Sabtu, 03 Juli 2010

Menyibak Jalan Menuju Allah SWT

Siapa yang mencari Tuhan dengan akal sebagai petunjuknya, Tuhan akan mendorongnya ke arah kebingungan yang sia-sia (Al Hallaj)

Penggalan puisi dari tokoh besar sufi di atas menerangkan betapa sulitnya seorang hamba untuk mencari Tuhan dengan yang sebenar-benarnya, bila hanya dengan akal belaka. Sebab satu-satunya petunjuk menuju Tuhan adalah Tuhan sendiri.

Hal tersebut dapat dilihat tatkala Tuhan menciptakan akal. Kemudian Tuhan bertanya: ”Siapakah Aku ini?” Maka akal pun bungkam. Karena itu Dia mengolesinya (secara harfiah, ”diolesei celak mata”) dengan cahaya ke Esaan (Wahdaniyah). Setelah itu, akal seraya berkata: ”Engkaulah Tuhan, tiada Tuhan selain Engkau.” Dengan begitu, akal tidak memiliki kemampuan untuk mengenal Tuhan, kecuali lewat perantaraan Dia sendiri.

Akal, menurut pemerian Ibn Atha, merupakan alat untuk mencapai segala sesuatu yang berhubungan dengan hamba,  bukan untuk mencapai Tuhan. Dengan kata lain, bahwa untuk dapat mencapai Tuhan, dibutuhkan suatu petunjuk (hidayah). Dan ini harus di mohonkan, sedangkan permohonan kepada Allah itu pun sudah merupakan hidayah, yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-Nya

Oleh karena itu, tidak sedikit umat Islam yang kemudian melirik  pada ajaran yang disebut tarekat. Yakni ajaran yang menekankan keseimbangan kehidupan, lahiriah dan batiniyah.

Secara harfiah, tarekat (al-thoriqoh) berarti jalan, cara, atau metode untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta, taqarruban ilallah yang sumbernya firman Allah:
    ”… Untuk tiap umat di antara kamu, Kami berikan jalan (tata cara pelaksanaanya) yang terang….” (QS. Al Maidah: 48)
. Dan firman-Nya lagi,
    ”Barang siapa berusaha dengan sungguh-sungguh (mujahadah) mencapai Kami (Tuhan), benar-benar akan Kami tunjukkan  jalan-jalan Kami.” (QS. Al Ankabut: 69).


Tarekat dapat juga dimaksudkan menjalankan kewajiban agama dengan cara lebih berhati-hati, dengan menjauhkan hal-hal yang subhat dan melakukan keutamaan-keutamaan ibadah sunah, setelah menjalankan ibadah wajib, seperti shalat tahajjud, shalat dhuha, shalat witir, shalat rawatib, puasa sunah, membaca Al Qur’an, bershalawat, dzikir, tasbih dan seterusnya.

Konsepsi tarekat tentang hidup tidak lepas dari konsepsi tasawuf pada umumnya. Tarekat merupakan bagian integritas dalam bentuk konstruktif, dan ditata menurut kadar psikologi manusia.

Dalam tarekat ada aturan main. Yaitu mewujudkan sikap hidup batiniah yang merasakan kehadiran Allah dalam hati. caranya dengan mengosongkan hati dari segala makhluk. Artinya, tarekat mempunyai konsepsi: kehidupan yang sebenarnya adalah hak dan milik Allah semata. Oleh karenanya, perbuatan ibadah manusia kepada Allah, harus tenggelam dalam samudera ke-Esaan-Nya (fii lujjati bahril wahdah). Hilang segala cirri pribadinya. Lebur dalam perasaan cinta (mahabbah) kepada Allah.

Dari sini sudah jelas bahwa tarekat merupakan polarisasi dari Islam, bukan suatu penyimpangan atau perbuatan yang di buat-buat dan sia-sia. Karena seorang ahli tarekat, dalam menjalankan ibadah, akan tetap berpegang pada doktrin-doktrin Islam sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi SAW. Kendati demikian, tidak tertutup kemungkinan adanya penyimpangan dalam ajaran tarekat.

Ada lima pokok yang perlu diperhatikan oleh penganut tarekat dari semua tarekat yang ada.
    Pertama, memperlajari ilmu pengetahuan yang terkait dengan pelaksanaan semua perintah yang baik yang sunah maupun yang wajib. Kedua, mendampingi guru-guru atau mursyid dan teman se-tarekat untuk melihat bagaimana cara melakukan sesuatu ibadah. Ketiga, meninggalkan segala rukhsah (kemudahan) dan takwil (utak-atik) untuk menjaga kesempurnaan amal. Keempat, menjaga dan mempergunakan waktu dan mengisinya dengan segala wirid dan doa untuk mempertebal khusyu’ dan hudur (kehadiran). Dan Kelima, mengekang hawa nafsu dan selalu menjaga diri dari kesalahan.


Ilmu dan amal dibagi dalam empat tingkat: syariat, tarekat, hakekat, dan makrifat. Tak satupun ulama sufi yang ajaran dan tarekatnya mendapat pengakuan, kalau ulama itu memperbolehkan penganutnya mengerjakan hanya salah satu dari empat tingkatan itu. Sebab, keempat tingkatan tersebut merupakan pelaksanaan agama Islam yang sempurna dan dilakukan secara professional. Syareat merupakan uraian, tarekat adalah pelaksanaan, hakekat ialah keadaan, dan makrifat adalah tujuan pokok, yakni pengenalan Allah yang sebenar-benarnya.

Kedudukan syaikh atau guru sangat penting dalam tarekat. Sebab ia tidak saja merupakan seorang pemimpin yang mengawasi murid-muridnya, agar tidak menyimpang dari ajaran Islam, tetapi juga merupakan perantara ibadah antara murid dengan Allah. Oleh sebab itu, jabatan ini tidak dapat dipangku sembarang orang, meski memiliki pengetahuan tentang tarekat. Yang penting, ia harus mempunyai kebersihan rohani atau orang yang mendapat amanat untuk membimbing murid-murid dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, seperti Syaikh Ahmad Al-Alawi, misalnya.

Syaikh Ahmad Al-Alawi, beberapa hari sebelum gurunya  wafat, Syaikh Sidi Muhammad Al-Al Buzdi, dalam tidurnya melihat seseorang masuk menuju ketempat ia duduk. Kemudian ia berdiri untuk menghormatinya dan mempersilahkan duduk sehingga keduanya duduk saling berhadapan. Tapi setelah Syaikh Al-Alawi melihatnya dengan jelas, ternyata orang yang berhadapan denganya adalah Rasulullah SAW.

Rupanya itulah yang membuat Syaikh Al-Alawi tertunduk terdiam, serasa menyesal karena tidak menghormati sebagaimana mestinya, sampai Nabi bersabda:
    ”Tak tahukah kau mengapa aku datang kepadamu?” Ia menjawab: ”Saya tak tahu mengapa, wahai Rasulullah.” Dan Nabi SAW pun bersabda: ”Sultan timur telah meninggal dunia, dan insya Allah kau akan menggantikanya menjadi sultan. Apa pendapatmu?” Syaikh itupun menjawab: ”Jika saya diberi kedudukan yang tinggi ini, siapa yang akan membantu saya, dan siapa yang akan mengikuti saya?” Lalu Nabi SAW menjawab: “Aku akan bersamamu, dan akan membantumu.”


Mendengar jawaban seperti itu, Syaikh Al-Alawi diam sehingga Nabi beranjak meninggalkanya. Syaikh Al-Alawi pun bangkit mengikuti kepergian Rasulullah, dan seakan-akan melihatnya terakhir kali, saat Nabi SAW pergi, dengan mata terbuka dan terjaga.

Kedudukan murid dalam tarekat tidak hanya berkewajiban mempelajari segala sesuatu yang diajarkan, tapi juga harus taat pada beberapa akhlak yang ditentukan untuknya.

Seorang murid tidak boleh sekali-kali menentang gurunya. Ia harus membesarkan kedudukan guru, baik lahir maupn batin. Seorang murid juga harus yakin bahwa tujuanya akan tercapai karena bimbingan gurunya. Oleh karena itu tidak boleh terpengaruh pada guru lain. Karena kalau sampai terpengaruh, maka akan menjauhkan ia dari mursyidnya. Dan si murid tadi tidak akan mendapat percikan “cahaya” (nadroh) sang guru.

Begitu patuh dan taatnya seorang murid tarekat, samapi ia tidak bisa menolak apa yang diperintahkan gurunya. Meskipun semua itu pada lahirnya tidak cocok dengan isis hatinya. Murid tarekat juga tidak boleh bertany, apa sebab gurunya berbuat demikian. Sikap dari seorang guru terkadang terlihat suatu gambaran yang kontra secara lahiriyah, namun secara batiniah itu adalah tindakan tepuji, seperti yang pernah terjadi pada Nabi Musa AS terhadap Nabi Khidir AS.

Mereka yang akan menggabungkan diri pada suatu tarekat hendaklah mengetahui nisbah atau hubungan guru-gurunya itu secara berantai sampai kepada Nabi SAW. Hal ini penting karena bantuan kerohanian yang diambil dari guru-gurunya tadi harus benar. Jika tidak benar (tidak berhubungan) sampai kepada Nabi SAW, maka bantuan itu dianggap putus dan tidak merupakan warisan (warotsah) dari Nabi SAW. Kemudian si murid tadi akan tersesat, tidak sampai pada tujuan, sebab syetan dapat masuk pada amalanya itu. Hal ini sangat berbeda dengan amalan shalawat yang digunakan untuk sarana atau jalan menuju wushul (sampai) kepada Allah. Sebab guru atau mursyid dari amalan shalawat itu ialas Shahibus shalawat itu sendiri, yakni Rasulullah SAW.

Silsilah itu merupakan hubungan nama-nama yang sangat penting yang bertalian satu dengan yang lain hingga sampai pada Nabi SAW. Silsilah yang sampai kepada Nabi itu ada yang melalui Abu Bakar RA, ada juga yang melalui Ali Bin Abi Thalib KW wa RA, Anas bin Malik RA atau sahabat yang lainya. Dari Nabi beralanjut ke Malaikat Jibril AS dan kemudian kepada Allah SWT.

Jika seorang mursyid mempunyai silsilah semacam itu, maka ia berhak mengajar tarekat pada orang lain. Syaikh Tarekat Sammaniyah misalnya, harus sampai kepada Muhammad Samman, yang kemudian kepada sahabat dan kemudian kepada Nabi. Demikian pula dari tarekat-tarekat yang lainya.

Dalam tarekat juga dikenal istilah wasilah atau wushul yang artinya perantara atau hubungan. Hal tersebut dilandasi oleh firman Allah:
    ”Carilah wasilah (perantara) yang (dapat) mendekatkan diri kepada-Nya.” (Al Maidah; 35).
Kemudian diambil pula perbandingan kisah Nabi SAW Mi’raj ke langit menjumpai Allah yang diantar oleh Malaikat Jibril. Mengantarnya Jibril ini dianggap wasilah. Disinilah ahli tarekat mengambil ibarat, bahwa mereka sebaiknya berwasilah kepada guru saat beribadah kepada Allah. Sehingga wasilah mempunyai arti khusus, yaitu jalan yang menyampaikan hambanya kepada Allah SWT.

Tarekat Naqsabandiyah mengartikan hakikat wasilah dengan tabaruk atau ‘mengambil barokah‘. Dan ini dikerjakan oleh murid-murid Syaikh An-Naqsabandi sebelum melakukan dzikir semacam ini,
    ”Yaa Allah! Aku memohon kepada-Mu dengan berkat Rasulullah SAW dan berkat guruku, agar engkau memberikan daku makrifat dan cinta kasih hatiku kepadamu.” (Kalau di Wahidiyah, redaksinya; Allahumma bihaqqismikal a’dham, wa bijaahi Sayyidina Muhammad SAW wa bibarokati Ghoutsi Hadzaz Zaman, wa a’waanihi wa sa-iri auliya-ika ya Allah, ya Allah, ya Allah radliallahu ta’ala ‘anhum).


Memang banyak aliran-aliran tarekat. Ada tarekat yang merupakan induk, yang diciptakan oleh tokoh tasawuf aqidah. Ada juga tarekat yang merupakan pecahan dari tarekat induk. Biasanya, ini sudah dipengaruhi oleh pendapat para Syaikh tarekat atau keadaan setempat atau keadaan bangsa yang menganut tarekat itu, yang tentunya memiliki corak dan ciri yang berbeda pula. Contohnya, penganut Tarekat  Maulawiyah yang di dirikan oleh Syaikh Jalaludin Rumi yang lebih dikenal di Barat sebagai ”The Whirling Dervishes” (Darwisy –penganut tarekat – yang menari-nari berputar-putar). Dan gerakan-gerakan dalam tarian itu merupakan tarian tradisional setempat yang secara turun temurun telah mendarah daging dalam diri murid-muridnya dan menjadi daya tarik langsung bagi mereka.

Dari sekian banyak tarekat, intinya tak lain untuk mencapai (memperoleh) makrifat atau menuju wushul kepada Allah SWT. Inilah akhir perjalanan mereka dan berada dalam derajat paling tinggi kesempurnaan manusia setalah Nabi.

Jika seorang hamba sudah sampai kepada kedudukan semacam ini, niscaya ia akan luruh (lebur) segala indera-inderanya. Yang ada hanya ke-Esaan-Nya semata, seperti disebutkan Hadits Qudsi:
    ”Hamba-Ku tak henti-hentinya mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan kepatuhan ikhlasnya (diluar ibadah wajib, yaitu sunah), sehingga Aku mencintainya. Dan bilamana Aku telah mencintainya; Aku Adalah Pendengaranya, yang denganya ia mendengar; dan Penglihatanya, yang dengan ia melihat; dan lidahnya, yang denganya ia berucap; dan Tanganya, yang denganya ia memikul; dan Kakinya, yang denganya ia berjalan.”


Dari hadits Qudsi diatas, tak dapat dibayangkan bagaimana kedekatan Tuhan kepada hamba-Nya. Sebagaimana Allah berfirman:
    ”Kami (Tuhan) lebih dekat kepadanya (manusia) daripada urat lehernya.” (QS. 50: 16).
Dengan begitu, sahabat Abu Ubaidah RA, mengatakan;
    ”Aku tidak pernah melihat sesuatu tanpa melihat Tuhan lebih dekat kepadaku daripada sesuatu itu.”
Inilah yang disebut makrifat.

Melalui shalawat Wahidiyah yang memiliki Faedah menjernihkan hati dan makrifat Billah, kita di tuntun untuk mendekatkan kepada Allah. Kedekatan yang lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Bahkan jika kita mampu menerapkan Lillah dan Billah, yakni dalam melaksanakan segala perintah senantiasa berlandaskan perintah Allah, dan menyadari segala gerak-gerik lahir dan batin, adalah atas kehendak Sang Maha Pencipta, kita termasuk muqarrabun (orang-orang yang dekat dengan Allah).

Shalawat Wahidiyah ditaklif (disusun) oleh Asy Syaikh Arif Billah Mbah KH. Abdul Madjid Ma’ruf, Qaddassallah Sirroh Radhliyallahu Anhu pada tahun 1963. Setelah beliau mendapat petunjuk langsung dari Rasulullah SAW, dalam keadaan sadar dan terjaga.

Bahkan amalan ini jauh lebih praktis dan mudah. Sebagaimana di dawuhkan oleh mualifnya sendiri sebagaimana difatwakan oleh Hadratul Mukarrom Romo KH. Abdul Latif Madjid RA, Pengasuh Perjuangan Wahidiyah pada HUT Shalawat Wahidiyah ke 34 beberapa tahun silam:
    ”Kalau ada amalan yang lebih mudah untuk wushul kepada Allah saat ini, selain amalan Wahidiyah, maka Mbah Yahi sanggup (bersedia) ikut dibelakangnya bersama seluruh Pengamal Shalawat Wahidiyah.”


Yang dimaksudkan amalan Wahidiyah disini tentunya tidak hanya sebatas mengamalkan shalawatnya, tetapi dalam prakteknya, juga harus mengaplikasikan ajaranya: Lillah-Billah, Lirrasul-Birrasul, Lilghouts-Bilghouts, Yuktikulladzi haqqin Haqqah, dan Taqdiimul fal aham tsumal Anfa’ fal Anfa’ di setiap aktivitas secara proposional serta menjaga adab, baik lahir maupun batin dengan sebaik baiknya.*





(Bahan bacaan: Wali Sufi Abad 20, Martin Ling, Mizan, Tarekat di Indonesia, Zaman. Ajaran Kaum Sufi, Al Kalabadzi)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar