Jumat, 09 Juli 2010

Menumbuhkan Sikap Tawadhu

Tawadhu adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun datangnya, baik ketika suka atau dalam keadaan marah. Tawadhu adalah salah satu akhlak mulia yang menggambarkan keagungan jiwa, kebersihan hati dan ketinggian derajat pemiliknya. Rasulullah SAW bersabda:


    ”Barangsiapa yang bersifat tawadhu karena mencari ridho Allah, maka Allah akan meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tidak berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barangsiapa yang menyombongkan diri, maka Allah akan menghinakanya, ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan babi.” (HR. Baihaqi).


Tawadhu adalah anugerah Allah yang tidak pernah diiringi dengki. Sedangkan kesombongan adalah penderitaan yang tidak membangkitkan belas kasihan. Orang mencari kemulian dalam kesombongan tak kan pernah mendapatkanya, dan orang yang tawadhu pasti akan mendapat kemuliaan walaupun ia tidak menginginkanya.

Manusia adalah tempatnya berbagai kelemahan, dan Allah meletakkan suatu kelebihan kepada orang tertentu dan meletakkan kekurangan kepada orang tertentu pula. Maka tidaklah mungkin ada orang yang sempurna dan tidak kekurangan. Orang yang rendah hati menyadari hal itu, sehingga ketika dia melihat saudara sesamanya memiliki sesuatau yang dia tidak miliki, maka dia akan tetap tenang dan tidak sakit hati. Hal ini bertolak belakang dibandingkan dengan orang yang sombong. Dia akan selalu gelisah dan merasa jengkel ketika dia melihat seseorang melebihi dirinya, entah hartanya, kecantikanya/ ketampananya, kedudukanya dan sebagainya.

Barangsiapa mau merendahkan hatinya di hadapan manusia dan Allah, maka tenanglah hatinya.

Seseorang belum dikatakan tawadhu kecuali jika telah melenyapkan kesombongan yang ada pada dirinya. Semakin kecil sifat kesombongan seseorang, semakin sempurnalah ketawadhuanya.

Kita adalah hamba Allah SWT, sungguh tidak pantas bagi seorang hamba berjalan di muka bumi dengan kesombongan. Allah berfirman:


    ”Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka.” (QS. Al Furqan: 63)


Dalam surat Asy-Syu’ara Allah SWT juga berfirman:



    ”Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara: 215).


Rasulullah SAW bersabda:



    ”Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan diri, sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berbuat dzalim atas yang lain.” (HR. Muslim)>


Sifat tawadhu tidak dapat diperoleh secara spontan, tetapi harus diupayakan secara bertahap, serius dan berkesinambungan. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh sifat tawadhu antara lain:

a.    Mengenal Allah SWT


    “Setiap manusia akan bersikap tawadhu’ seukuran dengan makrifatnya (pengenalanya) kepada Tuhanya.” Orang yang mengenal Allah dengan sebeenarnya akan menyadari bahwa Dialah Yang Maha Kuasa, Maha Kaya, dan Maha Perkasa, yang tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya. Bila ia mendapat kebaikan, ia memuji dan bersyukur kepada-Nya. Orang yang mengenal Allah akan mengakui bahwa dirinya kecil dan lemah, sehingga ia akan tawadhu dan merasa tidak pantas untuk berlaku sombong.


b.    Mengenal Diri


Langkah utama utnuk mengenal Allah SWT. Adalah mengenal diri kita sendiri. Dilihat dari asal-usulnya, manusia berasal dari sperma yang hina. Kemudian lahir kedunia dalam keadaan tanpa daya dan tidak mngetahui apapun. Karena itu manusia tidak berhak sombong. Ia harus bersikap tawadhu, sebab ia lemah dan tidak mempunyai banyak pengetahuan. Manusia dapat terjebak kepada kesombongan bila ia tidak menyadari kekurangan dan aib yang ada pada dirinya. Boleh jadi seseorang mengira bahwa dirinya telah banyak melakukan kebaikan, padahal ia justru melakukan kerusakan dan kedzaliman. Oleh karena itu, setiap muslim harus selalu melakukan intropeksi diri sebelum melakukan, saat melakukan, dan setelah melakukan sesuatu sebelum ia dihisab oleh Allah SWT kelak di hari Qiyamat Yaumul Hisab. Hal ini harus disadari atas kekurangan dan aib dirinya sejak dini, sehingga ia akan bersikap tawadhu dan tidak akan sombong kepada orang lain, terutama kepada Tuhan Allah SWT.

c.    Merenungkan Nikmat Allah


    Hakikatnya seluruh nikmat yang di anugerahkan Allah SWT kepada hamba-Nya adalah ujian untuk mengetahui siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur. Banyak manusia yang tidak menyadari hal tersebut. Banyak diantara kita diberi nikmat, baik berupa ilmu, harta, kedudukan, prestasi dan lainya, merasa bangga pada diri sendiri. Kekaguman pada diri sendiri adalah pangkal kesombongan. Karena itu kita perlu merenungkan atas nikmat Allah yang kita terima, sekecil apapun. Apakah kita syukur atau kita kufur. Dengan tawadhu dan hati-hati, kita mesti bersyukur dan bahkan mewaspadai jangan-jangan  kita masuk perangkap “istidraj”, perilaku yang akan berakibat fatal. Selain merenungkan nikmat Allah dalam usaha untuk menumbuhkan akhlak tawadhu, supaya merenungkan manfaat tawadhu.


d.    Meniru dan mencontoh keteladanan tawadhu yang dilakukan Rasulullah SAW dan para orang-orang saleh terdahulu, banyak berteman dengan orang-orang yang tawadhu (berakhlak baik)


Dengan tawadhu, hormat dan rendah diri yang dilakukan Rasulullah SAW, banyak orang yang tadinya benci dan memusuhi, akhirnya simpati, jatuh cinta dan banyak juga yang dengan rela hati masuk Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar