Karenanya tak heran jika dia sangat faham bau-bauan yang keluar dari tubuh Rasul SAW.Bahkan ibu Anas, Ummu Sulaim mengumpulkan keringat Rasul SAW dan memasukkanya ke dalam botol untuk dicampur dengan minyak wangi miliknya. Hadits yang diriwayatkan dalam sahih ini begitu masyhur.Riwayat lain mengenai Ummu Sulaim mengumpulkan keringat Rasulullah SAW dan ditaruhnya dalam suatu tempat terdapat dalam beberapa versi: pada suatu hari beliau ke rumah Ummu Sulaim dan tidur di atas tikar. Tidak lama kemudian datanglah Ummu Sulaim, lalu dikatakan padanya, bahwa Rasulullah SAW sekarang tidur di rumahmu di atas tikarmu. Perawi hadits berkata: ketika dilihatnya beliau berkeringat, sedangkan keringatnya menggenang pada selembar kulit yang dijadikan alas tidur beliau. Maka tanpa benyak membuang waktu Ummu Sulaim segera membuka wadah lalu mengumpulkan keringat beliau dan memerahnya dalam beberapa botol kecil. Melihat hal tersebut Rasulullah SAW terkejut, lalu bertanya, ”Wahai Ummu Sulaim, apa yang sedang engkau lakukan?” ia menjawab; ”Ya Rasulallah, kami mengharapkan berkah dari keringatmu untuk anak-anak kami” Beliau lantas berkata, ”Engkau akan mendapatkanya.”Sahabat Abu Jahaifah RA yang pernah merasakan berjabat tangan dengan Rasul SAW menyatakan bahwa tangan beliau sangat dingin dan ketika dia menciumnya baunya sangat harum melebihi harumnya minyak misik.Riwayat lain mengenai aroma wangi dari tubuh Rasul SAW, tertuang dalam kitab Maulidul Barzanji, yang mengatakan: Bahwa peluh yang keluar dari tubuh Rasulullah SAW itu bagaikan mutiara yang baunya lebih semerbak daripada harumnya wewangian minyak kasturi. Ketika beliau berjalan, tampak condong, seakan-akan sedang turun dari jalan yang tinggi… ketika beliau membelai (mengusap) kepala anak kecil, maka akan dapat diketahui bekas usapanya itu oleh anak-anak lain karena bau keharumanya.
Sementara itu di kitab Maulidud Dibay diceritakan: Apabila beliau tersenyum, maka senyumnya bagaikan butiran air embun. Bila beliau berbicara maka isi pembicaraanya bagaikan mutiara yang berjatuhan. Jika beliau bercakap-cakap maka aroma nafasnya bagaikan minyak misik yang keluar dari mulutnya.
Kiranya bukan hanya keringat beliau yang berbau harum tapi kotoran beliau pun juga berbau harum. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari Aisyah RA, bahwa jika Rasulullah SAW hendak membuang kotoran maka bumi terbelah dan menelan kotoran dan air kencing beliau serta bau harum semerbak di tempat itu. Subhanallah
Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu....
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.
“Ada 2 hal yang mesti kita ingat: Kebaikan orang lain sama kita dan keburukan kita sama orang lain. Tapi ada 2 hal yang mesti kita lupakan, kebaikan kita pada orang lain dan keburukan orang lain pada kita.
“Hidup itu Kumpulan mozaik-mozaik kisah yang bila waktunya tiba akan terkumpul membentuk apa yang kita sebut kehidupan. Mozaik-mozaik itu ditemukan dari berkelana ke segala penjuru bumi. Kita tak dapat selalu mempercepat apa yang seharusnya tertunda, namun yakinlah rahasia Allah & kepastiannya akan indah pada waktunya.”
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…"(Q.S. Al-Baqarah: 286)
“Allah menguji keikhlasan kita dalam kesendirian. Allah memberikan kedewasaan saat masalah berdatangan. Allah melatih ketegaran kita dalam setiap cobaan. Semakin sulit masalah, maka semakin terbuka pintu kemudahan. Sebagaimana semakin gelap malam, cahaya pagi semakin memancarkan sinarnya. Keep On Spirit!
“Wilayah kerja adalah lingkaran realitas, sedangkan wilayah peluang adalah ruang keserba mungkinan. Semakin luas pijakan kaki kita dalam lingkaran kenyataan, semakin besar kemampuan kita mengubah kemungkinan menjadi kepastian, mengubah peluang menjadi pekerjaan, mengubah mimpi menjadi kenyataan.
“Kuberi satu rahasia padamu kawan…. Buah paling manis dari bermimpi adalah kejadian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan menggapainya."
“Tanda-tanda keimanan:
1.. Mencintai kebaikan untuk orang lain seperti ia mencintai kebaikan untuk dirinya begitupun sebaliknya dengan keburukan…..
2. Mengingatkan orang lain jika lalai dan senang dinasehati jika ia lalai…..
3. Memberi maaf pada orang lain yang menzhaliminya seperti ia ingin dimaafkan jika berbuat salah pada orang lain…..
4. Memenuhi hak orang lain…..
5. Membantu orang lain yang butuh bantuan, seperti ia ingin dibantu jika dalam kesusahan…..
6. Menjaga ukhuwah dengan saudaranya sebagaimana ia tidak suka jika orang lain memutuskan hubungan dengannya…..
7. Toleransi dengan kekurangan orang lain sebagaimana ia ingin dimaklumi akan kekurangannya.”
“Sesungguhnya tak ada jalan lain, kecuali kehidupan ini harus dilalui ‘tuk menuju surga. Tampilannya seperti ujian, tapi isinya rahmat dan kenikmatan. Berapa banyak kenikmatan yang sungguh besar baru diperoleh setelah melalui ujian. Semoga segala amanah ini menjadi jalan menuju surga.”
“Sekali lagi…Amanah terembankan pada pundak yang semakin lelah. Bukan sebuah keluhan, ketidakterimaan..keputusasaan! Terlebih surut ke belakang. Ini adalah awal pembuktian..Siapa diantara kita yang beriman. Wahai diri sambutlah seruanNya…Orang-orang besar lahir karena beban perjuangan…Bukan menghindar dari peperangan.
“Memang di kehidupan ini tidak ada yang pasti, tetapi kita harus berani memastikan dan memperjuangkan apa-apa yang akan kita raih! Karena sesungguhnya, cita-cita yang tinggi tidak menjamin seseorang dapat meraih kesuksesan. Tapi…orang yang sukses pasti mempunyai cita-cita yang tinggi…Semangat!”
“Jadilah seperti air yang suci lagi mensucikan, bergerak untuk menghidupkan, mengalir untuk kebaikan, memancar dengan kekuatan, dikelola menjadi energi bagi kehidupan. Selamat berjuang dan terus belajar memaknai kehidupan. Moga bisa lebih baik, memberi yang terbaik, mendapatkan dan menjadi yang terbaik.”
“….Seorang hebat akan memunculkan kehebatan yang lebih besar jika ia bertemu dengan orang hebat lainnya. Individu cerdas akan melahirkan kecerdasan yang luar biasa gemilang jika ia bekerja sama dengan individu cerdas lainnya. Tapi ternyata orang hebat yang satu tak mudah dipertemukan dengan orang hebat lainnya. Lalu potensi kehebatan ini seperti daun kering, gugur dari pohon lalu berserakan. Maka peran organisasi adalah mengumpulkan daun-daun yang berserak, menggabungkan kecerdasan terpendam dari individu-individu yang ada di dalamnya…
¨Saudaraku, adapun orang yang menuntut ilmu maka selalu bertambah diridhoi Allah, sedangkan orang yang hanya mengejar dunia, maka bertambah kesesatannya. Ilmu itu penuntun amal & ilmu itu diberikan Allah kepada orang-orang yang akan bahagia dan diharamkan dari orang-orang yang celaka dan rugi….¨
“Seorang pejuang sejati tidak pernah mengenal kata akhir dalam perjuangannya. Ia tidak memerlukan gemuruh tepuk tangan, tidak akan lemah karena cacian dan tidak akan bangga dengan penghargaan.”
“Manusia hanyalah segenggam tanah. Kehormatan dan kemuliaan apapun yang diterima manusia berasal dari Tuhan. Dia memberi bukan karena kau sujud pada-Nya, tapi karena kedermawanan-Nya. Dia memberi bukan karena kau layak menerimanya tapi karena kemurahan-Nya.”
“Waktu terkadang lambat bagi mereka yang menunggu, terlalu cepat bagi mereka yang takut, terlalu panjang bagi mereka yang gundah dan terlalu pendek bagi meraka yang bahagia….Tetapi bagi yang mengisi waktu sebaik mungkin, waktu merupakan kunci kehidupan yang sebenarnya.
¨Iman seorang mukmin akan tampak disaat ia menghadapi ujian, disaat totalitas dalam berdo´a tapi belum melihat pengaruh apapun dari do´anya . Ketika ia tetap tidak mengubah keinginan dan harapannya meski sebab-sebab untuk putus asa semakin kuat. Itu semua dilakukan seseorang karena keyakinannya bahwa hanya Allah saja yang paling tahu apa yang lebih baik untuk dirinya.
“..dan bumi telah dibentangkannya untuk makhlukNya, di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan..(Q.S. Ar-Rahman: 10-13).”
Merendahlah, engkaukan seperti bintang gemintang, Berkilau dipandang orang di atas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi. Janganlah seperti asap yang mengangkat diri tinggi di langit padahal dirinya rendah hina.
“Ketika wajah ini penat memikirkan dunia, maka berwudhulah…Ketika tangan ini lelah menggapai cita-cita, maka bertakbirlah…Ketika pundak tak kuasa memikul amanah, maka bersujudlah…Ikhlaskan semua dan mendekatlah padaNya. Agar tunduk disaat yang lain angkuh..Agar teguh disaat yang lain runtuh..Agar tegar disaat yang lain terlempar..
”“Keletihan itu, akan menjadi beban ketika kita merasakannya sebagai keletihan fisik yang tidak diikuti oleh keyakinan ruhiyah. Maka sesungguhnya kesempitan di jalan ini, pasti menyimpan hikmah luar biasa yang akan tercurah dalam bentuk rahmat Allah SWT…"
“Mungkin suatu saat perjuanganmu jadi arus. Arus besar yang menumbangkan tirani. Tapi saat itu kamu sudah tidak ada. Waktu kamu melakukannya pertama kali, kamu hanya sendiri. Tapi itulah yang membuatmu abadi. Abadi dalam kenangan manusia. Abadi bersama bidadari di syurga. Kamu melakukan yang tidak dapat dilakukan orang lain. Kamu melakukan jihad."
“Allah mengaruniakan 3 waktu untuk manusia, yaitu: kemarin, kini dan esok. Berbahagialah mereka yang hari kemarinnya ilmu, hari kininya amal dan hari esoknya jihad. Tugas kita hanya berusaha. Sedangkan hasil adalah urusan Allah. Kalau kita ikhlas, maka usaha kita menjadi amal yang berpahala. Meski tidak ada hasil yang diraih…
Semoga bermanfaat...