Selasa, 07 Desember 2010

Adab Bergurau

Sebagai makhluk sosial, tentunya manusia tidak lepas dari komunikasi. Dalam berkomunikasi, seseorang hendaknya dapat memberi kesan yang baik dan menyenangkan bagi lawan bicaranya, sehingga lawan bicara tidak merasa bosan. Lebih-lebih bagi seorang muslim. Komunikasi yang baik sangat diperlukan. Karena ia membawa panji dakwah di tengah masyarakat. Oleh karena itu ia harus memiliki kepribadian yang mulia, berbudi pekerti yang luhur serta luwes dan fleksibel dalam pergaulanya agar mudah diterima lingkunganya.

Untuk menjadi suasana menjadi hangat dalam pergaulan, terkadang seseorang mewarnainya dengan candaan atau gurauan. Namun dalam bercanda juga ada aturan dan etikanya. Sebab canda yang berlebihan justru akan menjadikan efek yang buruk. Maka dari itu, dalam bersenda gurau kita harus memperhatikan etika dan batasannya.
Adapun etika dalam bergurau antara lain:

TIDAK BERLEBIHAN

Dalam bercanda kita tidak boleh berlebihan, sehingga menimbulkan orang lain merasa terganggu dengan sikap kita. Selain itu, gurauan yang berlebihan dapat menjadikan hati mati. Bercanda secara berlebihan juga dapat menjadikan  seseorang lupa waktu, sehingga dapat melupakan tugas-tugasnya. Dengan sikap demikian, seseorang sering menjadi teledor atau lalai. Dan kelalaian tersebut akan membuat dirinya menjadi celaka dan merugi.

Khalifah Umar RA pernah berpesan semasa beliau hidup,
    ”Barangsiapa yang banyak tertawa, maka akan berkurang wibawanya. Barangsiapa berlebihan dalam bersenda gurau, maka ia akan dilecehkan.”

TIDAK MENYAKITI ATAU MENYINGGUNG ORANG LAIN

Bercanda dengan keluarga, kaum kerabat, saudara, handai taulan dan teman, adalah di sunahkan, selama canda tersebut tidak menyakiti, menyinggung, meremehkan, dan menyusahkan orang lain. Sebab menyinggung atau menyakiti hati orang lain akan membuka pintu permusuhan. Bercanda yang menimbulkan sakit hati orang lain dilarang oleh Rasulullah SAW.

MENGHINDARI KEBOHONGAN DAN KEBATILAN
Dalam bercanda, janganlah membuat sebuah kebohongan atau cerita-cerita tentang sesuatu yang batil untuk di jadikan lelucon. Dalam sebuah majelis (pengajian), sering terjadi hal yang demikian sekedar bertujuan untuk membuat orang tertawa, atau untuk membuat sensasi. Dan biasanya, dalam cerita-cerita yang disampaikan tersebut mengandung kebatilan dan kesia-siaan. Perilaku demikian sangat dikecam oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Baihaqi,
    ”Celakalah bagi orang-orang yang menyampaikan kata-kata untuk orang-orang  tertawa. Lalu ia berdusta. Celakalah baginya, celakalah bagiunya.”

MENGETAHUI SITUASI DAN KONDISI

Dalam bercanda, hendaklah kita mengetahui waktu yang tepat. Apabila dalam keadaan serius, maka janganlah sekali-kali kita bercanda. Karena akibatnya suasana rileks dan santai yang kita harapkan malah akan berbalik menjadi suasana pertengkaran, sebab orang yang kita ajak untuk bercanda sedang serius mengerjakan sesuatu. Bercanda semacam ini dilarang oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana dikisahkan pada waktu terjadinya perang Khandaq. Saat itu, Zaid bin Tsabit RA memindahkan pasir bersama kaum muslim lain. Karena kelelahan, ia pun ngantuk dan tertidur. Salah seorang sahabat, yaitu Umarah bin Hazm mengambil senjata dari tangan Zaid bin Tsabit dengan pelan-pelan sehingga tidak terasa oleh Zaid. Memang tujuan Umarah berbuat demikian hanya untuk bercanda. Namun Rasulullah SAW mengetahuinya dan melarang Umarah berbuat demikian. Karena situasinya dalam keadaan perang, beliau khawatir apabila ada serangan mendadak.
Dari hal tersebut kita dapat mengambil hikmah. Bila dalam keadaan serius, maka janganlah kita bercanda.

RASULULLAH SAW SEBAGAI TELADAN

Rasulullah SAW adalah panutan umat Islam dalam segala hal. Kehidupan beliau tidak hanya diisi dengan gurauan-gurauan belaka. Tapi, beliau selalu menghadapi sesuatu dengan serius. Sebagaiman sabdanya, “Aku bukanlah orang yang suka bermain dan bersenda gurau, dan keduanya tidak berasal dari aku.” Tapi sebagaimana manusia pada umumnya, bukan berarti tidak pernah bercanda sama sekali. Dengan istri-istri beliau, dengan anak-anak, bahkan dengan orang tua pun kadang beliau juga bercanda sewajarnya.

Pernah diceritakan bahwa suatu ketika seorang nenek-nenek datang menghadap Rasulullah SAW. “Wahai Rasulullah SAW, doakanlah  agar aku masuk surga.” Rasulullah SAW menjawab, “Wahai nenek! Sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek-nenek.” Nenek tersebut bersedih. Tetapi Rasulullah SAW justru tersenyum. Buru-buru beliau menjelaskan bahwa di surga nanti semua orang akan kembali menjadi muda. Sehingga tentu saja penghuni serga semuanya muda. Nenek itupun lega hatinya. Allahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar