Selasa, 07 Desember 2010

Agar Istiqomah dalam Berjuang Tetap Terjaga


Kaum muslimin sepakat bahwa istiqomah sangat penting bagi keberhasilan sebuah perjuangan. Tanpa sikap istiqomah, semua cita-cita hanya akan menjadi mimpi kosong yang tidak akan mungkin terealisir. Bukan hanya itu saja. Sebuah karya perjuangan yang besar dan hebat dapat hancur karena tidak adanya sikap istiqomah di dalam perjuangan. Atau bisa jadi, sebuah perjuangan yang tulus dan cinta kepada kebenaran akan menjadi perjuangan untuk menegakkan kezaliman ketika sikap istiqomah hilang dari para pejuang kebenaran dan keadilan.

Yang menjadi masalah berikutnya adalah bagaimana menumbuhkan sikap istiqomah didalam perjuangan. Khususnya dalam konteks perjuangan Wahidiyah. Ada beberapa hal penting agar semangat perjuangan dapat selalu hidup dalam hati para pejuang Wahidiyah.

Pertama, membangun kesadaran bahwa perjuangan Wahidiyah pada dasarnya adalah perjuangan Islam dan bahkan perjuangan Rasulullah SAW. Dengan demikian, para pejuang harus sadar bahwa keterlibatan seseorang dalam perjuangan Wahidiyah akan dibalas oleh Allah dengan banyak anugerah, baik di dunia maupun di akhirat. Perjuangan Wahidiyah menjadikan seseorang mudah mendapatkan pertolongan Allah SWT. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an:
    ”Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah, maka Allah pasti akan menolong kalian dan akan mengokohkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad: 7).

Dengan kesadaran seperti ini, seseorang akan melihat bahwa keterlibatan dalam perjuangan Wahidiyah bukan merupakan beban kehidupanya. Sebaliknya, keterlibatan seseorang di dalam perjuangan merupakan salah satu cara untuk meraih pertolongan Allah SWT.

Perjuangan Wahidiyah juga menjadikan seseorang mendapatkan kemuliaan dunia akhirat. Hal ini sebagaimana firman Allah:
    ”Kalian adalah sebaik-baik ummat yang diturunkan atas manusia, mengajak manusia melakukan kebaikan dan mencegah manusia dari kemunkaran serta beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imraan: 110).

Dari ayat diatas, seharusnya para pejuang Wahidiyah memiliki keyakinan yang kuat bahwa keaktifan dalam perjuangan Wahidiyah merupakan sarana untuk mendapatkan prestise (kehormatan) sempurna, baik dalam pandangan Allah maupun dalam pandangan manusia. Para pejuang  Wahidiyah mestinya juga harus yakin behwa mereka tidak akan menjadi hina jika benar-benar tulus dalam berjuang mengikuti Hadratul Mukarrom Romo KH. Abdul Latif Madjid RA, Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo.

Salah satu cara untuk memperkuat keyakinan di atas adalah dengan melihat kenyataan di lapangan. Di sana banyak kader-kader perjuangan yang oleh Allah diberikan kemudahan dalam urusan hidupnya. Mereka diberi rumah tangga yang sakinah, anak yang shaleh dan shalehah serta kecukupan rezeki. Sementara disisi lain, banyak masyarakat yang tidak peduli dengan perjuangan, hidupnya penuh dengan berbagai permasalahan yang tidak kunjung selesai. Sebagaian mereka bermasalah dengan keluarganya, sebagaian yang lain bermasalah dengan anak-anaknya. Dari sikap diatas, Insya Allah akan tumbuh semangat baru untuk terlibat lebih aktif dalam perjuangan Wahidiyah.

Kedua, membangun kesadaran bahwa andaikan seseorang meninggalkan gelanggang perjuangan Wahidiyah, dan kemudian dia berdiam diri tanpa berbuat sesuatu untuk perbaikan ummat, maka keadaan akan lebih buruk lagi. Baik untuk dirinya sendiri maupun untuk ummat secara keseluruhan. Bencana demi bencana serta kesulitan demi kesulitan silih berganti akan menimpa dirinya.

Ketika seseorang meninggalkan gelanggang perjuangan, bararti ia telah meninggalkan barisan menyeru kebaikan dan pencegah kemunkaran (amar ma’ruf nahi munkar). Padahal ancaman Allah SWT terhadap mereka yang meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar sangatlah serius. Pada tataran pribadi, ia akan mendapatkan laknat Allah SWT sebagaimana fatwa Hujjatul Islam Imam Al Ghazali RA:
    ”Jika kemunkaran telah Nampak secara terang-terangan sedangkan orang alim (mengerti) diam saja, maka dia yang akan dilaknat Allah SWT.” (Sirojut Thalibin, I: 193/ Kuliah Wahidiyah 196).

Dalam tingkat keluarga, ketika seseorang tidak perduli dengan perjuangan, maka kemunkaran teresebut suatu saat bisa memasuki rumahnya dan menimpa anggota keluarganya. Sebagaimana Nampak pada beberapa keluarga orang-orang shaleh dalam masyarakat kita. Mungkin karena faktor ekonomi sehingga mereka cukup berpuas diri dengan ibadah individual tanpa memperdulikan apa yang terjadi dilingkunganya. Sehingga tanpa terasa anaknya menjadi korban dari tersebarnya kemunkaran dalam masyarakat.

Sedangkan dalam tataran masyarakat, ketika amar ma’ruf nahi munkar ditinggalkan, sehingga kemaksiatan Nampak tanpa takut dan malu dari pelakunya, maka Allah akan menimpakan siksa kepada masyarakat secara merata. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
    ”Tidaklah sebuah kaum yang didalamnya ada orang yang melakukan kemaksiatan sedangkan mereka mampu mencegahnya kecuali Allah akan menyiksa mereka secara keseluruhan sebelum mereka meninggal. (Tanbihul Ghofilin hal. 32).
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda,
    ”Allah SWT memberikan wahyu kepada Jibril AS, ‘Wahai Jibril, balikkan kota ini dan kota ini beserta sekalian penduduknya’! Jibril AS bertanya, ‘Yaa Allah, bukankah di sana ada hamba-Mu fulan yang sekejap pun tidak pernah maksiat kepada-Mu?’ Allah menjawab, ‘Balikkan ia dan mereka (penduduk kota) karena wajahnya tidak pernah berubah (menjadi marah) sama sekali ketika terjadi maksiat secara terang-terngan’.” (HR. Al  Bayhaqi/Irsyadul Ibaad hal. 72).

Dari hadits diatas, maka kita bisa memahami mengapa lumpur panas masih belum berhenti keluar dari porong. Padahal disekitar lokasi lumpur Lapindo tersebut banyak juga orang-orang yang mengisi hari dengan membaca Al Qur’an atau melaksanakan shalat sunnah atau berdzikir dan lain-lain. Kita juga bisa memahami mengapa terjadi Tsunami di Aceh padahal daerah ini dikenal dengan sebutan serambi Mekkah. Dan disana juga banyak Madrasah Diniyah (Dayah) serta masjid-masjid tak terhitung banyaknya. Mungkin saja semua ini karena masyarakat tidak memperdulikan tersebarnya kemunkaran dilingkunganya.

Ketiga, hendaknya para pejuang Wahidiyah banyak membaca atau mendengarkan kisah-kisah keistiqomahan (kekonsistenan) para salaf shalih didalam menegakkan kebenaran. Apa yang mereka alami dalam perjuangan saat ini, baik itu berupa cobaan materi atau keluarga atau tekanan lingkungan sangatlah ringan dibandingkan dengan cobaan dan hambatan para pendahulu dakwah.

Di antara para salaf ada yang disiksa secara fisik, seperti Bilal atau Ammar bin Yasir. Sebagian yang lain ada yang dirampas hartanya, seperti Shuhaib bin Sinan. Sebagian ada yang cacat didalam dakwah. Sebagian yang lain harus menahan kelaparan yang sangat karena blockade ekonomi yang ketat. Bahkan sebagian yang lain ada yang mati dalam menegakkan Islam.

Sedangkan apa yang dialami saat ini sangatlah kecil dibandingkan para pendahulu dakwah diatas. Walaupun saat ini ada cobaan, toh kita masih bisa makan. Kita juga tidak mengalami siksaan fisik atau pun boikot sosial yang mengancam keselamatan nyawa kita. Bahkan sebenarnya perjuangan saat ini relatife tidak ada hambatan. Ketika ada hambatan fisik, masih ada polisi yang melindungi masyarakat. Ketika ada cacian, masih ada pintu dialog atau bahkan perdebatan terbuka. Sehingga sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak terlibat aktif dalam perjuangan.

Keempat, bergaul dengan mereka yang memiliki semangat perjuangan dan mampu memberikan semangat kepada kita. Sebagaimana kita ketahui, teman memiliki peranan penting dalam memacu semangat hidup manusia. Ketika seseorang mempunyai teman yang baik, maka ada kecendrungan kuat bahwa ia memiliki semangat untuk melakukan kebaikan. Bahkan tidak jarang tanpa melakukan pertemanan, tanpa pernah melakukan dialog dan tukar fikiran serta hanya sekedar memandang orang yang baik banyak menusia tertarik dan bersemangat untuk melaksanakan kebaikan.

Sebaliknya, ketika seseorang memiliki semangat yang rendah dalam berbuat kebaikan, maka ada kecendurngan yang kuat pula bahwa seseorang tersebut akan lemah semangat juangnya. Bahkan seseorang yang memiliki semangat yang kuat akan bisa menjadi penghianat menakala ia berteman dengan seorang penghianat. Bahkan banyak pula manusia bisa semangatnya untuk melaksanakan kebaikan menjadi hancur hanya karena melihat keadaan orang yang tidak memiliki semangat untuk berbuat kebaikan. Karena itulah, Rasulullah SAW mengingatkan:
    ”Perumpamaan teman yang shaleh dengan teman yang buruk seperti orang yang membawa minyak wangi dan peniup ububan pandai besi. Pembawa minyak wangi adakala memberikan kepada anda wangi-wangian, ada kalanya Anda membeli minyak wangi darinya dan ada kalanya kalian menemukan bau wangi padanya. Adapun peniup ububan pandai besi, maka adakalanya baju Anda terbakar dan adakalanya Anda menemukan  darinya bau yang busuk.” (HR. Bukhari).
Pada bagian lain Rasulullah SAW bersabda:
    ”Seseorang itu akan berada diatas agama teman dekatnya. Maka hendaknya kalian melihat kepada siapa ia berteman.” (HR. Bukhari).

Dalam masyarakat kita apa yang disinggung oleh Rasulullah SAW diatas banyak terjadi. Anak-anak sekolah yang berasal dari keluarga baik-baik karena mendapatkan teman yang tidak baik di sekolahnya maka akhirnya ia menjadi anak yang tidak baik. Sebailiknya, ada anak yang berasal dari keluarga kriminal kemudian masuk pesantren. Akhirnya karena faktor pertemanan ini pula anak tersebut menjadi anak yang baik.

Bahkan pertemanan dan kunjungan kepada orang yang sudah meninggal memiliki dampak kepada mereka yang melakukanya. Dalam konteks ini pulalah, menziarahi kuburan orang-orang shaleh menjadi penting dalam membangun semangat perjuangan. Seseorang yang berziarah ke kuburan pejuang bukan hanya sekedar untuk mendoakan. Namun dapat juga terjadi transfer semangat dari mereka yang meninggal kepada penziarahnya. Walaupun hal ini tidak selalu demikian keadaanya, namun pada umumnya hal ini berlaku pada kebanyakan manusia.

Cara Kelima, dalam menjaga dan membangkitkan semangat perjuangan adalah dengan usaha batiniyah. Usaha ini bisa dilakukan dengan memperbanyak doa kepada Allah SWT. Di dalam Wahidiyah, usaha ini dikenal dengan istilah Mujahadah. Hal ini karena memang segala gerak dan keadaan manusia, baik lahir maupun batin merupakan akibat dari perbuatan dan kekuasaan Allah SWT. Dalam Aqidah Ahlus Sunnah Wal jama’ah, seseorang bisa berbuat baik karena Allah SWT mencintainya. Sehingga dengan cinta tersebut ia gerakkan untuk berbuat kebaikan. Demikian pula ketika seseorang berbuat kejahatan, maka pada dasarnya Allah sedang menjauhkan orang tersebut dari cinta-Nya.

Dari cara berfikir inilah, maka kemudian tumbuh rasa butuh akan bimbingan dan pertolongan Allah SWT dalam menjaga iman dan semangat perjuangan kita. Rasulullah SAW mengajarkan dan memberi contoh hal ini kepada kita. Salah satu doa yang beliau baca setelah shalat adalah sebagai berikut.
    ”Yaa Allah, tolonglah kami untuk mengingat-Mu… untuk mensyukuri-Mu dan untuk beribadah dengan baik kepada-Mu.”
Pada bagian lain, beliau juga mengajarkan doa agar selalu diberi semangat dengan doa sebagai berikut.
    ”Yaa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesedihan dan kesusahan dari keadaan lemah dan malas dari kepengecutan dan kekikiran dari tindihan hutang dan dominasi para penindas.”

Dalam Wahidiyah, Hadratul Mukarrom Mbah KH. Abdul Madjid Ma’ruf QS wa RA Mualif Shalawat Wahidiyah memberikan Aurad Mujahadah Peningkatan. Semua ini merupakan bentuk-bentuk upaya peningkatan semangat perjuangan dalam bentuk doa sebagaimana Rasulullah SAW juga memohon kepada Allah SWT peningkatan semangat berjuang dengan berdoa.

Akhirnya, sesungguhnya perjuangan Wahidiyah membutuhkan semangat yang terus menyala-nyala dan ikhlas tanpa pamrih. Karena perjuangan ini bukan sebuah perjuangan kecil dan bukan memiliki rentang waktu pendek. Tapi perjuangan raksasa dan dengan rentang waktu panjang hingga  hari akhir nanti. Semoga Allah SWT memilih kita untuk terlibat didalamnya sehingga kita tidak menyesal di akhirat nanti. Amien..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar