Selasa, 07 Desember 2010

ISTIQOMAH

Untuk menjadi seorang spesialis, seorang ahli, tentu membutuhkan sebuah proses yang cukup panjang dan berat. Paling tidak, kita butuh keseriusan pengorbanan waktu yang tidak sedikit. Tapi, dengan cara itulah kita baru dapat menikmati pekerjaan yang kita tekuni. Seorang profesor misalnya, terkadang lupa dengan lingkunganya karena telah menemukan sebuah kenikmatan luar biasa dari kerja yang telah dilakoninya selama  bertahun-tahun.

Meraih puncak kenikmatan ibadah kepada Allah pun tidak jauh berbeda dengan realita di atas. Perlu kesungguhan dan istiqomah. Ketika akan beramal, seringkali kita terjebak pada pilihan besarnya pahala amal ibadah semata, lalu mengabaikan niat dan keikhlasan serta kemungkinan kita mengulang amal itu di waktu yang lain. Padahal Rasulullah SAW pernah bersabda:
    “Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Muslim).

Seringkali pada saat-saat tertentu kita mengalami kondisi pasang, ibadah sangat giat, mujahadah pun  kuat semalam suntuk. Karena baru saja dapat motivasi yang membuat semangat terlecut. Di sini ada semacam pemaksaan diri, karena baru saja mendapat sebuah rangsangan. Bila daya rangsang itu habis, maka lenyap pulalah semangat ibadah itu.

Dalam konteks ini, setelah mendapat motivasi, memang seharusnya kita meningkat. Tapi yang diperlukan disini adalah peningkatan itu hendaknya bergerak stabil. Tidak sekali start langsung besar. Setelah itu pet, mati sama sekali. Perilaku seperti ini hampir sama maknanya dengan membebani diri sendiri. Kita lupa, bahwa dalam kesinambungan dan konsistensi beramal ada keistemewaan yang tak terduga; berupa nilai plus dihadapan Allah ketika kita berhasil menaklukan musuh dalam diri kita, yaitu nafsu.

Bayangkan, jika disetiap tengah malam yang gelap gulita, saat manusia terlelap dalam tidurnya, tapi justru kita terbangun melawan rasa kantuk untuk bermunajat kepada Allah SWT. Pantas jika kemudian Allah membalasnya dengan berbagai kebaikan dan kemuliaan. Seperti kata Rasulullah SAW,
    ”Shalatlah di tengah malam ketika manusia terlelap dalam tidurnya, maka kamu akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah)

Istiqomah adalah fondasi dari track yang akan kita buat. Siapapun yang ingin membangun kesuksesan, baik lahir maupun batin, ia harus memperbaiki keistiqomahanya.

Untuk menjadi seorang ‘ahli’; ahli ibadah, ahli mujahadah, ahli doa dan ahli apapun juga, termasuk ahli mahabbah dan makrifat, semuanya bertumpu pada niat, tekad dan istiqomah. Maka ketika kita telah memiliki sebuah pilihan untuk menjadi seorang ‘ahli’, selanjutnya marilah kita kuatkan niat dan tekad serta konsisten menapaki perjalanan kita.

Memang, adakalanya kita merasa sedang tak berdaya. Karena penurunan iman melanda diri sebab banyaknya maksiat. Hati kita kerap bolak-balik. Bagai gelombang, ada pasang ada surut. Akibatnya, terkadang ibadah kita istiqomah, tapi seringkali juga acak-acakkan. Disinilah letak area perjuangan kita.

Yang terpenting  adalah kita tidak boleh putus asa. Bila suatu saat kita terjerembab pada kemalasan, maka segeralah bangkit. Kita harus salalu siaga. Siaga dalam arti selalu antisipatif terhadap perubahan yang terjadi pada diri kita. Juga siaga dalam arti selalu memperhatikan perjalanan waktu dan kesempatan yang ada agar tak terlewat secara sia-sia.

Karenanya, agar keistiqomahan kita dalam semua aktifitas terjaga, buatlah sebuah perncanaan. Sebab perencanaan adalah bagian dari keberhasilan kita memanfaatkan momentum dan kesempatan. Sebuah langkah yang mungkin dianggap kurang berhasil, tapi bila sudah sesuai dengan rencana yang baik, itu masih lebih baik ketimbang sebuah  langkah yang mungkin berhasil tapi dilakukan tanpa rencana.

Kenapa? Karena hakekatnya perencanaan itu mengajarkan orang untuk lebih berhati-hati dan tidak ceroboh. Keberhasilan sebesar apapun bila dilakukan tanpa rencana akan mendidik orang untuk ‘menggampangkan’ sesuatu pekerjaan. Dan bila itu terjadi berarti ia akan terjatuh pada kesempatan yang lain.

Intinya, istiqomah adalah pondasi yang akan membuat kita senantiasa terjaga dalam jalur yang tepat. Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar