Rabu, 30 Juni 2010

IKHLAS

Ikhlas artinya adalah "murni" tidak ada campuran sedikitpun. maksudnya, didalam menjalankan amal ibadah apa saja disertai dengan niat yang ikhlas tanpa pamrih apapun. baik pamrih ukhrowi lebih-lebih pamrih duniawi, baik pamrih yang bersifat moril/ bathin lebih-lebih pamrih dalam bentuk material. Ibadah apa saja, baik ibadah yang berhubungan langsung kepada Alloh wa Rosulihi SAW. maupun yang berhubung didalam kehidupan masyarakat, terhadap sesama makhluk pada umumnya.
Ikhlas itu di kategorikan kedalam tiga tingkatan;
    -IKHLAASHUL-'AABIDIN
    -IKHLAASHUL-ZAAHIDDIN
    -IKHLAASHUL-'AARIFIN 
     
    "IKHLAASHUL-'AABIDIN"
Yaitu ikhlasnya golongan ahli ibadah. menjalankan ibadah dengan mengharap imbalaln pahala surga, takut neraka dan sebagainya. Ibadah memang bersemangat, tekun dan rajin akan tetapi di dorong oleh keinginan-keinginan pamrih itu tadi. Ya sudah ikhlas tapi minta upah. seandinya Alloh tidak menjadikan surga dan neraka, lalu apakah lagi yang diharapkan dan yang menjadi pendorong semangat ibadah. apakah lalu tidak melaksanakan ibadah, atau menjadi malas?. Disinilah negatifnya. Bahkan disamping negatif itu ada negatif lain yang lebih berat. Yaitu perasaan dan pengakuan diri mempunyai kemampuan dapat melakukan ibadah. dengan demikian pasti timbul 'ujub, riya', takabur dan sebagainya. dan ujub, riya' takabur dan sebagainya itu adalah pertingkah hati yang merusak nilai-nilai ibadah sehingga ibadah tersebut ditolak, tidak di terima Alloh SWT. Jangankan mendapat pahalanya, diterima saja tidak. Rugi besar. bahkan disamping ditolak, ibadah yang tertolak itu kelak di akherat dirupakan siksa untuk menyiksa yang bersangkutan. mari kita koreksi keikhlasan diri kita selama ini, dan mari kita tingkatkan kepada ikhlas yang lebih mulus lebih murni karena Alloh SWT.


    "IKHLAASHUL-ZAAHIDDIN"
Yaitu ikhlas orang-orang ahli zuhud (orang yang bertapa). Ada yang menyebut "IKHLAASHUL MUHIBBIN" yakni ikhlasnya orang-orang ahli Mahabbah. Yaitu menjalankan amal ibadah dengan ikhlas tanpa pamrih, tidak karena ingin surga dan tidak karena takut neraka. sudah benar-benar LILLAH, semata-mata "ibtghoo-an wajhalloh"= mengharap keridhoan Alloh. ikhlas seperti itu ya sudah baik, akan tetapi masih ada bahayanya. yaitu masih mengaku atau merasa mempunyai kemampuan dapat melakukan ibadah sendiri. Tidak merasa BILLAH. Pengakuan seperti itu sangat berbahaya sebab otomatis didalam hatinya lalu tumbuh cendawan-cendawan 'ujub, riya' takabur dan lain-lain yang merusak ibadah sehingga ibadahnya ditolak tidak diterima oleh Alloh SWT, sedangkan ia tidak merasa, bahkan mengaku ibadahnya sudah baik, paling ikhlas, paling mulus semata-mata karena Alloh!.
Maka ikhlas seperti itu harus ditingkatkan menjadi ikhlas ketiga yaitu :


    "IKHLAASHUL-'AARIFIN"
Mengerjakan ibadah semata-mata menjalankan perintah Alloh, tidak karena menengok pahala atau surga dan takut neraka. Betul-betul ikhlas LILLAAHI TA'ALA tanpa pamrih suatu apapun dan didalam menjalankan ibadah itu dia tidk mengaku dan tidak merasa dapat mlakukanya sendiri. melainkan merasa BILLAH. Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah. Inilah yang dimaksud kata-kata :
    "Yang dinamakan ikhlas yang benar yaitu tidak merasa ikhlas (meninggalkan ikhlas) didalam keadaan ikhlas.” "Meninggalkan ikhlas" artinya tidak merasa dirinya bisa berbuat ikhlas, melainkan merasa BILLAH. "Dalam keadaan ikhlas" artinya sungguh-sungguh LILLAH, tidak karena ingin surga atau takut neraka.
Dalil Al Qur’an yang menyebutkan keharusan ikhlas antara lain:
    “Sesungguhnya KAMI menurunkan kepadamu kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah(beribadahlah) kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) kepad-Nya.”(29-Az-Zumar: 3)
     
    “Pada hal mereka tidak disuruh kecuali supaya mereka menyembah beribadah kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan ikhlas kepada-Nya.”(98-Al Bayyinnah 5).
Bersabda Rosululloh SAW :
    “Berbahagialah orang-orang yang (beramal dengan) ikhlas, mereka adalah lampu-lampu petunjuk yang segala fitnah yang diserupakan dengan kegelapan menjadi kelihatan jelas dari (karena) mereka” (Riwayat Abu Nu’em Tsauban).
Ikhlas itu besar sekali pengaruhnya kepada manfaat tidaknya amal-amal ibadah atau perbuatan-perbuatan apa saja. Disebutkan di dalam Kitab Al Hikam :
    “Amal-amal ibadah itu (hanya) sebagai gambar hidup yang berdiri, dan jiwanya adalah wujudnya rahasia ikhlas didalam amal-amal ibadah itu.” (Al Hikam I: 11)
Kesimpulanya, amal-amal ibadah apa saja jika tidak dijiwai dengan ikhlas berarti tidak hidup, mati bagaikan bangkai tidak membawa manfaat sama sekali. Malah, maaf menjijikan seperti bangkai dan harus segera di kubur. Syeh Sahal At-Tustari berkata:

    (Semua manusia akan Hancur, kecuali yang berilmu : dan yang berilmu juga hancur kecuali yang mengamalkan ilmunya: yang berilmu dan sudah mengamalkan ilmunya juga akan hancur, kecuali yang ikhlas di dalam beramal itu dan yang sudah ikhlas pun masih dalam teka-teki besar)

Masih teka-teki maksudnya masih tanda Tanya, termasuk ikhlas yang mana diantara tiga tingkatan ikhlas tersebut di muka. Wallohu’alam…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar